Viky Sianipar : Musik Etnik Harus Mendunia

Browse By

Penulis : Dana Anjani | Foto : Dok.Pribadi

Musik tradisional sempat dianggap sebagai musik jaman dulu yang hanya digemari oleh orang lanjut usia. Tapi siapa sangka, lewat tangan dinginnya, musik tradisional Indonesia digubah menjadi modern, easy listening, dan disukai anak muda, meski tanpa menghilangkan makna yang ada di dalamnya.

Jika kita bicara tentang dunia musik tanah air, memang tak lengkap jika tidak menyebut nama seorang Viky Sianipar. Sejak tahun 2002, ia pun dikenal sebagai musisi yang konsen terhadap musik etnik, khususnya musik Batak. Siapa sangka, jika putra dari pasangan Monang Sianipar dan Elly Rosalina Kusuma ini mulai menyukai seni musik sejak berumur 5 tahun. Mencium bakat musiknya sejak kecil, kedua orangtuanya pun menghadiahkannya sebuah piano upright. Hingga kemudian ia menempuh pendidikan musik klasik di Yayasan Pendidikan Musik (YPM) pada tahun 1982 untuk mempertajam kemampuan bermusiknya. Lepas dari YPM, ia mulai mempelajari musik aliran pop rock, lalu beralih pada musik jazz di sekolah musik Farabi. Kemudian, ia mulai mempelajari musik secara otodidak.

Lulus SMA pada 1995, Viky kemudian meninggalkan Indonesia dan terbang ke San Fransisco untuk mempelajari bahasa Inggris. Disana pula ia mulai mengasah musikalitasnya dengan mengikuti kursus gitar blues. Lalu di tahun 2002, Viky mencoba menggeluti world music, dimana ia harus memadukan musik tradisional dengan musik modern. Semua itu berawal dari rasa keingingtahuannya tentang not-not tradisional terutama Indonesia yang sangat beragam, terutama musik Batak, Jawa, dan Sunda.

KOVER pun mencoba mengulis banyak hal tentang pria kelahiran Jakarta, 26 Juni 1976 ini. Lewat milis, ia menceritakan banyak hal tentang musik yang selama ini ia geluti. Pada tahun 2002 ia mengawali debutnya di jalur musik etnik. Ia saat itu dipercaya menjadi music director di sebuah acara bertema peduli lingkungan yaitu ‘Save Lake Toba’ yang bertempat di Danau Toba, Sumatera Utara. Dari acara yang diselenggarakan tersebut, ia mulai membuat konsep bagaimana agar lagu-lagu Batak dikemas dengan aransemen modern namun tanpa menghilangkan esensinya. Dari keterlibatannya dalam event tersebut, Viky kemudian merilis album solo perdananya yang berjudul ‘Toba Dream’.

Setelah merilis album perdananya, beragam reaksi pun dialamatkan pada Viky. Ada yang kagum tapi ada juga yang mencemooh bahkan memberinya julukan sebagai musisi perusak lagu Batak. Mendapat tudingan negatif seperti itu sempat membuatnya berkecil hati, namun berkat dukungan dari sahabat, keluarga, dan rekan-rekan sesama musisi World Music, ia pun tetap melanjutkan karyanya. Menanggapi kritik dan dukungan yang mengalir padanya, ia hanya menyatakan jika membuat sesuatu yang baru itu pasti ada pro dan kontra.

Menurut Viky, yang ia lakukan selama ini adalah mengikuti hasratnya dalam mengembangkan musik yang ia cintai. “Passion-ku adalah musik, dan yang aku lakukan selama ini adalah follow my passion,” katanya mantap. Ia pun mengaku bukan penganut prinsip Work Hard, melainkan Work Smart.  Menurutnya, memilih bidang musik dengan saingan yang begitu besar di Indonesia, justru menciptakan suatu ketidakpastian akan keberhasilan yang di dapat.

” Itu fakta, caraku untuk Work Smart adalah dengan memilih jenis musik yang orang tidak lakukan. Pada saat itu (2002) tidak ada yang melakukan pengemasan ulang lagu-lagu dan musik tradisional untuk generasi muda dan ABG. Maka jalur musik itu yang aku pilih,” ucapnya. “Aku berangkat dengan mempelajari musik etnik Indonesia, termasuk Batak, secara globalnya saja. Kemudian saya kemas ulang sesuai selera generasi muda Indonesia yang kebarat-baratan tanpa menghilangkan esensi musik daerah aslinya,” tambahnya lagi. Kesukaannya pada jenis musik ini pula lah yang membuatnya terus bertahan dan berkarir dalam musik etnik.

Ia pun mengakui besarnya penerimaan masyarakat Indonesia terhadap world music selama ini. Hal itu terlihat dari banyaknya even-even World Musik di seluruh Indonesia sampai sekarang, penjualan CD/VCD/DVD/Digital Download yang cukup besar, hingga diterimanya penghargaan Album World Musik Terbaik di AMI Award pada tahun 2015 untuk kategori Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah Terbaik.

Tantangan Mengembangkan Musik Etnik

Mendalami dan mengembangkan musik etnik selama ini, Viky pun mengaku bahwa jalan yang ia lalui tak selamanya mulus. Beberapa kendala pun sempat ia temui seperti tidak adaknya buku/teori yang mampu mendukung, musisi tradisional yang jumlahnya terbatas, hingga orang-orang yang berusaha menjatuhkannya di awal karir. Namun menurutnya, kendala paling besar adalah pada dalam dirinya sendiri. Yaitu rasa percaya dirinya, yang kadang pudar seiring dengan proses yang dijalani. Tapi dengan tekad yang kuat, ia pun mampu keep on track terhadap apa yang telah ia pilih.

Mengawinkan musik tradisional dengan modern yang kemudian dikemas dalam sebuah album, menurut Viky, prosesnya tak semudah membuat album pop modern. Untuk menggarap sebuah karya berkualitas ada beberapa tahap yang harus dilaluinya. Pertama ia harus mensurvei dulu musik dan daerahnya untuk mengetahui apa saja aturan yang terkandung di dalamnya. Kedua, setelah menemukan musik yang dianggap cocok, ia kemudian memilih lagi mana yang bisa dipadukan dengan musik modern. Agar albumnya terkemas dengan baik, ia mengaku tidak pernah mematok target khusus, semuanya dibiarkan mengalir apa adanya. Menurutnya, agar bisa mengkolaborasikan musik tradisional dengan musik modern Viky harus tahu dulu isi dari lirik sebuah lagu tradisional agar pesan yang hendak disampaikan mudah diserap para pendengar. Selain itu pemilihan instrumen musik juga memegang peranan yang tak kalah penting.

“We are on the right track,” tandasnya mantap ketika ditanya bagaimana perkembangan musik Indonesia dari kaca mata seorang musisi. Menurutnya, jika dilihat  di sekitar tahun 80-an, musik Indonesia masih mendapat porsi yang kecil sekali di play list radio, dan tv. Namun saat ini, kondisinya sudah berbalik. Music Indonesia telah mampu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Bergelut di dunia musik sejak duduk di bangku sekolah, hingga sukses dan dikenal orang sebagai salah satu musisi berprestasi, Viky pun mengaku sempat mengalami down. “Rumput tetangga lebih hijau. Di saat aku melihat musisi lain dengan kegemilangannya, kadang membuatku tergiur untuk menjadi seperti mereka,” ujarnya. Hal ini pun sering men-distract pikirannya, sehingga ia sempat berkeinginan untuk menjadi seperti musisi-musisi lain.

“Setelah dilakukan, saya baru bisa melihat kenyataan yang sebenarnya. Bahwa kegemilangan yang sebenarnya bukanlah ketenaran dan uang, melainkan di saat karya kita dapat mengubah hidup orang lain menjadi lebih baik,” papar suami dari Deasy Puspitasari ini. Ia pun mengaku telah mendapatkan penghargaan terbesarnya sebagai seorang musisi, yaitu merubah generasi muda Batak untuk tidak malu lagi dan bangga telah menjadi orang Batak. Ia juga berkeinginan untuk makin mengembangkan musiknya, dan memperkenalkan budaya musik asli Indonesia kepada dunia internasional.

Keluar Dari Zoba Nyaman

Sebagai musisi berdarah Batak, ia pun memberikan banyak pandangan untuk perkembangan musisi Kota Medan. Menurutnya, membangun musik etnik tidak lepas kaitannya dengan membangun manusia lokalnya. “Selama manusia lokalnya masih belum mengenal potensi daerahnya, sebaiknya lupakan saja usaha untuk membangun musik etnik,” tegasnya. Indonesia yang masih Jakarta sentris pun mau tidak mau mengharuskan musisi Medan untuk datang ke Jakarta. Karena menurutnya, hanya di ibukota lah, yang memungkinkan untuk adanya interaksi dengan berbagai macam manusia, kultur, pola piker global, dan pengalaman-pengalaman baru lainnya. Semakin seseorang mampu keluar dari zona nyaman, maka ia juga akan makin mengenal potensi yang ada di dalam dirinya, dan potensi yang ada di daerah asalnya.

“Semakin kenal siapa diri kita, termasuk mengenal apa itu Medan dan sekitarnya, apa potensinya, maka semakin mudah pula bagi kita untuk mengambil keputusan apa yang harus kita kerjakan untuk membangun music etniknya,” paparnya. “Tapi ingat, setelah berhasil, jangan lupa untuk kembali ke Medan dan bantu generasi musisi yang lebih muda untuk menemukan jalannya masing-masing,” tambahnya lagi.

Maraknya pembajakan musik di tanah air, dimana cd/vcd bajakan bisa ditemukan bahkan hingga ke desa-desa, Viky pun menuturkan beberapa hal yang bisa dilakukan dan cermati untuk menanggulanginya. Yaitu dengan berangkat dari diri sendiri untuk tidak memakai produk-produk bajakan, tidak membiarkan orang lain ‘membajak’ impian pribadi kita, dan berangkat dari diri sendiri pula untuk punya rasa peduli terhadap sekitar. “Selama hal-hal tersebut belum mampu dilakukan, maka tidak usahlah meributkan pembajakan, terima saja kenyataannya,” pungkasnya pula.

Viky yang kerap mengisi musik untuk sejumlah musik pun juga memiliki rencana untuk membawa produk terbarunya “Toba Rock Concert” keliling Indonesia, dan membawa “Toba World Concert” keliling dunia. Ia juga masih merencanakan tour Sumatera dan tour Eropa yang hingga saat ini masih dalam proses penggodokan. Karya musiknya yang telah booming selain serial TobaDream, adalah album Indonesian Beauty yang berisikan World Music dari seluruh Indonesia. Album ini bisa didapatkan lewat iTunes atau www.vikysianipar.com untuk pengiriman cd fisik.