Tiffany, The New Rising Star From Medan

Browse By

Penulis Parada Al Muqtadir | Fotografer Andru Kosti

Paras cantik dan hidup bak putri raja adalah idaman setiap wanita, namun tak semua takdir berjalan beriringan dengan kehendak. Begitu pula yang dialami dara cantik berwajah oriental satu ini. Keinginannya untuk menjadi model profesional acap kali ditentang keluarga, tapi kini kesabaran itu pun berbuah manis.

Langkah ringan disusul sapaan ramah menghampiri tim KOVER siang itu. Sosoknya yang begitu bersahaja, tak tampak sedikit pun raut jumawa sebab telah memenangkan suatu penghargaan bergengsi taraf nasional. Kami pun berbincang hangat soal pengalamannya di dunia modeling.

“Awalnya sih hanya iseng saja, coba kumpulin berkas lalu kirim foto, bahkan untuk masuk seratus unggulan pun tak ada kepikiran,” ucapnya membuka percakapan sore itu.

Ia pun mengaku sempat tak percaya kala dihubungi oleh pihak panitia, tak heran jika saat itu rasa senang, cemas dan tak percaya membaur menjadi satu, sebab ia takut langkahnya untuk melakoni profesi model tak direstui oleh keluarga.

“Waktu ngumpulin berkas saja, papa itu udah bilang jangan, lalu saat pengumuman 150 besar, papa hanya bilang ‘oh’ doang, selanjutnya masuk 40 besar dan interview ke Jakarta, disitu papa melarang karena takut saya tak mau balik lagi ke Medan,”ucapnya

Saat itulah sebenarnya ujian baginya, disatu sisi orang tua melarang, disisi lain ia ingin meraih cita-citanya. Ia pun akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari zona amannya, dan mengikuti proses seleksi ke Jakarta dengan biaya sendiri, “Tapi waktu ke Jakarta tetap ajak mama, biar mama lihat proses seleksi yang cukup berat,” tambahnya.

“Semenjak tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) sebenarnya aku pengen banget ke Jakarta, dan terjun ke dunia entertaiment, karena di sana peluangnya cukup besar, tapi orang tua belum kasih izin,” tambahnya. Ajang Top 3 Putri Pariwisata Sumatra Utara 2016 dan UPH Female Ambassador 2016 pun menjadi bukti keseriusannya kepada orang tua, guna mendapatkan kepercayaan.

Walau sempat canggung pada malam puncak, tapi ia tetap optimis karena tak ingin melewatkan kesempatan emas ini, “Saya tak ingin mengulang kesalahan yang sama, kalah karena minder punya wajah oriental, mata sipit dan logat bahasa yang medok, mungkin bagi sebagian orang itu kelemahan, tapi buat saya itulah yang membedakan saya dengan finalis lainnya,” cerita wanita berpostur 171 cm itu.

Perjuangan putri pasangan Rudy Tjoe dan Rosina Tandana akhirnya berakhir manis, dengan disematkannya selempang hitam bertuliskan Pemenang Wajah Femina 2016 . Walau ini bukan kali pertama Medan menjuarainya, tapi Tiffany sukses mengukir sejarah baru, yakni back to back, yakni dua kali berturut-turut penghargaan ini menjadi milik kota terbesar nomor tiga di Indonesia.

Wanita yang mengidolakan Dominique Diyose, sempat bercerita bahwa awalnya mendaftarkan diri ke sekolah model adalah untuk  memperbaiki postur tubuhnya yang bungkuk, “Kelas dua SMA, aku disuruh mama untuk ikut les modeling, awalnya yang gak suka pakai high heal pun perlahan harus dibiasakan, nah dari situ perlahan memberanikan diri untuk mencoba lomba modeling, walau tak menang setidaknya melatih kepercayaan diri,” imbuhnya.

Pindah dari satu kontes lomba ke lomba lain, akhirnya membawa langkahnya pada kontes pencarian bakat model di Jakarta, di sanalah ia mencicipi cibiran pahit dari juri, “Kamu itu bisa masuk tahap ini karena cantik doang,” ujarnya sembari menirukan logat juri saat itu, ia pun tak patah arang dan menjadikan itu sebagai cambukan untuk lebih baik lagi.

Ditanyai soal pilihan pendidikan yang tidak mengambil jurusan sejalan dengan karirnya, ia pun punya jawabannya, “Orang tua hanya membolehkan saya untuk kuliah di Medan dan harus perguruan tinggi swasta, dan Universitas Pelita Harapan (UPH) Medan memang sudah diakui kualitasnya,” ucapnya.

“Memang sih jurusan akuntansi tak berperan banyak di dunia modeling, tapi saat saya mengikuti tahap demi tahap proses seleksi di Jakarta, setidaknya saya bisa mengatur keuangan dengan baik,” tambahnya.

Kini, setelah menyandang gelar Wajah Femina 2016, ia pun merasakan perbedaan yang cukup drastis dalam hidupnya, “Dulu banyak orang yang sinis memandang sebelah mata, tapi kini lebih banyak yang peduli, dari sana juga belajar untuk mencapai cita-cita itu tidak gampang, dan untuk karir ini adalah langkah awalnya,”ucapnya.

Baginya, agar sukses dalam dunia modeling tak cukup punya paras cantik saja, “Tidak harus cantik, hanya perlu menjadi diri sendiri dan tetap menjaga atitude, karena di dunia model tidak hanya dilihat kamu cantik atau tidak, tapi lebih dilihat kamu unik atau tidak,” tutur wanita yang fasih berbahasa Hokkien ini

Selain menjadi seorang model, Tiffany kecil pun sempat bercita-cita menjadi seorang penyanyi. “Waktu kecil aku ikut paduan suara, karena awalnya ingin menjadi penyanyi, walaupun berbeda dengan yang aku gel

uti saat ini, setidaknya masih di dunia entertaiment,” akunya sambil tertawa.