Stip, Pensil, dan Penutup Ajaib

Browse By

Sampai pertengahan film, Stip dan Pensil punya potensi sangat besar andai kata separuh akhir filmnya konsisten.

Reviewer: Lazuardi Pratama Foto: Spesial

Ada sekian alasan tertentu mengapa aku memilih untuk menonton Stip dan Pensil (kita sebut saja SdP) sebelum membeli tiket di loket. Pertama, naskahnya ditulis oleh Joko Anwar; kedua, Ernest Prakasa punya jejak rekam yang bagus dalam film komedi; dan ketiga, SdP membawa tema yang menarik dan relevan untuk dibahas dalam konteks kekinian.

Normalnya, melihat kalimat pemasaran film ini tentang skrip yang ditulis oleh Joko Anwar sebenarnya sudah cukup menarik perhatian. Akan sangat menarik melihat bagaimana hasil karya Jokan yang selama ini populer dengan genre horor, thriller, dan fantasi. Jokan bukan tak pernah menulis komedi, Janji Joni (2005) contohnya.

SdP yang judulnya lebih mirip judul cerita dongeng ini mengambil kisah empat remaja sekolah menengah atas yang berandal dan sok paten hanya karena keempatnya lahir dari orang tua berada. Toni (Ernest Prakasa) adalah pemudi yang menyelesaikan persoalan dengan uang, ia juga tampak selalu bersemangat. Ada pula Aghi (Ardit Erwandha), pemuda stay calm, stay cool dan selalu lebih waras ketimbang tiga temannya yang lain. Yang lain, Saras (Indah Permatasari) adalah pemudi yang sebenarnya baik hati, namun dalam keadaan tertentu cenderung vandalistis. Terakhir, ada Bubu (Tatjana Saphira) yang memerankan cute but dumb girl dan jadi eyecandy film ini.

Awalnya sederhana, keempatnya disuruh menulis esai tentang kesadaran sosial. Namun akhirnya terprovokasi untuk membuktikan langkah kongkret dalam rangka membuat esai tersebut jadi kenyataan. Mereka berencana membuat sekolah darurat di daerah kaum miskin kota. Tapi semuanya tak berjalan lancar selancar duit yang keluar dari dompet mereka.

Separuh awal SdP berlangsung dengan lancar jaya. Humor-humor yang dibawakan cukup segar, thanks to Ernest Prakasa yang ekspresi naturalnya memang komikal. Tapi aku kira Joko Anwar (dan tim pengembangan naskahnya, Ernest, Bene Dion, dan Arie Kriting) berhasil membuat humor-humor pemantik tawa. SdP banyak menggunakan humor yang berdasar pada stereotip kesukuan di Indonesia.

Misalnya, Mak Rambe (Gita Bhebita Butarbutar) dan keluarga bataknya yang suka ceplas-ceplos dengan logat khas. Suka sekali dengan treatment film ini terhadap logat Batak (atau Medan), yang penggunaannya biasa dilebih-lebihkan di film lain. Pak Toro (Arie Kriting) dan istrinya, Melodi juga mewakili orang Papua. Pun juga dengan keberadaan Ernest dan sedikit cerita tentang kokoh-kokoh penjual mi ayam yang mewakili orang Cina. Walaupun didasarkan pada stereotip kesukuan, tetapi dampak yang timbul dari beragam humor tersebut adalah kegembiraan tanpa ada upaya untuk menyinggung.

Pelajaran-pelajaran penting tentang kehidupan sosial kaum miskin kota yang barangkali tak masuk perspektif kelas menengah pun menjadi salah satu menu film ini. Salah satu yang mayor adalah pertanyaan tentang mengapa anak-anak dari daerah kumuh tersebut tak mau sekolah padahal sekolah sudah gratis. Relevansi dalam konteks kekinian, utamanya tentang kondisi masyarakat Jakarta juga bisa ditemukan adalah amuk massa yang menolak orang-orang pemerintah kota. Pada awalnya, Toni dkk sempat jadi korban setelah dicurigai maksud kedatangan mereka barangkali ada kaitannya dengan gusur-menggusur atau relokasi-merelokasi, bagaimana enaknya sajalah mengistilahkannya.

Efektivitas humor, relevansi, dan tempo cepat yang dibawa pada paruh awal film, sayangnya harus terbebani oleh sejumlah momen tetek bengek tentang pesan moral yang dibawakan seperti menceramahi penonton. Uniknya, ada pula seorang anak yang tiba-tiba seperti mendapat pencerahan setelah mendengar Aghi mengucapkan sepotong-dua potong kalimat normatif tentang kejujuran. “Anak-anak, kejujuran itu penting.” Ya, tanpa diceramahi oleh anak SMA yang bahkan berbohong tentang progres sekolah daruratnya pada guru dan wartawan pun semua orang dari anak yang sudah mulai bisa berpikir sampai lansia yang mulai kehilangan pikirannya juga tahu bahwa kejujuran itu penting. Masalahnya, alasan itu tidak cukup efektif untuk dijadikan alat vital penggerak cerita utama.

Dari kalimat-kalimat preachy itulah SdP mulai kendor dari segi cerita. Cerita yang solid tentang perjuangan anak SMA yang bukan hanya sekadar peka keadaan sosial, tetapi juga punya langkah kongkrit menjadi berantakan karena arah cerita mulai tidak fokus. Di tengah keributan tentang sekolah mereka, bisa pula ada adegan cinta-cintaan yang tidak jelas dari mana dan bahkan tidak jelas juga efeknya apa. Kalau itu untuk melembutkan cerita agar nyaman buat penonton muda, aku kira lebih banyak mudaratnya bagi pesan utama film yang hendak disampaikan. Kalau itu untuk memperdalam karakter Saras dan Bubu… sepertinya tidak perlu-perlu amat.

Keajaiban itu kemudian diakhiri pula oleh cara mengakhiri film yang juga ajaib. Terlepas dari kontennya yang barangkali mirip-mirip kampanye politik Pemilukada Jakarta, menurutku akhir film ini cukup malas dan menghilangkan pesan-pesan penting. Spoiler ahead, menurutku tidak masalah jika medium film dipakai untuk alat-alat kampanye, toh medium seperti film memang salah satunya digunakan untuk menyampaikan gagasan. Setelahnya, kita bisa berdebat tentang konten tersebut.

Tetapi, ini soal kemalasan dalam menyelesaikan masalah. Sekolah darurat yang Toni dkk bangun dan kemudian digusur karena tak punya izin dan penggusuran/relokasi kampung kumuh sekonyong-konyong dapat selesai seperti tongkat sihir Nirmala yang sering dicuri Oki dalam Operet Bobo dengan rumah susun. Pas dengan kata Chad, seorang siswa youtuber kepada Toni dkk, kira-kira begini: “Kalau elu udah gagal dan gagal lagi, yaudah nyerah aja!”

Warga kampung rusuh dengan satpol pp, kemudian Toni dkk datang menengahi (emang keempat pemuda-pemudi ini siapa ketimbang seluruh hidup warga kampung selama bertahun-tahun?), lalu seseorang yang tampak seperti pemimpin dari satpol pp menjelaskan bahwa di rusun tak perlu bayar, hanya perlu bayar uang pemeliharaan dan poof! semua tokoh bahagia selamanya.

Tidak diketahui apakah tujuan sebenarnya dari film ini adalah mempromosikan rumah susun, menciptakan kepekaan sosial pada milenial, atau menyinggung tentang bully di sekolah. Tetapi pada kesimpulannya, kegembiraan dan pesan moral yang sangat baik disampaikan pada paruh awal film hanyalah sementara, sayang sekali tak diakhiri dengan penutup yang memadai.