Spider-Man Homecoming : Manusia Laba-laba Rasa Iron Man

Browse By

Penulis Parada Al Muqtadir

2014 adalah terakhir kali para penikmat super hero manusia laba-laba menikmati aksinya, Andrew Garfield tampil terakhir sebagai tokoh Peter Parker dalam The Amazing Spider-Man 2, film besutan Marc Webb pun terbilang gagal untuk menyalip film spider-man terdahulunya, yang hanya meraup pendapatan Rp 9 triliun, timpang bila disandingkan dengan Spider-Man 3 yang sukses mengumpulkan pundi-pundi hingga Rp 11,9 triliun.

Nah, pada Spider-Man Homecoming ini, cerita pun dimulai saat Peter Parker pulang ke New York dari misi Avenger silam, Peter yang masih berusia 14 tahun itu pun diperan kan oleh Tom Holland. Dari segi fisik ia memang jauh lebih layak untuk memerankan Peter Parker, ketimbang Andrew Garfield yang terlalu jangkung, atau pun sosok Tobey Maguire yang sudah mulai menua.

Peter pun menjalani hidupnya sebagai pemberantas kejahatan di sekitar wilayah tempat tinggalnya, mulai dari membantu nenek menyeberang jalan hingga ia bertemu perampok yang membobol ATM.

Nah, disaat Spider-man baku hantam dengan  Vulture (Michael Keaton), di sini terlihat aneh, dimana seorang manusia laba-laba berketergantungan pada kostum, pakaian super hero yang ia dapat dari Tony Stark (Robert Downey). Parker pun semakin terobsesi akan kekuatan sesungguhnya dari kostum tersebut, hingga ia nekat membuka sistem rahasia senjata pamungkas itu.

Awalnya ia kelimpungan, merasa heran akan kostum yang bisa berbicara, tapi manusia laba-laba yang masih muda ini pun sukses satu kali menggagalkan misi Vulture yang ingin mencuri senjata dari Avenger, walau berakhir ia harus tertahan digudang karena kecerobohannya.

Selanjutnya aksi Spider-man pun kian beringas, hingga akhirnya sang pemilik kostum pun mengambil kembali apa yang pernah ia berikan. Di bagian ini pun semakin terlihat bagaimana spider-man tak berdaya tanpa kostumnya.

Walau sempat terheran lihat film satu ini, karena Iron Man jauh lebih heroik dari pemeran utama, tapi bibi May harus diakui jauh lebih aduhai dari versi sebelum-sebelumnya.