A Silent Voice yang Menjemukan

Browse By

Reviewer: Lazuardi Pratama Foto: Spesial

Drama coming-of-age dalam medium anime yang sebenarnya sangat bisa menguras emosi bahkan air mata, namun jadi menjemukan sebab segan mengeksekusi konflik.

A Silent Voice diangkat dari seri manga berjudul sama oleh Yoshitoki Oima. Dalam bahasa Jepang, ia dinamakan Koe no Katachi yang secara literal berarti the shape of the voice. Penamaan yang sangat menarik dan cukup relevan dengan cerita dan pesan yang ingin disampaikan olehnya.

Film ini ingin menyampaikan pesan tentang keinginan-keinginan bunuh diri yang bisa datang dari masalah yang masyarakat nilai sederhana, namun ternyata kompleks. Secara jelas lewat karakternya yang tunarungu, Shoko Nishimiya jelas-jelas ingin suara hatinya tersampaikan tanpa melalui bahasa isyarat atau tulisan di buku. Namun hal penting yang tersembunyi di baliknya adalah bagaimana tokoh lain dengan indera pendengaran normal juga butuh didengarkan dan dipahami. Suara mereka sunyi, sama seperti Nishimiya yang tunarungu, tapi di dalam hatinya ribut.

Shoko Nishimiya (diisi suaranya oleh Saori Hayami) berniat bunuh diri karena menganggap tunarungu sepertinya hanya membawa mudarat bagi siapa saja di sekelilingnya. Sementara Shoya Ishida (Miyu Irino dan Mayu Matsuoka yang mengisi suara Ishida kecil) juga ingin mengakhiri hidupnya karena tidak ingin hidup menjadi bully.

Semua berawal dari suatu hari yang cerah di suatu sekolah dasar ketika Nishimiya baru masuk menjadi murid baru. Anak-anak SD yang awalnya suportif dengan kondisi Nishimiya lama-kelamaan menjadi muak dengan sikap perempuan berambut merah muda tersebut. Nishimiya punya kecenderungan untuk minta maaf ketika ia menyusahkan orang lain dan itu membuat siapa saja di sekelilingnya merasa menjadi tersangka. Ishida adalah anak nakal yang paling getol merisak Nishimiya. Suatu ketika, gangguan itu menjadi berlebihan; Nishimiya pindah sekolah, Ishida dicap sebagai tukang bully dan hidupnya berbalik menjadi korban bully.

Lewat alunan denting piano yang dibuat semelankolis mungkin, sekuens peristiwa saat SD itu menjadi babak penting untuk rentetan kejadian setelahnya. Lima tahun kemudian, Ishida telah menjadi seorang pemurung dan suicidal sebelum bertemu kembali dengan Nishimiya yang telah menjadi seorang gadis manis.

Jumlah pemeran pun bertambah kompleks dan dalam, di antaranya Yuzuru Nishimiya, gadis tomboi adik Nishimiya; Naoka Ueno, gadis dengan cara pragmatis memandang dunia dan terang-terangan membenci Nishimiya serta menyimpan suka pada Ishida; Miki Kawai, gadis populer mantan ketua OSIS ketika mereka SD dulu; Miyoko Sahara, teman semata wayang Nishida saat SD; Tomohiro Nagatsuka, seorang comic relief dalam film ini dan mengaku bestfriend kepada Ishida; dan Satoshi Mashiba, lelaki tampan pacar Kawai yang tak diberi peran lebih dalam film ini.

Semua teman-teman dari kedua protagonis film ini punya kepribadian unik dan masing-masing punya sikap satu sama lain—kecuali Mashiba yang sekonyong-konyong masuk di tengah film dan diciptakan seakan-akan karakter penting. Drama yang terjadi di antara merekalah yang menjadi bahan bakar konflik. Mereka adalah salah sekian dari banyak karakter lain yang berkontribusi penting dari berlarut-larutnya film ini hingga lebih dari dua jam penayangan.

Animasi yang dikerjakan oleh studio Kyoto Animation ini menjadi tidak jelas arah tujuannya bahkan ketika Yuzuru mulai diperkenalkan sebagai salah satu tokoh kunci, yang berarti masih separuh awal film. Ada kecenderungan film ini untuk melakukan fanservice—memuaskan penonton dengan hal-hal bersifat seksual—yang diada-adakan, padahal tidak penting dan ketidakmampuannya membentuk karakter yang benar-benar penting dan fungsional untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Adegan meninggalnya nenek Nishimiya menjadi tidak perlu karena tak menggerakan cerita dan eksistensinya bahkan tak penting sebab kemunculannya yang tiba-tiba tak benar-benar memberikan perasaan simpati. Begitulah A Silent Voice, karakter-karakter datang dan pergi, namun tak lebih dari tempelan dan film ini memperlakukan mereka seperti karakter penting.

Selain itu, yang patut menjadi sorotan mengapa film ini benar-benar menjemukan adalah bagaimana caranya memperlakukan konflik. Ceritanya melompat dari konflik ke konflik yang tak kunjung dicarikan solusi, tetapi sudah ditinggalkan dan pindah ke persoalan lain yang sama sekali berbeda. Cara penuturan seperti ini mirip dengan tabiat para tokoh dalam film, cenderung menghindar dan lari dari masalah.

Jika cerita konvensional itu layaknya gunung api dengan titik kulminasi konflik ada di bagian puncaknya, A Silent Voice adalah kumpulan bukit yang membosankan.

Hal ini tidak terjadi sekali-dua kali saja, tetapi berulang-ulang sehingga membuat sebal dan menciptakan bahan pikiran “Film ini sebenarnya mau apa?”. Hingga pada suatu titik rasa jemulah yang berhasil mencapai titik kulminasi dan pada titik itulah Nishimiya memutuskan untuk bunuh diri setelah malam yang indah menonton kembang api bersama Ishida. Saya pikir itulah puncaknya. Namun pada hari berikutnya, ia justru membahas persoalan baru.

Sangat disayangkan film dengan kualitas animasi seperti ini tidak matang eksekusi ceritanya. Jika adegan-adegan tertentu harus dipotong dan dirapikan sedemikian rupa, menurut saya film ini akan menjadi animasi penting karena berpotensi membocorkan kantong air mata sekaligus memuat pesan penting tentang dunia remaja masa kini.