Ropudani Simanjuntak, Perdalam Musik Hingga ke Jerman

Browse By

“One good thing about music, when it hits you, you feel no pain.” ― Bob Marley

Penulis: Tania Meliala  Fotografer: Andru Kosti

Di tengah gempuran musik pop, nyatanya musik klasik masih tetap bertahan. Bahkan musik yang dulunya identik dengan musik kaum bangasawan ini, tetap memiliki para pendengar setia. Salah satunya adalah Ropudani Simanjuntak. Tak sekadar menikmati musik klasik, pria asal Medan ini memutuskan mengambil studi tentang musik dan conducting hingga ke Jerman.

Berlatarbelakang keluarga yang memang menggemari musik, Dani mulai tertarik dengan musik sejak usianya 5 tahun. Beranjak remaja, ia pun mantap memilih musik sebagai jalur hidupnya. “Sejak usia 5 tahun saya memang sudah tertarik dengan musik. Orangtua pun memasukkan saya ke Era Musica. Beranjak remaja saya menyadari bahwa passion saya memang di musik,” ujar bontot dari empat bersuadara ini. Keinginannya tersebut sempat mendapat hambatan dari orangtua yang menginginkannya menjadi seorang dokter. “Namun prinsip saya, jika kita melakukan sesuatu sesuai dengan passion kita tentunya akan lebih berhasil, dan puji Tuhan itu bisa saya buktikan kepada orangtua saya.”

Putra bungsu pasangan Watasi Simanjuntak dan Rosintan Panjaitan ini memulai pendidikan musiknya di Universitas Pelita Harapan Jakarta dengan mengambil jurusan piano performence. Dani memang mahir memainkan tuts piano, bahkan ia  pernah menjuari beberapa perlombaan piano tingkat nasional. Setelah menempuh studi selama dua tahun, Dani berhasil memperoleh beasiswa di Asian Institute for Liturgy and Music di Manila pada tahun 2005. “Selama empat tahun saya menempuh studi musik gereja. Mayornya saya ambil conducting dan minornya saya ambil vocal and compotition,”ujarnya.

Selesai menamatkan S1 dan bergelar Bachelor and Church Music (BcM), ia kembali ke Medan pada tahun 2009 dan didaulat beberapa pakar musik di Medan diantaranya Ben Pasaribu dan Daud Kosasih, untui menjadi pengajar di Universitas HKBP Nomensen dan mengajar musik di beberapa sekolah di Medan.

Tahun 2013 ia kembali memutuskan untuk memperdalam musik dengan mengambil gelar master di Folkwang University of The Arts di kota Essen, Jerman. Di universitas ini ia mengambil jurusan master of conducting yang mempelajari tentang vokal, komposisi musik, orkestra dan paduan suara. Ia memilih Jerman, karena inilah salah satu tempat cikal bakalnya perkembangan musik di dunia khusunya musik klasik.

Kota Medan patut berbangga, karena pemuda Batak ini tak hanya sekadar memperdalam musik, namun ia turut memperkenalkan musik tradisional Indonesia kepada masyarakat Jerman. “Saya pernah terlibat dalam sebuah konser dimana saya mengaransemen lagu dengan memasukkan unsur gondang dan angklung. Para penonton sangat tertarik akan hal itu. Ini yang bisa saya lakukan untuk mengembangkan musik tradisional Indonesia,” ujar pengagum Beethoven ini.

Kemampuan bermusiknya sering ia tampilkan dalam berbagai event di Jerman salah satunya dalam kegiatan amal untuk para imigran yang diselenggarakan pemerintah Jerman. Sembari menempuh pendidikan, ia juga aktif memberikan private vokal dan piano dan aktif sebagai organis di sebuah gereja.

Ia mengaku planning jangka panjangnya adalah membentuk sebuah universitas atau instansi yang bekerjasama dengan Jerman dalam mengembangkan musik di Kota Medan. “Saya ingin memanfaatkan link yang saya miliki untuk membantu perkembangan musik daerah kita,” ujar pria yang mahir menguasi lebih dari empat alat musik ini. Tahun ini ia pun berencana untuk mengambil gelar Doktor dalam bidang musik di negara Jerman kembali.

“Bagi saya musik adalah bahasa segala umat karena dengan bermusik kita bisa menjangkau semua orang,” ujarnya. Bagi kaum muda yang ingin memilih genre musik sebagai pilihan hidup, cobalah lebih open minded, dalam arti mau mendengar semua jenis musik, termasuk musik klasik. “Banyak yang menganggap musik klasik terlalu berat, atau beranggapan musik klasik hanya utk kalangan menengah ke atas. Itulah prinsip yang salah. Semua orang bisa mendengar dan menghargai musik klasik asalkan kita bersikap open minded,” ujarnya menutup obrolan.