Ronald Sipayung: Pelayanan, Tanggung Jawab, dan Keluarga

Browse By

Teks: Dana A. Anjani | Foto: Andru Kosti

Profesi yang ia miliki adalah sebuah pranata umum sipil yang salah satu tugasnya adalah mengayomi, menjaga, dan menegakkan hukum di masyarakat.

Ini adalah kesempatan kesepuluh yang saya dapatkan untuk bertemu dengan finalis Inspiring People. Sepuluh orang ini diharapkan mampu memberikan nilai-nilai kebajikan yang tak hanya menginspirasi, namun juga mengubah sudut pandang masyarakat. Kali ini, saya berbincang dengan seorang polisi berpangkat Kompol yang kini menjabat sebagai Wakapolres Pelabuhan Belawan. Ia punya perawakan tegap khas seorang polisi, lengkap dengan seragamnya ketika kami menemuinya di Medan Belawan saat itu. Agak kaku, ketika melihat ia dari jauh, namun semua itu berubah saat ia mulai berbicara. Tutur kata yang santun, dan senyum yang begitu sering mengembang mengubah anggapan saya tentang seorang perwira polisi yang seram dan tak bersahabat. Ronald juga mampu mengubah pandangan tentang citera polisi yang dikenal kurang mengayomi masayarakat.

Nama Ronald Sipayung mulai dikenal masyarakat dan media ketika diangkat menjadi Kapolsek Percut Sei Tuan pada tahun 2013. Namun sebelum itu, ada banyak pengalaman yang telah ia jalani selama mengemban tugas sebagai seorang petugas kepolisian sejak tahun 2003 silam. Sebut saja Kota Balikpapan, Pontianak, Jakarta, Parapat, dan Medan, yang pernah menjadi kota tempat ia ditugaskan. Ragam tipe masyarakat dan masalah sosial yang ia hadapi menempahnya menjadi sosok yang tegas, dan memiliki kemampuan melayani masyarakat yang tinggi.

Ronald mengaku, profesi polisi bukanlah pekerjaan yang ia cita-citakan sejak kecil. “Saya dulu malah punya cita-cita jadi dokter,” ucapnya mengawali obrolan kala itu. Ronald kecil bermimpi untuk menjadi seorang dokter, sebuah profesi idaman tiap anak pada masa itu. Hingga lulus SMA, Ronald mengikuti berbagai macam tes untuk melanjutkan sekolahnya. Pilihannya lalu jatuh kepada tes masuk AKABRI. Tidak ingin membebani orang tua dengan biaya kuliah, menjadi salah satu alasan kuatnya. “Waktu itu sih mikirnya untuk kuliah yang gak berbayar. Saya tidak mau memberatkan ibu saya dengan biaya kuliah,” katanya. Ayahnya yang meninggal saat ia masih duduk di bangku kelas satu SMA N. 1 Medan waktu itu, juga menjadi penguat alasannya memilih jalur pendidikan ini.

Berpindah Tugas

Tahun 1998, Ronald lulus dari AKABRI, yang waktu itu belum mengalami pemisahan dari TNI. Pengubahan struktural dan pemisahan antara AKABRI dengan TNI pasca Reformasi 1998, memberikannya kesempatan untuk memilih profesi di ranah kepolisian yang sesuai dengan dirinya. “Waktu itu, hasil tes psikologi saya menunjukkan bahwa saya lebih cocok untuk menjadi Polisi,” ungkapnya. Ia kemudian ditugaskan di Kota Balikpapan selama enam tahun. Disana, ia menjabat sebagai Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (KSPK) Polresta Balikpapan selama setahun. Setelah setahun menjabat, Ronald kemudian dipindah tugas ke Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) hingga tahun 2008.

Menurutnya, pengalaman kerja di Polresta Balikpapan memberikan banyak pengalaman yang luar biasa. Dibandingkan dengan polres lainnya di Kalimantan Timur, Balikpapan adalah salah satu yang paling ramai. Termasuk dengan tingkat kriminalitas dan pengaduan masyarakatnya. Lepas dari Balikpapan, Ronald kemudian bersekolah di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) selama sekitar sekitar 15 bulan, di Jakarta. Lulus PTIK, ia kemudian ditempatkan di Kota Pontianak selama 10 bulan dan menjabat Kepala Sub Bagian Hukum (Kasubagkum) Pol Air di kota tersebut.

Bulan Mei 2010, dengan pangkat AKP (Ajun Komisaris Polisi), ia ditugaskan ke Kotaq Medan dan menjabat sebagai Kapolsek Belawan, selama tiga bulan. Lalu dipindahkan ke Poltabes Medan sebagai Kanit Ranmor selama dua tahun. Tahun 2013, Ronald mengikuti pelatihan yang membahas Child Exploitation dan Traficking di Bangkok. Disana, ia kemudian ditugaskan untuk menjadi Kapolsek Percut Sei Tuan. Kabar pemindahan tugasnya pun menjadi sebuah kejutan mengingat ia tidak mengakses alat komunikasi selama berada di Bangkok. Berita bahagia itu ia terima sesaat setelah kembali ke Indonesia. “Waktu itu saya tidak mengaktifkan alat komunikasi, kabar itu saya dapat justru setelah pulang dari Bangkok,” ucap ayah dua orang putera ini.

Menjabat Kapolsek Percut Sei Tuan selama dua tahun, menurut Ronald, malah memberikan banyak pengalaman yang menarik. Terutama dengan masyarakatnya yang memang berbeda dengan pola masyarakat di kota-kota ia pernah ditugaskan dulu. “Jumlah penduduk disana sebenarnya sudah harus dibawahi oleh Polres, bukan skala polsek lagi. Apalagi dengan tingkat kriminalitasnya,” jelas Ronald.

Resiko Pekerjaan

Pekerjaan yang padat dan tugas sebagai seorang perwira polisi diakuinya memengaruhi pola hidup selama ini, mulai dari pola tidur hingga hubungan dengan keluarga. “Karena sudah tugas dan tanggung jawab, jadi memang harus ada yang dikorbankan,” jelasnya. “Jadi, untuk bisa mengganti waktu yang ada, saya sebisa mungkin memanfaatkan akhir pekan bersama anak-anak,” ucapnya.

Ia pun memfokuskan weekend-nya untuk mengajak kedua puteranya bermain sesuai dengan keinginan mereka. “Kalau hari Minggu, selesai dari ibadah di gereja, saya ajak mereka untuk jalan-jalan ke mall, atau kemanapun yang mereka mau,” ucap Ronald. Pekerjaan yang ia lakukan juga membuatnya tidak bisa menemani sang istri ketika proses melahirkan kedua puteranya. “Sejujurnya sih sedih juga tidak bisa menemani istri saya, tidak bisa melihat perjuangannya melahirkan anak-anak kami, ya biar bagaimanapun, ada tanggung jawab yang harus saya lakukan,” ceritanya.

Sebagai seorang pimpinan, ia mengaku bahwa tanggung jawab yang miliki bukan hanya dengan tugasnya secara pribadi. Melainkan juga bertanggung jawab dengan kinerja para anggotanya. “Di kepolisian itu, kalau ada masalah dengan anggotanya, pimpinan juga akan diperiksa,” ucapnya. “Termasuk kalau ada tahanan lari, walaupun bukan tugas kepala polisi untuk menjaga sel tahanan, tapi jika ada tahanan yang melarikan diri, kapolsek atau kapolres-nya juga bisa dicopot,” jelasnya lagi.

Ia pun tak menampik bahwa sang istri juga kerap mengeluhkan waktunya yang sangat terbatas bagi keluarga. Namun, lambat laun, ia bisa mengerti dengan resiko pekerjaan suaminya. Termasuk tidak bisa mendampingi sang istri saat melahirkan kedua anaknya. Ronald mengaku tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk memilih profesi yang sama dengannya. Namun, menurut Ronald, karena lebih sering berinteraksi dengan kehidupan dan kegiatan polisi, maka anak-anaknya pun secara tidak langsung ikut terpengaruh dan tertarik dengan kiprah yang sama dengan sang ayah.

Selesai menjabat Kapolsek Percut Sei Tuan, ia mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia ke Jepang dalam rangka studi banding sistem keamanan dan kepolisian. Ia bersama lima orang perwakilan lainnya mempelajari banyak hal ketika disana. “Jepang itu adalah pedoman sistem keamanan dan kepolisian hampir di banyak negara di dunia,” paparnya. Satu setengah bulan disana, Ronald mengaku banyak hal di Jepang yang bisa diadopsi oleh kepolisian di Indonesia, dan Medan pada khususnya.

“Mereka mengutamakan tindakan preventif atau pencegahan, bukan penangkapan seperti yang ada pada umumnya,” katanya. Ronald menyatakan, di sana, ketika suatu tindakan kriminal terjadi, maka yang dipertanyakan adalah kinerja polisinya dalam mencegah. “Beda dengan disini, kalau disana, ada tindakan kriminal apapun, justru kinerja polisinya yang dipertanyakan, bagaimana mungkin bisa terjadi kejadian semacam itu,” tuturnya. “Disana juga diberlakukan satu desa satu polisi, sehingga antara polisi dan masyarakat bisa saling mengenal,” ungkapnya. Selain itu, sistem keamanan dan banyaknya cctv di tiap sudut jalan adalah salah satu yang dapat mencegah terjadinya tindak kejahatan.

Masyarakat yang Antipati

Wakapolres Pelabuhan Belawan ini pun mengaku bahwa bukan rahasia lagi, jika masyarakat banyak yang antipati dengan polisi. “Itu sebabnya, Kepolisian Indonesia saat ini sedang melakukan reformasi kultur budaya kepolisian indonesia,” terangnya. Ia tidak menampik bahwa ada pula polisi yang memang melakukan tindakan pengutan liar pada masyarakat. Untuk mengubahnya, sangsi tegas pun diberikan. “Mutasi, bukan hanya anggota, tapi juga pimpinannya. Sanksi ini diberikan untuk menciptakan efek jera,” tegasnya.

Polisi tidak bisa dilepaskan dari karakter masyarakatnya, karena polisi berasal dari masyarakat. Proses pembinaan para perwira polisi juga dilakukan untuk menjaga kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. “Tugas saya sebagai wakapolres yaitu membina anggota dan memastikan pekerjaan para anggotanya. Polisi ini kan memiliki banyak kewenangan, dan itulah yang harus digunakan dengan bijaksana,” paparnya.

Menurut Ronald, kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk menjalankan suatu organisasi, dimana terdapat orang orang yang bekerja di dalamnya, bukan hanya untuk menjalankan tujuan organisasi, namun orang tersebut harus mampu memberikan contoh kepada para anggotanya. “Bukan hanya memberikan contoh, tapi juga memimpin, mampu secara ilmu, pengetahuan, keahlian, komunikasi serta sikap dan perilaku yang baik,” tandas anak ketiga dari empat bersaudara ini.