Pusuk Buhit,Perjalanan Penuh Kejutan di Puncak Para Manusia Langit

Browse By

Teks dan foto: Renti Rosmalis

Semak belukar di tepi jalan setapak tampak meninggi hingga menutupi badan. Beberapa persimpangan masih terlihat baru dengan bekas galian tanah yang menandakan adanya pembangunan. Berbeda dari tahun sebelumnya ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di tempat sakral bangsa Batak ini. Kami sempat berpapasan dengan orang-orang yang saya duga para peziarah yang pulang dan pergi dari puncak Pusuk Buhit yang merupakan puncak tertinggi di tengah Pulau Samosir. Perjalanan kali ini milik saya. Sebagai satu-satu nya orang yang pernah mencapai puncak Pusuk Buhit di antara kami, saya dipercaya membawa kelima teman saya.

Kami sampai di kaki Pusuk Buhit tepat satu jam sebelum tengah hari. Akibat dari tak bisa menahan diri untuk singgah di berbagai objek wisata ketika berada di Desa Parapat. Meski terbilang telat dari perencanaan, kami masih sempat untuk berfoto-foto karena tak ingin melewatkan penampakan gagahnya gunung-gunung yang mengitari Danau Toba.

“Wih gak nyangka sekitar Danau Toba se-keren ini, udah kita camp di sini aja udah cakep” seloroh salah satu teman sambil memegang tongkat selfie dan berfoto dengan background Desa Sianjur Mula-Mula, perkampungan yang dipercaya sebagai pemukiman pertama bangsa Batak. Kami mulai berjalan dengan sedikit serius dengan memutuskan menyimpan alat-alat penangkap gambar yang kami miliki setelah beberapa kali bilang “bentar-bentar terakhir deh, ini cakep, air terjun nya kelihatan yaa!”

Sudah dua jam berjalan dan matahari makin tinggi. Saya yang sedari tadi bisa tertawa lepas tiba-tiba terdiam. Saya melihat sisi kiri dan kanan yang tampak asing. Dalam hati saya meyakinkan “ah, bener kok ini jalannya”. Beberapa menit kemudian saya menyerah. “Harusnya kita ketemu pohon pinus yang cukup besar dan lumayan banyak tepat di pinggir jalan sekitar sejam yang lalu, tapi ini udah jalan dua jam kok belum ketemu ya”. Saya yakin ini jalan yang salah hingga kami akhirnya memutuskan kembali ke jalan sebelumnya. “Nggak ada yang mau selfie dulu?” ujar salah seorang teman mencoba menenangkan suasana namun diabaikan.

Sesosok bapak-bapak nampak dari kejauhan. Segera teman saya yang pandai berbahasa Batak Toba menyanyakan jalan. Ternyata kami harus kembali setidaknya satu jam berjalan lagi. Di sana ada satu persimpangan yang luput dari pandangan saya ketika sedang asyik berfoto.

Langit mulai menguning, udara mulai dingin dan perlahan kabut putih menyelimuti hijaunya puncak Pusuk Buhit. Senja itu kami tiba di Danau Tala-Tala, di sini terdapat landasan yang dulu digunakan untuk mendaratkan helikopter. Sekarang dijadikan tempat beristirahat dan mendirikan tenda.  Kami mendirikan tenda dan bermalam dengan guyuran hujan. Masyarakat sekitar percaya, Danau Tala-Tala menyediakan air dengan berbagai khasiat. Sampaikan keinginan dan harapanmu pada Tuhan dan ambillah air dari danau. Minumlah air saat pulang ke rumah, penyakit bisa sembuh dan harapan bisa terkabulkan.

Selepas sarapan pagi kami melanjutkan kembali perjalanan menuju puncak Pusuk Buhit. Rencananya kami akan mendirikan tenda di puncak. Untuk mencapai puncak kami hanya perlu berjalan setidak setengah jam saja. Beruntung, tak ada kabut siang itu. Dari atas puncak terlihat keseluruhan Kota Pangururan. Dari arah kiri juga terlihat Gunung Sinabung dan Sibayak yang menjulang tinggi. Kami benar-benar beruntung dapat menikmati suguhan alam ini tanpa tertutup kabut.

Sudah ada satu tenda besar yang terpasang di atas. Ternyata mereka adalah peziarah. Mereka datang dengan tujuan berdoa pada Debata Mula Jadi Nabolon. Tak jauh dari tenda kami terdapat meja batu berwarna putih. Di atasnya terdapat beberapa cawan putih berisi air, daun sirih, dan telur. Melihat kehadiran kami, sesosok laki-laki tua menghampiri. “Dari mana kalian, Nak ku?”

 

Sesekali ia menarik sarungnya untuk dilingkarkan di leher. Sambil menghirup dalam rokoknya  ia berkisah. “Sudah dua hari kami di sini”. Dulu, ini adalah tempat turunnya Si Raja Batak dari langit. Raja Batak ini adalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di bumi dan beranak pinak di sekitaran Pusuk Buhit. Perkampungan pertama nya adalah Desa Sianjur Mula-Mula. Raja Batak memiliki 5 orang anak yang nantinya menyebar dan menjadi asal mula marga-marga yang melekat pada setiap orang Batak. Opung, begitu kami memanggilnya berkata, sempatkan untuk mampir ke monumen Sopo Guru Tatea Bulan saat pulang nanti. Ia berada di kaki Pusuk Buhit,  di sanalah kita bisa lihat silsilah keturunan anak pertama Raja Batak.

“Kalian bawa sirih?” tanya Opung. Kami tak ada yang membawa sirih. Diambilnya sirih dari tenda dan diberikan pada masing-masing kami. Kami dibawa ke meja putih yang berisi cawan-cawan tadi. Di sana, kami didoakan agar lancar dalam sekolah, sehat dan sukses. Opung menjelaskan, ia tidak bermaksud menyalahi kepercayaan yang telah kami miliki. Doa kita ditujukan pada Tuhan kita masing-masing dengan didengarkan oleh Si Raja Batak, semoga ia senantiasa ikut mendoakan kita.

Siang itu kami melewati pengalaman yang luar biasa untuk mengisi pundi-pundi pengetahuan tentang kebudayaan dan kepercayaan. Sebagaimana masyarakat yang percaya akan kesakralan tempat ini, kami juga ikut merasa bangga bisa berada di atas sini.

Senja kedua kami di Pusuk Buhit jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Kami sedang asyik menyantap makanan dan seorang teman saya keluar dari tenda sambil berteriak. Terdapat bayang hitam besar berbentuk segitiga yang menutupi Kota Pangururan. Ternyata itu adalah bayangan Pusuk Buhit yang disinari oleh matahari. Kami langsung berlari ke arah perginya matahari dan benar saja, saat itu matahari baru mulai tenggelam dibalik pegunungan. Ini salah satu senja terindah yang pernah saya lihat.

Perjalanan ini banyak sekali memberikan kejutan, mulai dari keindahan dan pengalaman spritual. Menjaga kesakralan dan tidak merusak kesucian tempat ini adalah keharusan bagi setiap orang yang mengunjunginya. Ada adab ketika bertamu ke gunung sakral, jangan sampai membuat penjaganya marah.

Pusuk buhit bisa dicapai baik melalui Parapat ataupun Sidikalang. Ia tedapat di Desa Sianjur Mula-Mula, Kabupaten Samosir. Dari parapat kita harus menempuh dua jam perjalanan dengan kendaraan bermotor untuk bisa sampai di kaki Pusuk Buhit. Di kaki Pusuk Buhit sendiri terdapat situs-situs yang berkaitan erat dengan turunnya Si Raja Batak ke bumi.