Pria Penggerutu Itu Bernama Ove

Browse By

Walaupun agak didramatisir ketika memasuki babak akhir, A Man Called Ove berhasil menghangatkan hati. Lewat Ove, kita belajar bahwa hidup jauh lebih indah jika dinikmati bersama.

Reviewer: Lazuardi Pratama Foto: Istimewa

Ada sebuah adagium dari Ella Wheeler Wilcox yang pernah dipopulerkan kembali oleh film Korea Selatan Oldboy dan seri manga Naruto, “Laugh and the world laughs with you; weep and you weep alone.” Barangkali seperti itulah pepatah yang tepat untuk menjelaskan kehidupan di masa tua seorang Ove dalam film asal Swedia ini.

Ove (diperankan Rolf Lassgård) adalah seorang kakek penggerutu. Semua yang tak sesuai dengan peraturan atau yang tak dipahami logikanya, ia marahi. Ove muntab karena melihat seseorang berjalan dengan anjing. Sepeda yang parkir sembarangan ia kunci rapat-rapat dalam gudang. Bahkan, melihat seekor kucing mampir di teras rumahnya saja membuatnya cepat naik pitam. Di matanya, dunia ini hanya terdiri dari dua sisi: hitam dan putih. Ia tak keberatan menjadi hitam demi definisi putih yang ia pedomani.

Kelakuannya ini membuatnya jadi dibenci semua orang. Sebenarnya tak semua orang membenci. Beberapa orang tetangga lamanya sudah mahfum dengan sikap Ove. Setelah dipecat dari tempat kerja yang telah menjadi separuh hidupnya setelah menggantikan ayahnya dulu, Ove putus asa dengan dirinya sendiri. Ia lalu memutuskan untuk bunuh diri sampai… sekeluarga imigran dari Iran mengubah cara pandangnya akan hidup.

A Man Called Ove adalah film asal Swedia yang berhasil lolos ke dalam lima nominasi film asing terbaik tahun ini. Jika pernah menonton animasi keluaran Pixar, Up (2009), barangkali persona Ove akan mengingatkanmu akan sosok kakek-kakek yang juga penggerutu di sana. Juga cukup menarik melihat bagaimana film ini merepresentasikan kehidupan masyarakat Swedia yang terkenal dengan standar hidup yang tinggi dan pelayanan sosial yang baik. Masyarakatnya menghargai sekali privasi dan hak-hak individu, namun cenderung mengorbankan nilai-nilai kolektif. Kontras sekali dengan Indonesia. Lewat nada gambar yang kelewat muram (barangkali cuaca dingin sepanjang tahun membuat suasana kerap menjadi muram), film ini menggambarkan fenomena bystander yang umum terjadi.

Situasi dan kondisi masyarakat seperti itulah yang terejawantahkan ke dalam diri Ove: empati pada titik minimal, namun punya cara hidup yang rapi, tertib, dan teratur.

Film yang diangkat dari novel berjudul sama oleh Frederik Backman ini diisi oleh momen-momen dramatis. Ove ternyata punya latar belakang dan masa lalu yang cukup panjang sehingga menciptakan tabiatnya yang sekarang. Ove rutin berkunjung ke makam istrinya, Sonja (dibaca Sonya) yang telah meninggal enam bulan sebelumnya. Kadang-kadang ketika amarah sedang di ubun-ubun, ia melihat foto Sonja muda (Ida Engvoll) dan seperti halnya zat adiktif, Ove sekonyong-konyong menjadi jinak. Kita diajak untuk melihat ke masa lalunya dan kita menyadari ternyata kelakuannya selama ini cukup masuk akal.

Namun yang menjadikannya sangat menarik adalah bagaimana kisah Ove si penggerutu ini diceritakan dengan komedi yang ironinya memancing tawa justru pada saat-saat sedih. Contohnya ketika Ove memutuskan untuk gantung diri di rumahnya, keluarga Parvaneh (Bahar Pars) ribut-ribut di luar rumah perkara tak bisa memundurkan gerobak. Di lain kesempatan, saat semuanya sudah berjalan lancar, tak ada tetangga menyebalkan atau urusan yang belum usai, tali gantungnya putus karena tak mampu menopang berat badan.

Perpaduan tragedi dan komedi itu kadang-kadang menciptakan perasaan bersalah ketika tertawa. Genre seperti ini memang sering membuat penonton merasa berdosa ketika tertawa. Dan untuk tertawa pun, sekalipun adegannya memang lucu, tak semua orang merasa ikut tertawa adalah hal yang benar. Penonton di sebelahku ketika menonton film ini dalam acara Europe on Screen kemarin protes pada teman sebelahnya karena tega-teganya tertawa.

Namun ada perspektif lain dalam memandang cara tragikomedi ini. Ia bisa jadi juga upaya kita menertawakan kesedihan, membuat adegan sedih menjadi ceria. Menertawakan kisah-kisah Ove bukan upaya untuk mengejek kesedihan, namun sebaliknya, ia adalah salah satu cara menghadapi pilu yang berlarut-larut. Barangkali memang cara terbaik. Seperti adagium Ella Wheeler Wilcox di paragraf pertama, tertawalah, maka seluruh dunia akan tertawa bersamamu; menangislah, maka kamu akan menangis sendirian.

Maka ketika film ini mulai tidak lucu lagi pada bagian-bagian akhir, pesonanya lama kelamaan memudar. Ove menyadari teman satu kompleknya sejak muda, Rune dijebak oleh seorang whiteshirts (terminologi ciptaan Ove untuk menggambarkan birokrat yang kerap menyusahkan hidupnya) untuk dipindahrumahkan secara paksa. Ia lalu mengingat-ngingat kisah-kisah dramatis bersama Sonja dan mengapa Ove tinggal sendiri tanpa seorang anak pun. Semua momen-momen emosional itu dikumpulkan menjadi satu dan terasa agak didramatisir dengan ditambah aransemen musik yang mendayu-dayu.

Pada akhirnya, yang paling efektif membuat sedih sekaligus mampu menghangatkan hati bukanlah momen-momen emosional yang berdesak-desakan itu, tetapi perkembangan karakter Ove dari seorang penggerutu menjadi… tetap penggerutu, namun tak malu-malu untuk berkorban dan mengasihi orang-orang di sekitarnya. Seluruh dunia kini tertawa bersamanya.