Paul Phoenix: Orang Indonesia Paten Bernyanyi, tapi Enggak Percaya Diri

Browse By

Peraih Grammy Award ketika masih bersama grup vocal King’s Singers pada tahun 2009 ini berkunjung ke Medan untuk vocal traning dan konser mini. Paul mengaku enggak suka durian, tapi gemar makan nasi padang.

Teks: Lazuardi Pratama | Fotografer: Andru Kosti

“Bedanya dengan orang Inggris, kami percaya diri betul, tapi suaranya pas-pasan,” ujar Paul berkelakar yang kemudian diiringi tawa peserta. Pria bersuara tenor ini mengatakan hal tersebut ketika sedang berbicara di tengah-tengah peserta vocal training dalam tajuk acara A Moment with Paul Phoenix di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Nommensen pada tanggal 9 Februari lalu. Ia begitu terkesima dengan performa tiap peserta, namun menurutnya potensi para peserta masih tertahan karena tidak pede dengan kemampuannya sendiri.

“Standar menyanyi di Indonesia sangat-sangat tinggi. Aku terkesan sekali,” katanya.

Jumat, 10 Februari selepas pelatihan selama dua hari, Paul menyempatkan diri berbincang dengan KOVER tentang karakter paduan suara orang Indonesia, pengalamannya di Medan ketika gempa dan makan masakan pinggir jalan, hingga klub sepak bola favoritnya. Selama wawancara, ia menebar senyum dan suka sekali berseloroh hingga menimbulkan tawa.

Paul pemulai karier musiknya sejak berusia 9 tahun bersama St. Paul Cathedral Choir. Waktu usianya masih seumur jagung, ia pernah bernyanyi untuk Ratu Elizabeth dan merekam lagu pengiring untuk serial televisi BBC. Ia kemudian mengambil pendidikan musik di Royal Northern College di Kota Manchester tahun 1986-1991.

Tahun 1997, bergabung dengan grup vocal terkenal di Inggris, King’s Singers dan menerima Grammy tahun 2009 lewat album Simple Gift. Ia dianugerahi Grammy sebagai co-producer dan soloist. Tahun 2014, ia memutuskan pensiun dari grup yang membesarkan namanya itu setelah 17 tahun berkarier. Kini ia menggawangi Purple Vocals, nama brand yang fokus pada pelatihan penyanyi bertaraf internasional.

“Menurutku prospek bernyanyi di grup vocal seperti The King’s Singers semakin lama semakin kecil dan tidak atraktif,” ujar Paul. “Makanya aku sekarang memilih untuk melatih banyak orang karena berbagi ilmu itu memberiku kepuasan tersendiri. Aku sudah pergi ke banyak negara dengan pekerjaanku sekarang dan bersyukur sekali bisa kenal banyak karakter dan budaya menyanyi di setiap belahan dunia ini.”

Paul orang yang sibuk. Sebelum berkunjung ke Medan ini, ia mengisi vocal training juga di Jerman. Setelah dari Indonesia ini, dia langsung terbang ke Hong Kong untuk acara serupa. Kesibukannya ini juga turun dari kariernya selama ia di King’s Singers. Di sana, ia dan rekan-rekannya bernyanyi 120 konser per tahun. Jam terbangnya yang tinggi membuatnya berpengalaman. Di saat orang lain perlu pemanasan suara konvensional untuk pertunjukan tertentu, Paul tidak. Ia bernyanyi seperti bernapas saja.

Kesibukannya ini juga berdampak ke keluarganya. Paul mengaku, bila diakumulasikan, dari puluhan tahun ia berpergian, paling hanya beberapa tahun saja ia bertatap muka dengan istrinya di Cambridge.

Ia mengaku sangat senang berada di Medan, apalagi dengan keramah-tamahan orang-orangnya. Namun yang membuatnya terkesima adalah saat makan nasi goreng dan sate babi di warung pinggir jalan. “Ada satu lagi: nasi padang. Aku bakal makan itu lagi nanti kalau ada kesempatan,” tukasnya. “Kecuali durian. Dulu pernah sekali coba, rasanya kayak tahu busuk. Aku enggak akan pernah makan durian lagi.”

Paul juga bercerita tentang pengalamannya saat terjadi gempa pada Jumat, 10 Februari dinihari lalu. Ia takut sekali, karena di negaranya, ia tak pernah mengalami gempa seperti kemarin. Sesaat setelah gempa pertama sekitar jam 1 dinihari, ia mengaku mengumpulkan botol minum, sepatu, dompet, paspor, ponselnya di meja sebelah kasur, persiapan kalau terjadi macam-macam.

Namun hal itu tak menyurutkan keinginannya untuk datang lagi ke Medan. Pria penggemar Manchester City ini mengaku sangat ingin sekali mengenalkan Indonesia kepada dunia lewat dunia tarik suara. “Rasanya aku punya peran unik di sini untuk melatih orang-orang dengan kemampuan bernyanyi yang sudah bagus dan bersemangat. Yang terpenting adalah mereka bisa menyanyi dengan pede dan terhubung secara emosional dengan penonton. Aku akan datang lagi ke sini untuk itu,” tandasnya.