Panut Hadisiswoyo: Menjaga Orangutan, Menjaga Ekosistem

Browse By

Penulis: Dana A. Anjani  Fotografer: Andru Kosti

Orangutan tergolong sebagai satwa dengan tingkat kecerdasan yang tinggi. Keunikan ini lah yang kemudian membuat Panut jatuh cinta. Pada orangutan, dan ekosistemnya.

Sejak pertama kali halaman Inspiring People diadakan pada awal tahun ini, rasanya bertemu dengan orang-orang luar biasa adalah salah satu candu bagi saya. Dari berbagai bidang mulai dari entrepreneurship hingga aktivis memiliki kisahnya sendiri. Tak hanya menarik dan menyenangkan, tapi juga menginspirasi. Kali ini, KOVER bertemu dengan Panut Hadisiswoyo. Seorang aktivis lingkungan yang namanya dikenal atas kegigihannya dalam bidang konservasi orangutan. Ia pun kini menjadi direktur utama YOSL/OIC (Yayasan Orangutan Sumatera Lestari/Orangutan Information Center) yang didirikannya sejak 2001 silam.

Panut mengaku mulai memiliki rasa ketertarikan pada bidang lingkungan sejak awal 1997. Pengalamannya terpilih sebagai wakil Indonesia dalam ajang pertukaran pelajar Indonesia-Kanada pada tahun 1996-1997. Pertukaran pemuda ini kemudian memberinya kesempatan untuk mempelajari banyak hal, mulai dari sosial hingga lingkungan. “Disana lah saya belajar bagaimana sebuah masyarakat mengolah sampah, merawat lingkungan, hingga bagaimana menghargai sumber air. Bahwa masing-masing individu mampu memberikan dampak bagi lingkungan. Saat itulah saya mulai tertarik dengan bidang konservasi lingkungan,” kisah lelaki sarjana Sastra Inggris, USU ini.

Sepulangnya dari Kanada, kemudian ia menyatakan keinginan besarnya untuk dapat berinteraksi langsung dengan hutan. Ia pun berpikir praktis tentang kontribusi yang bisa ia berikan, hingga akhirnya ia bergabung dengan Leuser Development Program (LDP) sebagai asisten translator peneliti, dan mengharuskannya bekerja di pedalaman hutan di kawasan Aceh Tengah. Konflik keamanan yang terjadi pada tahun itu pun tak menyurutkan keinginannya untuk mengabdi. “Di hutan itulah saya bertemu dengan orangutan, dan menurut saya merupakan spesies yang sangat unik,” paparnya. Di dalam hutan, ia pun makin menggali rasa ingin tahunya tentang lingkungan, dan spesies primata ini. “Saya bahkan enggak tahu ketika pemerintahan Pak Harto lengser. Saya baru sadar ketika datang ke kampus dan melihat banyak perubahan,” ucapnya sambil tertawa, mengingat tidak adanya akses informasi yang ia miliki pada saat itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah menamatkan kuliahnya, ia kemudian menjadi salah satu staf LDP pada akhir 2009. Disana ia mulai mempelajari banyak hal, mulai dari menjadi asisten peneliti, hingga membuat rencana kerja untuk mencapai tujuan lembaga konservasi tersebut. Tiga tahun berada di dalam LDP, Panut kemudian mendapat beasiswa melalui program Chevenning ke Inggris. Disana, ia belajar ilmu komunikasi. Menurutnya, bidang studi ini adalah hal yang penting untuk dipelajari mengingat keinginannya untuk menjadi seorang konservasionis. Lalu di tahun 2007 ia kembali mendapatkan beasiswa di University of Oxford untuk mendalami bidang Primatologi. .

Bagi Panut, kedekatan taksonomi dan perilaku antara primata dengan manusia merupakan salah satu penyebab ia begitu menyukai spesies ini. “Menurut saya, spesies kera besar ini memiliki banyak hal unik, mulai dari perilaku, taksonomi, sampai pengaruh mereka terhadap ekosistem,” ceritanya. Namun, tingkat kepedulian masyarakat yang masih sangat rendah terhadap satwa ini menjadi hal miris tersendiri.

“Masih banyak orang yang enggak bangga dan merasa bahwa orangutan bukanlah hal yang penting untuk dijaga,” ucapnya. “Padahal, orangutan juga mampu memberikan pengaruh pada ekosistem, mulai dari pepohonan hingga sumber air yang juga bermanfaat bagi manusia. Jadi ketika kita menyelamatkan mereka, artinya kita juga menyelamatkan ekosistem,” ujarnya lagi.

Ia pun bercerita tentang hal-hal dramatis yang sempat ia alami dalam upayanya menyelamatkan satwa ini. Seperti saat ia harus menyelamatkan Krismon, nama orangutan tersebut dari kandang besi yang sempit. Krismon adalah orangutan peliharaan sekeluarga yang telah diadopsi sejak kecil. Namun ukurannya yang makin bertambah membuat kandang yang ia tempati sudah tak layak lagi. Hingga Panut dan rekan-rekannya datang untuk melepaskan dengan memotong besi kandang tersebut.

Menurut Panut, anggapan masyarakat yang merasa bahwa orangutan adalah binatang yang lucu untuk dijadikan peliharaan menjadi salah satu penyebab maraknya perburuan primata ini. “Orangutan ketika masih bayi memang lucu dan menggemaskan. Tapi banyak orang yang tidak tahu kalau untuk mendapatkan bayi orangutan, maka induknya harus dibunuh,” jelas Panut. “Sejak awal tahun 2000-an hingga saat ini, ada sekitar 3000 bayi orangutan yang ditemukan untuk dipelihara, sudah berarti ada sekitar jumlah yang sama induk orangutan yang mati diburu, dan masyarakat harus lebih jeli tentang ini,” tandasnya lagi.

Terkendala Penegak Hukum

Mirisnya, menurut Panut, proses konservasi orangutan ini justru terkendala olah oknum penegak hukum sendiri. “Sayangnya, selama ini, malah kami lebih banyak berhadapan dengan perwira polisi, pengusaha, hingga pejabat negara yang harusnya memiliki kecerdasan yang lebih dan memberikan contoh yang baik pada masyarakat,” ungkapnya. “Tapi justru mereka lah yang banyak menggunakan kekuasaannya untuk memiliki orangutan, dan malah tidak mendukung proses hukum terlebih lagi pada kasus perburuan dan penyelundupan orangutan,” paparnya lagi.

Masih sedikitnya penegakan hukum terhadap kejahatan terhadap orangutan pun turut mendorong Panut melalui lembaganya untuk mendorong pemerintah agar lebih perhatian pada kasus ini. “Sayangnya tidak satupun kasus pemeliharaan orangutan ini yang diproses. Mereka memelihara pasti mendapatkannya lewat proses, sementara memelihara orangutan memiliki makna yang sama dengan memperdagangkan orangutan. Karena hanya lembaga konservasi yang memiliki ijin untuk merawat dan memelihara orangutan dan tidak boleh secara perseorangan,” terang ayah dua anak ini.

Makin sempitnya habitat orangutan juga menjadi salah satu penyebab mudahnya terjadi interaksi antara manusia dengan satwa ini. Hal ini pulalah yang turut menajadi penyebab maraknya perburuan orangutan. Selain itu, ekspansi perkebunan kelapa sawit dan pembukaan lahan hutan menjadi perkebunan dan tempat tinggal manusia juga hal yang perlu dipertimbangkan demi kelangsungan satwa ini.

Melalui OIC, Panut bertekad untuk makin menyebarluaskan sikap volunteerisme. “Yayasan ini juga didirikan oleh para relawan, dan itu yang ingin saya sebarluaskan, terutama pada anak muda saat ini,” ujarnya. Panut memandang masih sedikit keinginan anak muda kota Medan untuk aktif dalam memelihara lingkungan. “Dulu merekrut volunteer mudah sekali, tidak sesulit saat ini. Mungkin karena keterikatan tingkatan akademis. Mahasiswa sekarang lebih mengejar akademis dan kurang tertarik dengan kegiatan di luar. Terlalu narrow minded dan tidak berpikir outside the box,” pungkasnya. Menurutnya, kuliah memanglah tempat untuk menimba ilmu, namun bukan untuk mencari pengalaman praktis.

Bukan Sekadar Achievements

Baru-baru ini Panut mendapatkan penghargaan Whitley Award, Penghargaan diberikan kepada aktivis lingkungan Indonesia itu oleh Putri Anne, keluarga bangsawan Kerajaan Inggris, pada Rabu (29/4) lalu, dalam satu upacara yang diadakan di gedung Royal Geographic Society di London. Penghargaan yang dihadiri DCM/Wakil Dubes RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia, Anita Luhulima. “Saya bangga bisa mengharumkan nama Indonesia, tapi bagi saya, achievement bukanlah tujuan saya dalam mengembangkan konservasi orangutan ini,” tegasnya. Menurutnya, mendapatkan penghargaan haruslah menjadi batu pijakan untuk berusaha lebih baik lagi.

“Saya justru merasa mendapatkan penghargaan yang luar biasa jika bisa menurunkan angka kepunahan orangutan, dan membuat pemerintah lebih peduli lagi dengan satwa ini,” ujarnya lagi. Ia juga pernah dinobatkan sebagai praktisi muda yang bekerja untuk memberikan kontribusi positif melalui berbagai bidang ilmu oleh National Geographic. Sekaligus menjadi orang Indonesia pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut. “Bangga bisa mewakili Indonesia, walaupun di mata dunia, Indonesia tidak terlalu peduli dengan keragaman hayati dan hewani yang ada di negaranya,” ungkapnya penuh gurat senyum di wajahnya. “Walaupun kadang muncul rasa pesimis melihat maraknya pembalakan hutan saat ini, tapi saya yakin dan masih memiliki harapan bahwa apa yang kami semua usahakan saat ini kelak akan membuahkan hasil yang manis,” tutur lelaki yang sempat menjadi cleaning service saat menjalani pendidikan masternya di Inggris ini.

Berbicara tentang antusiasme dan kepedulian anak muda saat ini, Panut memiliki pendapatnya sendiri. Menurutnya, hal ini didorong oleh tekanan nilai akademis yang membuat mahasiswa saat ini kebanyakan lebih mementingkan nilai daripada aktivisme di lingkungan dan masyarakat. “Saya tidak banyak melihat anak muda yang konsen pada pelestarian satu sepesies dengan inisiatif sendiri. Malah yang saya lihat sekarang adalah eksploitasi, misalnya dengan adanya klub pecinta luwak, atau reptil, binatang-binatang yang harusnya hidup dengan liar.“Menurut saya, mencintai satwa tidak dengan cara demikian. Karena binatang yang mereka dapatkan pasti dari perdagangan, yang juga berasal dari alam,” jelasnya

“Tidak,” ucapnya tegas saat ditanya apakah pernah terpikir untuk beralih profesi. Bahkan untuk menjadi seorang wakil rakyat. “Saya malah kepenginnya jadi menteri kehutanan,” ucapnya penuh kelakar.

Related Post