Nepal: Heaven on Earth

Browse By

Teks: Fati S  | Foto: Fati S & Istimewa

Hampir maghrib ketika saya terjaga dalam kondisi kamar gelap dan sayup terdengar mesin AC menggeram halus. Saya meraba tempat tidur, seprai berpola bunga yang sudah hampir tiga tahun menemani. Ah, Jakarta!

Dua belas jam lalu saya masih berada di antara kemacetan jalan menuju Tribhuvan—bandara Kathmandu. Antrean panjang mengular, belum lagi para buruh Nepal yang kembali ke negara tempat mereka bekerja—Malaysia dan Singapura yang tidak begitu paham bagaimana cara mengantre yang benar.

Kesemrawutan tidak sampai di situ, ruang tunggu all area membuat kondisi semakin carut-marut. Bahkan sampah-sampah berserakan di lantai. Saya menghela napas berusaha pasrah. Padahal ketika di taksi saya sedikit menitikkan air mata karena harus meninggalkan Nepal yang begitu indah, damai, perkawinan kultur dan religi yang multi intrepretasi lalu kembali kepada rutinitas saya.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir Nepal tidaklah “sedamai” yang dianggap orang. Meski Nepal menjadi salah satu pusat buat orang-orang mencari kekuatan religi—selain India. Seorang teman pernah berkomentar—atau mungkin bertanya, kenapa orang-orang mencari kedamaian di tempat yang riuh seperti India? Belum lagi kondisi yang kotor serta ketidakteraturan yang luar biasa. “Kenapa bukan Jawa ya, ‘kan di Jawa lebih tenang?” tanyanya tanpa meminta jawaban—karena saya juga tidak punya jawabannya.

Sulit diterima akal, bagaimana orang mencari ketenangan di tempat seramai India atau mungkin juga Nepal. Ketika berkunjung ke Nepal dan mendatangi kuil-kuil di Kathmandunya seperti di Durbar Square dan Pasupatinath yang saya temukan adalah suasana yang padat, antara turis dan penduduk asli yang datang beribadah, sadhu (orang suci) dan para tuna wisma yang seolah berserak menciptakan chaos. Lantas timbul pertanyaan dimana letak kedamaiannya?

Mungkin pepatah anonim ini bisa menjadi “jawaban”. Kau disebut berhasil menemukan surgamu saat kau tetap bisa tenang di tengah keriuhan.

The Living Goddess

Nepal bisa disebut sebagai negara dengan seribu kuil. Ada banyak kuil bertebaran di di seputaran Kathmandu. Bahkan di dalam satu kuil saja ada kuil-kuil lain di dalamnya. Salah satu kuil yang menjadi ikonnya adalah Hanuman-dhoka Durbar Square. Dibangun di antara abad ke 12 dan 18, Durbar Square adalah semcam komplek dimana pusat agama Hindu-Budha, kebudayaan sekaligus kerajaan Nepal berada.

Agama Hindu memiliki banyak dewa, salah satu penjelasannya karena masing-masing dewa bereinkarnasi sehingga memiliki banyak wujud. Sebut saja Siwa yang memiliki banyak rupa, ada Siwa yang sedang marah, mabuk dan mengisap mariyuana—benar, bahkan dalam sekali setahun di bulan Februari ada festival Shivaratri dimana semua orang bebas mengisap mariyuana untuk memuja Siwa di Pasupatinath.

Demikian juga dengan Durga yang memiliki sebutan lain yaitu Kumari. Uniknya, mengapa disebut The Living Goddess, karena sang dewi benar-benar hidup dengan cara menitis pada seorang anak perempuan. Anak perempuan ini biasanya berusia empat tahun dan memang orang-orang pilihan dengan syarat-syarat tertentu. Akan menyelesaikan “jabatannya” sebagai dewi ketika menstruasi ataupun berdarah secara sengaja/tidak sengaja.

The Living Goddess tinggal di Kumari-ghar yang berada satu lokasi di Hanuman-dhoka Durbar Square. Selayaknya seorang dewi, masyarakat Nepal memuja sang dewi dan beliau juga hidup selayaknya dewi dengan mengikuti aturan-aturan tertentu.

Ketika pemerintahan Nepal masih dalam bentuk monarki alias kerajaan, The Living Goddess memberikan tika di dahi raja. Zaman sekarang, Sang Kumari tetap mendapat tempat di hati masyarakat. Walaupun lebih sebagai simbol ataupun menghormati dan menjaga adat-budaya turun temurun. Meski ada masa transisi hebat yang harus dilewati para ex-Kumari saat kembali ke kehidupan manusia fana. Sebagian ada yang berhasil menjalani kehidupan manusia fananya dan memiliki karier yang sukses. Tetapi ada juga yang tidak bisa move on, gagal mengaktualisasi diri sehingga menghabiskan waktu di rumah saja.

 

Kisah Kelam Keluarga Kerajaan

Nepal adalah salah satu kerajaan tertua di dunia (500 SM) sampai akhirnya gejolak paling berdarah yang akhirnya mengubah sistem pemerintahan negara ini menjadi republik. Tahun 2001 adalah masa paling menyedihkan bagi rakyat Nepal, ketika raja, ratu dan sebagian orang kerajaan “dibunuh” oleh putra raja sendiri. Tahun 2008 atas voting yang dilakukan oleh rakyat maka sistem pemerintahan berubah menjadi republik. Sepertinya rakyat lebih memilih untuk tidak diperintah oleh kekuasaan yang tidak bisa mereka pegang kebenarannya.

Pasalnya sampai sekarang peristiwa berdarah tersebut masih menjadi misteri bagi masyarakat Nepal. Mereka tidak percaya kalau raja dibunuh oleh anaknya sendiri. Kisah-kisah kerajaan ini masih sering menjadi buruan wisatawan. Meskipun orang-orang yang ditanyakan tidak sanggup memberi penjelasan yang cukup memuaskan. Mulai dari pemilik toko buku, supir taksi, pelayan restoran, pemilik hotel, serta penduduk lokal dengan profesi berbeda lainnya.

Mereka tidak sungkan menceritakan kisah sedih tersebut. Walapun dari nada suaranya masih menyimpan duka yang mendalam. Sisa-sisa kejayaan kerajaan Nepal dapat dinikmati di Narayanhiti Palace Museum—yang dulunya adalah istana tempat keluarga raja tinggal. Ada bermacam koleksi milik raja yang bisa dilihat publik di sana.

Kemudian, ruang-ruang tempat raja melakukan perjamuan dengan tamu-tamu luar negeri, kamar tamu menerima tamu kerajaan lain, ruang tempat raja bertahta dan lain-lain. Sayangnya, ada sebagian ruangan yang tidak boleh dimasuki serta tidak boleh diabadikan lewat kamera.

Pemandangan Seharga 100 $

Banyak orang yang mengejar pemandangan Himalaya. Beberapa tempat yang menjadi destinasi adalah Nagarkot dan Pokhara. Nagarkot berlokasi 32 Km dari Kathmandu dengan waktu tempuh sekira 1-2 jam perjalanan. Berada di ketinggian 2195 mdpl membuat udara di sini dua kali lebih dingin ketimbang Kathmandu. Tempatnya yang memang berada di ketinggian membuat hotel yang ada di Nagarkot cukup terbatas pun harganya selangit. Namun banyak orang tetap bersikeras mengunjungi Nagarkot demi mengejar pemandangan Himalaya yang sungguh rupawan.

Salah satu hotel yang “menjual” pemandangan yang luar biasa tersebut adalah Country Villa. Tidak tanggung-tanggung satu kamar deluxe dengan pemandangan Himalaya terbentang disewa dengan harga 108 $ permalam—dengan heater dalam kondisi tidak mumpuni, listrik yang mati hidup dan tanpa WiFi di kamar. Oh, ya air panasnya juga tidak selalu ada. Salah satu penjelasan manajemen hotel kenapa kondisi bisa sampai seperti itu karena pasokan listrik dan kondisi geografis yang cukup sulit mengangkut perbekalan dari bawah ke atas. Tapi…pemandangan yang rupawan menjadi penyembuh buat hati yang dongkol dan tubuh yang menggigil karena harga selangit tapi service minim tersebut.

Pokhara adalah cerita lain. Butuh 4-5 jam untuk sampai ke Pokhara dari Kathmandu. Namun tidak seperti Nagarkot yang hanya bisa melihat pegunungan, di Pokhara ada banyak tempat menarik untuk dikunjungi ada Museum Bandipur, Danau Phewa dan titik start untuk trekking—ada beberapa macam pilihan mulai dari 1 hari sampai 16 hari. Jika hanya ingin menikmati jalan-jalan turis selayaknya Thamel di Kathmandu bisa juga dilakoni di Pokhara karena ada banyak toko yang menjual aneka aksesori, cinderamata di sini.