Muhammad Ryan Ramadhan, Not Just A Pageant

Browse By

Menjadi seorang jebolan ajang Male Pageant, membuat namanya kian dikenal. Namun lebih dari itu, nyatanya ia memiliki tujuan yang lebih mulia, memberikan inspirasi dan manfaat bagi masyarakat.

Teks: Dana A. Anjani | Foto: Andru Kosti

Nama Ryan Ramadhan barangkali sudah dikenal sejak 2008. Kala itu, ia tengah mengawali karirnya sebagai seorang model. Hingga pada tahun 2009 ia mulai mengikuti ajang pemilihan Jaka Dara Kota Medan, dan pada tahun 2010 menyabet gelar sebagai Jaka Kepribadian. Ryan mengaku sudah menyukai dunia pageant sejak duduk di bangku sekolah. Menurutnya, itu adalah salah satu cara untuk mengembangkan diri, mulai dari skill, pengetahuan, hingga relasi dengan orang lain.

Ia yang lebih dulu mendalami dunia modelling, mengaku bahwa karir sebagai seorang model bukanlah hal yang paling ia targetkan. Menurutnya, banyak keinginan yang tak tercapai dengan hanya menjadi seorang model. “Saya juga ingin meningkatkan skill dan pengetahuan saya, dan menurut saya, hanya dengan menjadi seorang model saja, tidak akan cukup,” ungkap lelaki asal Pangkalan Brandan ini. Hal ini pulalah yang membuatnya kemudian mengikuti ajang pemilihan duta pada tahun 2012.

Ryan mengikuti Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara tingkat nasional, dan mendapatkan gelar sebagai Putera Pembatik Terbaik. Kemudian ia juga menjadi Duta Bahasa Kota Medan pada 2013-2014, dan menjadi Duta Koperasi pada 2015. Tak cukup menjadi duta dan Jaka Kota Medan, Ryan kemudian mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang yang lebih besar, Mister Tourism Indonesia pada 2016.

“Untuk mengikuti ajang ini, banyak hal yang masih harus dipersiapkan, seperti fisik yang memadai, ilmu yang cukup, dan yang pastinya harus mengantongi ilmu akademik yang mumpuni,” jelasnya. Segala persiapan ini lah yang Ryan selalu maksimalkan untuk mendapatkan hasil sesuai dengan keinginannya selama ini, menjadi Mister Tourism Indonesia 2016, dan berperan dalam mempromosikan pariwisata yang ada di negeri ini.

Menurutnya, ajang Mister Tourism Indonesia 2016, adalah satu dari sekian banyak ajang yang ia ingin ikuti sebelum akhirnya memilih pensiun dari perhelatan semacamnya. “Target saya, di umur 27 tahun yang sekarang ini, saya sudah menyelesaikan semua tugas, dan rasa ingin tahu saya terhadapat Male Pageant,” pungkasnya. “Setelah Mister Tourism ini selesai masa pengabdian, saya memilih untuk berhenti dari ajang-ajang pageant lainnya, dan memberikan kesempatan pada teman-teman lain untuk mampu mendapatkan pengalaman yang sama seperti saya,” tambahnya lagi.

Ryan pun menuturkan, setelah karirnya sebagai seorang pageant dan duta di masyarakat selesai, ia ingin melanjutkan karirnya di dunia entertainment. “Sudah ada tawaran dari Jakarta, tinggal menyelesaikan tugas yang sekarang, selanjutnya, Inshaallah akan fokus pada dunia hiburan tanah air,” jelasnya.

Selama menjadi Mister Tourism sejak terpilih hingga saat ini, Ryan pun memiliki pendapatnya sendiri tentang pariwisata di Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa masalah utama pariwiasata di Indonesia adalah masyarakat yang masih tidak sadar wisata. “Bagaimana seharusnya masyarakat dapat mengerti dan paham bahwa daerahnya memiliki potensi wisata yang besar,” paparnya.

“Kesadaran ini pula lah yang bisa meningkatkan kemampun masyarakat dalam mengolah sumber daya yang ada di daerahnya,” katanya pula. Ryan menuturkan dari pengalamannya selama ini, masyarakat lebih banyak memanfaatkan sumber daya alam yang sudah ada sebagai daya tarik pariwisata, sementara, masih banyak hal yang bisa dikelola sehingga daerah tersebut dapat lebih berkembang, bukan hanya pariwisatanya, namun juga sumber daya manusia, dan ekonominya.

“Jangan latah,” tegasnya ketika ditanya tentang bagaimana menjadi seorang duta di masyarakat. “Jangan karena memiliki teman yang mengikuti ajang tertentu. Langsung ingin terjun di bidang yang sama,” tandasnya pula. Menurutnya, pemanfaatan jam terbang adalah yang utama. Ada baiknya untuk mengikuti ajang di daerah dahulu, untuk mencari pengalaman, barulah merambah ke ranah nasional. “Kuasai daerah dulu, baru kuasai nasional. Semua ada prosesnya, mi instan saja ada prosesnya,” pungkasnya.

Haters. Menurut Ryan, haters adalah salah satu hal yang muncul seiring dengan karir yang melejit. “Kita harus mampu ,enyikapi haters dengan bijak. Tidak harus dihadapi dengan sinis. Tunjukkan bahwa kita memiliki karya dan prestasi,” ungkapnya. Menurutnya, selain bisa memberikan inspirasi dan ilmu bagi orang, seorang duta dan jebolah ajang Male Pageants juga harus bisa memotivasi orang lain untuk turut berkarya dan memberikan manfaat pada orang lain. “Jangan melulu memikirkan untung dan uang yang didapat. Kalau uang menjadi tujuan utama, maka yang ada hanyalah money oriented,” tegasnya.

Related Post