Menyesapi Keindahan Kota Naga

Browse By

Sebuah kota keramat, yang tak banyak orang tahu, bahwa ada sejuta kenikmatan di dalamnya, mungkin lewat cara ini, Tuhan tak ingin keindahan ciptaannya dirusak oleh tangan jahil manusia.

Penulis & fotografer: Melda Nurrisha Lubis

Tak sembarang kaki bisa melangkah, sebab entah sudah berapa nama yang tersapu dan tergulung ombak, hingga pada akhirnya menyisakan duka. Bila Anda punya niat tak baik atau sulit untuk menjaga kosa kata, maka lupakanlah niatan untuk berkunjung ke kota ini, karena kota naga ini sangat sensitif dengan manusia bertipe macam itu.

Tapaktuan memang tersohor akan sebuah legenda Tuan Tapa dan Putri Naga. Cerita tersebut telah hidup ratusan tahun di dalam masyarakat. Hikayat ini pula sangat mudah untuk dapat didengar dari A sampai Z. Pun legenda bukan bualan belaka, karena dibarengi dengan ornamen ornamen yang memiliki bentuk dan rupa seperti yang tergambar di dalam cerita. Dan saya pun bukanlah pandai layaknya dalang yang piawai menceritakan lewat goresan pena ini, sebab hanya hendak membagikan secuil pengalaman dari negeri petuah ini.

Sejarah Tapaktuan

Usut punya usut, diyakini bahwa di Aceh Selatan ini hidup sepasang naga yang memiliki anak perempuan diberi nama Putri Naga atau Putri Bungsu. Putri cantik jelita nan rupawan ini, menurut cerita ditemukan sang naga dari laut lepas usai badai dahsyat yang menenggelamkan sebuah kapal dari daratan Cina. Seiring berjalan waktu, putri manusia ini pun tumbuh dewasa, karena memiliki sifat manusiawi, ia pun ingin pergi puncak gunung tempat bersemayamnya sepasang naga tersebut, hal ini pula yang membuat naga membuncah dan membabi buta setiap yang dilihatnya, hingga akhirnya amarahnya itu mempertemukan sang naga dengan petapa bernama Teuku Tuan.

Pertempuran tak bisa dielakan, setelah dipukul oleh Teuku Tuan, naga itu mati berantakan. Darahnya tumpah berserakan si suatu tempat yang sampai sekarang tempat darah naga itu berserakan dinamakan kampung Batu Merah. Bagian tubuhnya yang lain tercampak di tempat lain, hati naga itu tercampak di suatu daerah yang sampai sekarang dinamakan kampung Batu Hitam.

Ukuran jejak kaki yang mencapai  3 x 1,5 meter, seraya mendukung kisah itu, karena diyakini warga sekitar, bahwa pada waktu Teuku Tuan hendak membunuh sang naga, sempat terjadi kejar-kejaran antara Teuku Tuan dan sang naga. Maka pada suatu ketika, berbekaslah tapak kaki Teuku Tuan ini. Jejak kaki yang sebelah kanan, berada di pinggir laut diatas sebuah batu. Sedangkan jejak kaki sebelah kiri berada di dalam kota di atas tanah. Antara jejak satu dan yang satunya lagi lebih kurang berjarak 500 meter.

Jadi bila tak sempat mengunjungi dan melihat langsung keajaiban jejak tapak raksasa, rasanya tak lengkaplah kunjungan Anda. Tak perlu cemas, karena bila melawat ke sana, akan ada warga yang menemani, sembari mengingatkan, bahwa tak boleh sembarang berucap apalagi ucapan yang angkuh, niscaya kesulitan akan ditemui.

Air Terjun Tujuh Tingkat

 

Berangkat dari cerita asal muasal kota yang juga terkenal dengan manisan buah palanya, kota yang merasakan dampak tsunami 2014 ini juga punya keindahan lainnya, bila suasana tengah gerah, ada air terjun tujuh tingkat yang punya kesejukan air yang menenangkan, berada dibalik pepohonan rindang, membuat nuansa asri kian kental.

Dalam setiap tingkatan air terjun, selalu ada kolamnya, jadi serasa alam ingin menyediakan kolam renang alami, dan percaya tidak percaya tingkat kedinginanya pun berbeda pada tiap tingkatan air terjun.

Udara pegunungan yang menyelimuti tubuh, membuat tubuh menjadi lebih rileks dan nyaman, serasa mencampakan jauh-jauh segala penat akan rutinitas sehari hari, oh iya, bila hendak melawat kemari, pastikan tidak pada bulan yang berakhiran –ber, karena hujan akan merusak mood liburan Anda, karena alam tak mungkin dilawan.

Bila dari Jakarta, atau pun dari daerah lain, Anda bisa mengambil penerbangan ke Medan atau Kualanamu Internasional Airport, lalu bisa menyambung pesawat dengan tujuan menuju Bandara Kelas IV Teuku Cut Ali, Pasie Raja, Tapaktuan. Namun kadang jadwal tak bersahabat, sehingga menyambung perjalanan via darat adalah pilihan terbaik, dengan travel seharga Rp 180.000 sekali jalan.

Awal april hingga Agustus akhir adalah waktu tepat untuk berkunjung ke sini, sebab cuaca cerah, dan angin laut yang lebih tenang, menjadi alasan utama, sebab bila ombak tinggi adalah sebuah ketidak mungkinan bagi Anda untuk melihat jejak Tapaktuan.

Untuk menambah kenyamanan, bawalah bantal untuk leher, agar perjalanan lebih nyaman, waktu tempuh 8 jam dan jalan lintas Sumatera yang masih bolong-bolong akan cepat menguras tenaga.

Tiket pesawat ke Medan dari Jakarta Rp 700.000, lalu ditambah dengan biaya travel bus Rp 180.000 untuk one way, bila pulang pergi akan menghabiskan Rp 1.760.000. untuk biaya makan di sana masih relatif murah, sekitar Rp 20.000 untuk sekali makan. Lain cerita bila Anda telah mempersiapkan mie instan dalam gelas yang tinggal seduh, pasti jauh lebih murah.