Mengenal Adat Istiadat Mandailing

Browse By

Teks: Resta Napitupulu  Foto: Bersama

PernikahanBobby Afif Nasution dan Kahiyang Ayu Siregar memang jadi sorotan. Selain dikarenakan, mempelai perempuan, Kahiyang, adalah putri satu-satunya dari Presiden RI, Joko Widodo, juga dikarenakan pernikahan ini melibatkan dua adat yang berbeda, Jawa dan Mandailing.

Usai menjalani upacara adat di Solo, Jawa Tengah, kini giliran adat Mandailing yang digelar oleh pihak keluarga Nasution. Sedikitnya, ada 15 tahapan proses yang harus dilewat dalam prosesi upacara adat.

Dimulai dari Haroan Boru, Mangalehan Marga, Manalpokkon Lahan Ni Horja atau memotong kerbau). Dilanjutkan dengan Manyantan Gondang dan Gordang Sambilan, Margalanggang, Mangalit Alo Mora serta Manarimo Tumpak, lalu Manortop tahap dua. Puncak Acara adat akan dihiasi dengan Membawa Penganten ke Tepian Raya Namun Martua, Penabaian Gelar Adat, Mangupa, Ajar Poda, Tor Tor Somba, dan ditutup dengan Manyoda Gondang serta ucapan horas tiga kali.

Penganten juga memakai pakaian adat, lengkap dengan aksesoris yang masing-masing memiliki filosofi. Penganten laki-laki, misalnya, memakai Ampu di kepalanya. Dimana pada bagian ujung Ampu, dibuat garis topi yang mengarah ke atas dan ke bawah. Yang artinya penganten harus senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan yang di atas, serta mengasihi sesama manusia yang dibawah.

Sedangkan pada perempuan dikenakan Bulang dengan warna keemasan yang dulu memang dipakai oleh para raja. Dan semuanya itu sengaja dibuat dengan berat, supaya penganten ke depannya juga mampu melewati kehidupan rumah tangga yang memang berat.

Darmin Nasution, selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, menyatakan, “Upacara adat itu juga menjadi simbol pengokohan dua keluarga besar. Agar selanjutnya, kekerabatan antar keluarga bisa bertumbuh dengan mengutamakan golongan dohot domu (dibaca: kasih dan kerukunan) yang menjadi falsafah hidup masyarakat Mandailing,”.