Mengebut dengan Musik Bersama Baby Driver

Browse By

Penulis Lazuardi Pratama

Sutradara dan penulis skrip: Edgar Wright
Pemeran: Ansel Elgort, Lily James, Kevin Spacey, Eiza Gonzalez, Jon Bernthal, Jon Hamm, dan Jamie Foxx

 

Ada yang selalu diharapkan dari menonton film-film besutan Edgar Wright. Sutradara Inggris ini menjadi istimewa dan mendapat tempat di panggung sinema dunia berkatciri khasnya dalam storytelling.

Ciri khasnya yang paling menonjol antara lain visual comedy yang kreatif dan transisi antaradegan yang unik. Selain itu, ia juga sering menyingkronkan efek suara dengan musik latar.

Wright mulai dikenal dunia setelah ia membesut film pertama dari trilogi Cornetto, Shaun of the Dead(2004). Disebut trilogi Cornetto sebab dalam ketiga film itu (film yang lain adalah Hot Fuzz(2007) dan The World’s End(2013), terdapat es krim Cornetto. Bekerja sama dengan aktor Simon Pegg dalam penulisan skrip, Wright menceritakan film zombie dengan cara tutur yang lucu dan segar, sembari mempermainkan kebiasaan film-film zombie.

Wright dikenal sebagai sutradara yang cerdas dan kreatif dalam memperlakukan setiap adegan dalam film-filmnya. Dalam Hot Fuzz misalnya, Wright melakukan quick cuts, seringkali disusul zoom in cepat, adegan seorang polisi (diperankan Simon Pegg) ketika menjalankan rutinitas sehari-hari. Di The World’s End juga seperti itu, tapi kali ini adalah adegan penyajian bir di pub. Ia membuat adegan yang esensial namun berpotensi membosankan menjadi menyenangkan. Hot Fuzz dan Scott Pilgrim vs. the World (2010) adalah film Wright dengan penggunaan visual comedydan transisi unik paling masif dibanding filmnya yang lain.

Sementara itu, sinkronisasi efek suara dengan musik latar sudah dilakukan Wright dalam Shaun of the Dead, saat Simon Pegg dan teman-temannya memukuli zombie dengan tongkat biliar dan efek suara pukulan itu sinkron dengan musik latar Don’t Stop Me Now yang dipopulerkan Queen. Film Baby Driver ini adalah manifestasi paripurna dari ciri khas ini.

Baby Driver bercerita tentang kisah Baby (Ansel Elgort), seorang pengemudi berbakat yang bekerja untuk melarikan perampok dari kejaran polisi. Baby punya gangguan gendang telinga sehingga harus mendengarkan musik setiap saat untuk menekan suara dengung di telinganya. Suatu hari, ia bertemu dan jatuh cinta dengan Deborah (Lily James) dan melihat kesempatan untuk keluar dari dunia kriminal.

Setiap orang bisa memasukkan musik dengan visual di dalam film, terutama jika punya duit untuk beli hak pakai dan menggaji music supervisor handal. Tetapi menyelaraskan musik ke dalam adegan atau momen penting dengan hati-hati dan terkonsep dapat menciptakan pengalaman sinematis yang dapat menyihir. Baby Driver adalah film yang sangat cerdas dalam menggunakan musik seperti itu.

Menonton Baby Driver seperti merasakan langsung apa yang didengar oleh Baby. Musik latar yang berputar dari Ipodnya pun berperan besar menggerakkan film ini, mulai dari dialog yang terinspirasi dari lirik lagu hingga suasana mood. Bahkan pada kesempatan ketika musik tidak berputar, kita diberikan suasana tidak nyaman dengan suara dengung, persis seperti apa yang didengar Baby.

Contoh paling menonjol adalah sekuens kejar-kejaran yang menjadi pembuka film ini. Lagu Bellbottoms oleh The Jon Spencer Blues Explosion mengiringi Baby dengan mobil Subaru merahnya menembus lalu lintas perkotaan sembari membawa tiga orang yang berhasil membobol sebuah bank. Segera setelah tiga kriminal tadi masuk mobil, segalanya bergerak dengan ritme, dari mulai bantingan pintu mobil hingga decit suara rem. Rasanya sulit sekali menebakfilm lain dengan adegan kejar-kejaran semenyenangkan dan sekeren ini (no, you’re not even close, Fast and Furious). Jadi pastikan untuk tak terlambat masuk bioskop untuk menyaksikan sekuens ini.

Bukan Edgar Wright namanya jika tak ada kesempatan untuk menyelipkan momen-momen menggelikan, pastinya dengan tema musikal seperti ini. Selain mengatur suasana, Wright juga menyelaraskan efek suara dari adegan dengan musik yang sedang berputar. Misalnya suara tembakan yang secara komikal menjadi beats atau ketukan lagu.

Namun dari segala nikmat dari momentum itu, Edgar Wright melaluiBaby Driver tidak berbicara lebih banyak dari film-film sebelumnya tentang visual comedy dan transisi unik. Jadi jika sudah pernah nonton Trilogi Cornetto dan Scott Pilgrim sebelumnya dan berharap film ini akan sekonyol itu, coba dipikirkan ulang ekspektasinya karena Baby Driver adalah action-musical dengan ketegangan suasana kriminal a la film heist dan ketegangan penuh energi lewat adegan balapan mobil serta tentu saja dengan sentuhan kreatif Edgar Wright.