Menertawakan Susah Sinyal

Browse By

Film ketiga yang skenarionya ditulis langsung Ernest Prakasa ini, semakin mematangkan namanya sebagai seorang produser handal, tak sekedar aji mumpung yang banyak orang sematkan padanya. Lewat sentuhan tangannya, ia mampu melahirkan film drama yang bernuansa komedi, lagi!

Peran Ellen seakan menggambarkan problema saat ini, dimana wanita karir selalu punya masalah dalam membagi waktu, yah, memisahkan perhatian antara keluarga dan pekerjaan memang amat rumit, walau tak serumit mencari jodoh.

Kali ini Ernest coba menjadikan masalah yang cukup komplit dalam sosok Ellen, mulai dari susah move on dari mantan suami, konflik perasaan dengan sang anak, hingga kerjaan yang berantakan akibat ‘susah sinyal’. Walau pun pada akhirnya saya tidak menemukan bagian mana muncul masalah hebat akibat tidak ada sinyal, walau sempat sedikit terkendala tapi sosok Iwan toh mampu mengatasinya.

Film ini pun jelas punya rasa yang berbeda dari film Ngenest ataupun  Cek Toko Sebelah, sebab Ernest tidak lagi mengangkat latar sosialnya sebagai keturunan Tionghoa sebagai inti cerita, Melainkan memindahkan sudut pandang kepada seorang ibu tunggal bernama Ellen, seorang pengacara sibuk, bersama anak semata wayang, Kiara.

Film pun dibuka dengan scene kedekatan Oma Agatha dengan Kiara, penonton pun serasa masuk dalam suasana terenyuh saat maut memisahkan keharmonisan itu. Menyisakan luka pada Ellen dan Kiara.

Selepas itu hampir cerita hanya berfokus pada konflik ibu dan anak. Naasnya, Adinia yang memerankan Ellen tidak mendapatkan tandem akting memadai dari Aurora (Kiara). Di beberapa bagian Aurora tampil datar dan tak berjiwa karena kemampuan dirinya dalam mengeksplorasi karakter belum terasah benar.

Pada akhirnya ritme film terasa timpang. Tidak heran Susah Sinyal akan lebih diingat karena kumpulan sketsa komedinya, ketimbang tutur humanis. Lagi-lagi harus diakui lelucon para komika jadi penyelamat!

Pentingnya Kedekatan Ibu dan Anak

Walau Susah Sinyal jauh dari ekspektasi, tidak lantas saya kecewa. Film berdurasi 110 menit ini masih dapat saya nikmati. Meskipun tidak membuat saya terpingkal-pingkal maupun berderai air mata.

Walau terkesan samar, tercatat paling tidak ada dua isu yang ingin disampikan sutradara. Pertama, Ernest mengingatkan penonton akan pentingnya kehadiran orang tua, khususnya ibu, dalam kaitannya dengan kisah Ellen dan Kiara. Bahwa yang sebenarnya dibutuhkan dari seorang anak bukanlah kebahagiaan semu yang diciptakan melalui pemberian materi, melainkan kebahagiaan abadi yang hanya tercipta melalui interaksi, yaitu waktu dan kehadiran Ellen sebagai ibu.

Perebutan hak asuh anak antara Sandra (Gisela Anastasya) dengan Marco (Gading Martin) seolah jadi cerminan hidup Ellen di masa lalu.

Mungkin kesuksesan yang diraih Cek Toko Sebelah yang membuat Ernest berhati-hati dalam mengambil keputusan, hal ini pun terlihat dari beberapa wajah yang sama dalam film sebelumnya. Lantas apakah film akan lebih baik dari sebelumnya ?

Related Post