Lost in Simeulue Island

Browse By

Birunya laut, beningnya hamparan pasir dan hempasan ombak yang menderu di Simeulue, membuat surgaloka satu ini, selalu erat dengan kata “kembali lagi”.

Teks & Foto: Parada Muqtadir Siregar

Dari balik kaca pesawat, ku lihat dengan samar-samar, sebuah gugus pulau dengan warna biru lautnya serta dikerumunin dengan pohon kelapa nan lebat, hati pun mulai gelisah, tak sabar untuk lekas menginjakan kaki di sana.

Sebelum berpetualang mengungkap ragam keindahan di dalamnya, ada baiknya saya perkenalkan dulu asal usul pulau yang dapat disambangi hanya 45 menit dari Bandara Kualanamu, Sebelum menjadi kabupaten definitif pada tahun 2000 silam, Simeulue berada di bawah Kabupaten Aceh Barat. Meulaboh.  Kini Simeulue terus berbenah baik dari sektor infrastruktur, ekonomi, pendidikan serta wisata alam yang menjanjikan. Kabupaten ini juga memiliki moto Simeulue Ate Fulawan yang berarti Simeulue yang Berhati Emas. Nama yang sesuai untuk keindahan alam dan keramahan warganya ini, emas.

Simeulue awalnya dinamakan dengan Pulo U (Pulau Kelapa). Hal ini bermula lantaran banyaknya pohon kelapa di daerah tersebut. Tidak banyak catatan sejarah mengenai asal usul penamaan Simeulue. Namun berdasarkan buku Budaya Aceh yang diterbitkan oleh Pemerintah Aceh tahun 2009 menceritakan bahwa Simuleu berasal dari nama seorang gadis yang diculik.

Pantai Pasir Tinggi

Jalanan yang mulus, membuat perjalan begitu nyaman, rasanya saya ingin berondok, jika bertemu dengan para pejabat Simeulue, sebab takut ditanya bagaimana keadaan jalan yang ada di tempat ku tinggal.

Hanya memakan waktu 15 menit dari Bandara Lasikin, sudah bisa mendapati sebuah tempat yang mengundang decak kagum, bukan tanpa sebab, pertama karena tak menyangka surgaloka yang mirip betul dengan Maldive itu ada di negeri ibu pertiwi ini.

Rasanya masih seperti bermimpi, tetapi tersadar bahwa keindahan ini benar-benar ada di depanku, sungguh indah kepulauan ini.

Kapan pun sebenarnya baik untuk meyambangi pulau ini, namun kadang alam susah untuk diajak bernegosiasi, maka perencanaan yang matang perlu dilakukan, agar tak mendulang kecewa, Agustus hingga Desember adalah waktu berbaik untuk bertandang ke sana, sebab selain bisa melihat alamnya yang aduhai, pada bulan bulan itu juga Simeulue kerap mengadakan kejuaraan surfing yang bertaraf Internasional.

Ah, maaf, saya baru sadar, bahwa kita masih berbicara tentang pantai yang punya gradasi warna laut yang begitu terlihat eksotis, ratusan karang-karang coklat yang telah lama berteman dengan angin sepoi-sepoi membuat kaki enggan beranjak dari tempat ini.

Jika kalian yang hobi berselfie ria, maka hanrus menyiapkan memori lebih, karena bisa sepuas hati melakukan pose selfie terbaik mu, sebab pantai satu ini masih jauh dari tangan usil manusia, alias masih ”perawan”.

Melihat mulusnya pantai, karena belum ada fasilitas apapun yang tersedia, macam kursi manja atau pun penjual es kelapa, membuat rasa jenuh kian membuncah, tapi percayalah, momen seperti ini akan sulit Anda dapati ditempat lain, karena alaminya itu nyata!

Pantai Thailand

“Ada tempat suatu tempat yang udaranya masih segar dan panorama nan hijau,”bisik salah seorang teman yang menemani kala ini, dengan penuh penasaran kami pun lekas memacu kendaraan beroda empat menuju ke sana.

Sepanjang perjalanan, hamparan pohon kelapa pun kerap menemani kami, silih berganti hingga bertukar dengan rimbunan pohon mangrove, ternyata ini lah penanda kalau bakal sampai ke Pantai Thailand.

Semakin masuk ke dalam, terdengar lembut suara deburan ombak, rumputan hijau pun mulai tampak, usur punya usut, nama Thailand yang disandang itu berawal dari masa lalu tempat ini, yang dimana para pekerja membangun beberapa camp di sekitar selat sebagai tempat tinggal sementara. Kemudian warga menyebutnya Camp Thailand. Lalu para pekerja itu mengambil kayu-kayu secara ilegal untuk diangkut ke negaranya dengan kapal tongkang melalui laut. Sebelum 2004 mereka pun menghilang entah kemana, dan meninggalkan sisa kayu tebangananya di sepanjang jalan.

Sembari menghela nafas yang dalam, rasanya ingin ku katakan pada dunia, kalau ini memang tak ubahnya surga tersembunyi. Oh iyah, ternyata pantai ini juga punya nama lain, Pantai Labuhan Bhakti warga sekitar menamainya.

Hutan mangrove yang membentak sejauh dua kilometer, menjadi sesuatu yang menarik untuk dicoba, berjalan setapak demi setapak lewat jembatan kayu yang telah dibuat, lalu menyaksikan keanekaragaman hayati yang hidup di atas laut, dan tepat diujung hutan ini, tampak terumbu karang yang masih muda.

Sejenak tertekun, kala melihat gerombolan lembu yang dibiarkan berlalu lalang begitu saja, saya heran, dan bertanya dalam hati, apa tidak takut daging-daging segar itu diambil orang, dan itu semua terjawab, lantaran kehidupan yang rukun satu sama lain di sana, pun karena itu pula lembaga PBB, International Strategy for Disaster Reduction, menghadiahkan penghargaan Sasakawa Award kepada masyarakat Simeulue, atas kearifan lokal yang mampu menekan korban jiwa.

Selain itu, Simeulu juga kaya akan kearifan budaya nya, sebab selain Bahasa Indonesia, ada tiga bahasa asli di pulau yang tersohor akan lobsternya ini, yaitu bahasa Devayan, bahasa Lekon dan bahasa Sigulai. Selain itu juga ada bahasa Nias yang dipakai oleh masyarakat Nias yang mendiami pulau Siumat dan pulau Teupah.

Pantai Alus Alus

Berburu matahari terbit dan terbenam adalah hal klasik, yang selalu dinantikan ketika menyambangi sebuah pulau, jika pada kehidupan sehari-hari melihat sunset adalah hal yang teramat sulit, maklum lah Medan memak terlalu sibuk dengan kemacetan, apalagi gedung-gedung yang menjulang tinggi, semakin membuat sulit untuk melihat sang malam menjemput mentari.

Namun, di Pulau 1001 keindahan ini, berburu sunset maupun sunrise adalah hal yang remeh temeh untuk didapati. Salah satunya di Pantai Alus-Alus, tak sulit untuk mendapati pantai ini, karena memang letaknya dipinggir jalan, hanya beberapa langkah dari tempat kendaraan diparkirkan sudah bisa terlihat luasnya laut yang membentang, tak lama, terdengar pula nyanyian burung yang merdu.

Lingkaran bulat, dengan warna khas senja mulai terbentuk, banyak pelancong yang menikmati nya sembari melakukan surfing, sebab pantai ini punya ombak yang dicari para peselancar, ah, ternyata benar adanya, keindahan Simeulue tak hanya sebatas difoto yang berseliweran di dunia maya, karena anugerah kemolekan ini memang sudah anugerah Tuhan, yang harus dijaga dengan baik, bila dikelola dengan baik, bukan tak mungkin 10 tahun mendatang, wisatawan dari luar sana, akan lebih tertarik ke sini, timbang Bali yang mulai sesak.

Masih banyak pesona Simeulue yang tak mungkin bisa sempat semua saya tuangkan dalam bait tulisan di sini. Belum lagi terkait objek surfing, mancing, dan diving yang dunia pun mulai menengoknya. Jadi siapkan banyak waktu luang, karena untuk menikmati sejumput keindahan Simeulue tak cukup hanya seminggu.

Related Post