Mr. Amizal Fadzli Rajali (Konsul Jeneral Malaysia untuk Kota Medan): In The Moment

Browse By

Teks: Dana A. Anjani | Foto: David Siahaan

Ia memiliki latar pendidikan pada bioteknologi, dan sempat bekerja di laboratorium sebagai seorang ilmuan. Namun hasratnya akan ilmu dan pelayanan pada negara membuatnya memilih untuk berkarir di dunia bilateral.

Nama Amizal Fadzli Rajali barangkali baru dikenal sebagian masyarakat Kota Medan pada akhir tahun lalu ketika ia ditugaskan untuk menjabat Konsul Jeneral Malaysia di kota ini. Tutur kata yang lembut, perangai yang santun, dan senyum yang tak segan mengembang menjadi beberapa hal yang tampak ketika pertama kali bertemu dengan lelaki yang juga pernah menjadi penasehat Kedutaan Besar Malaysia di Serbia ini.

Dibesarkan di keluarga yang peduli akan pentingnya pendidikan, ibunya seorang guru, dan ayahnya adalah seorang manajer di sebuah bank di Malaysia. Faktor ini pun membuat Amizal tumbuh menjadi anak yang cerdas dan haus akan ilmu pengetahuan. Kepada KOVER Magazine, ia bercerita banyak tentang kehidupan dan kiprahnya di dunia bilateral selama ini.

Pada tahun 1970-an, ketika Amizal masih berumur 7 tahun, televisi adalah satu-satunya sumber informasi yang dapat diakses. Meskipun kala itu, televisi masih hitam putih dan hanya menyiarkan satu acara, berita. “Waktu itu, ketika saya masih kecil, saya menonton tv, berita malam dunia yang saat itu menayangkan para diplomat yang sedang membahas tentang isu di dunia,” ungkapnya memulai cerita. Ia pun mulai bertanya pada kedua orang tuanya tentang orang-orang yang dalam tayangan tersebut. “Orang tua saya cakap, mereka adalah para diplomat, dan waktu saya tanya apa tugas mereka, orang tua bilang tugas mereka adalah menjaga keamanan dunia,” ucapnya. Ketika itu pula, ia mulai tertarik pada dunia bilateral. “Kemudian orang tua saya bercerita bahwa para diplomat ini mewakili tiap Negara untuk menjalin hubungan, dan menjada kedamaian dan keamanan antara Negara-negara di dunia, sejak itu pula, saya mulai bercita-cita untuk menjadi seorang diplomat,” paparnya mantap.

Layaknya anak-anak seusianya yang menempuh pendidikan, Amizal pun diarahkan untuk mampu mencapai cita-cita oleh orang tuanya. Mulai dari mempelajari dan memperdalam Bahasa Inggris, dan Matematika yang dirasa penting untuk melancarkan jalannya. Duduk di bangku SMA, Amizal yang cemerlang dalam bidang science pun mulai menekuni dunia eksakta dan mengambil jurusan bioteknologi ketika berkuliah. Lepas menjadi sarjana, ia kemudian bekerja di salah satu laboratorium di Malaysia dan menjadi seorang scientist. Namun, bekerja di laboratorium nampaknya tak cukup untuk menjawab kehausannya akan ilmu dan pelayanan kepada Negara. Ia kemudian melanjutkan pendidikan masternya di bidang manajemen di salah satu universitas disana dan menyelesaikan pendidikannya pada tahun 2002. Kemudian di tahun berikutnya, ia mulai mengikuti pelatihan bilateral yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia, dan berkarir di kedutaan.

Pada tahun 2007, ia hijrah ke Serbia, dan menjadi penasehat kedutaan besar Malaysia disana. Menurutnya, Serbia memberikan tantangan tersendiri, mengingat kedutaan besar Malaysia yang sempat ditutup selama beberapa tahun. Perbedaan budaya yang cukup siginifikan agaknya bukanlah sebuah hambatan, melainkan menjadi satu kuncian untuk dapat kembali diterima dan berasimilasi dengan masyarakat setempat.

Mengabdikan diri untuk negara dengan bekerja di negara lain, tak lantas membuatnya menjadi lupa akan budaya yang ia miliki. Itu pulalah yang ia tanamkan pada ketiga anaknya selama ini. Perbedaan budaya yang ditemui justru membuat anak-anaknya lebih menghargai dan menerima perbedaan, selain itu, mereka juga bisa lebih mandiri dan mudah dalam beradaptasi. “Mereka memang berada di tempat lain, dan mempelajari budaya yang ada, tapi saya tetap mengajarkan mereka tentang budaya kami sebagai warga Malaysia, karena kemanapun mereka melangkah, Malaysia adalah tanah air mereka,” tandas lelaki yang gemar membaca ini.

Ia pun bercerita tentang anak sulungnya, yang sedikit berbeda semenjak tinggal di Kota Medan. “Anak sulung saya itu, tidak suka makan sayur, dan kalaupun mau itu hanyalah brokoli. Namun ketika saya ajak dia makan di Rumah Makan Padang di Medan ini, dia malah suka dengan sayur daun ubi tumbuk yang belum pernah ia makan sebelumnya,” ucapnya penuh tawa. “Sekarang itu yang jadi favoritnya kalau makan, saya senang karena keberagaman di Medan ini mampu menciptakan banyak hal positif,” katanya lagi. Sebagai seorang ayah, ia pun mengaku tak pernah memaksakan anaknya untuk turut pada jalan karir yang kini ia tempuh. Namun ia tetap memberikan target pada anak-anaknya guna menentukjan arah bagi pendidikan mereka nantinya. “Selfish rasanya kalau saya paksa mereka sesuai dengan kemauan saya,” tandasnya.

Menjabat sebagai Konsul Jeneral Malaysia di Kota Medan, memberikannya kesempatan untuk lebih mengembangkan kerja sama antar dua Negara melalui kota ini. Medan yang memiliki keberagaman budaya mengingatkannya pada Negeri Sarawak, salah satu bagian Malaysia yang ada di Pulau Kalimantan. “Datang ke Medan serasa pulang ke rumah sendiri, saya tidak merasa ada banyak perbedaan disini,” tuturnya. Menurutnya, Medan juga menjadi salah satu destinasi utama warga Malaysia yang berkunjung ke Indonesia, begitu juga sebaliknya. Sehingga hal ini juga bisa digunakan untuk saling mendekatkan hubungan bilateral kedua Negara.

Ia pun berupaya untuk lebih meningkatkan kerjasama yang ada. Untuk dapat sama-sama memaksimalkan potensi yang dimiliki kedua Negara. “Saya ingin mencari tahu kuncian yang bisa dilakukan untuk melancarkan proses ini, dan membangun kedua Negara secara maksimal, baik secara infrastruktur dan pemerintahan,” tandasnya. Menurutnya, pendidikan merupakan salah satu bidang yang bisa dikembangkan untuk membangun kerja sama antara dua Negara. Namun tetap harus menurut pada birokrasi yang ada.

“Leadership is the success of a team in achieving the goals of the organization,” ucapnya mantap ketika ditanya apa arti kepemimpinan baginya. Menurut Amizal, leadership bukanlah kerja satu orang, tetapi dari kerja tim yang membuat segala pekerjaan jadi lebih mudah, terutama dalam menjalankan tugas bilateral. Karena menurutnya, pemimpin yang baik, adalah ia yang mampu mengajak para anggotanya bekerja bersama-sama untuk meraih tujuan bersama.

Berkecimpung selama 13 tahun di dunia bilateral tak membuatnya cepat puas dengan apa yang ia dapat. Amizal pun mengaku masih haus akan ilmu dan ide-ide yang dapat digunakan untuk membangun pemerintahan. Terlebih lagi untuk para generasi muda yang juga mulai meniti karir pada bidang ini. Menurutnya, penting untuk menetapkan cita-cita dan tahu tentang apa yang diinginkan. “Live in the moment, manfaatkan segala fasilitas yang ada untuk belajar dan mengejar apa yang kita mau,” tegasnya. Ia pun mengungkapkan perlunya sikap mendahagakan ilmu, sebuah sikap yang tak pernah puas untuk mendapatkan ilmu bagi dirinya. Selain itu, sebagai anak muda, ia menyarankan untuk lebih balance dalam melihat isu yang berkembang di masyarakat. “Cobalah untuk balance dalam melihat masalah, dengarkan kedua pihak dan bersikap kritis untuk mampu membuat informative decision, bukan malah emosional decision yang bisa merusak,” papar lelaki yang ternyata menyukai film fiksi ini.