Lion: Singa yang Kembali Pulang

Browse By

Lion adalah film tentang perjalanan pulang dan emosi yang berkelindan di dalamnya. Diangkat dari kisah nyata dan performa akting jempolan yang muncul dari tiap tokoh, nontonlah kalau kau merasa ingin “pulang”.

Reviewer: Lazuardi Pratama | Foto: Collider

Rumah menurut Saroo bukan berbentuk kata benda yang fisik, melainkan kata sifat atau lebih dalam lagi adalah soal batiniyah. Rumahnya tidaklah besar; ia kelihatan besar saat Saroo kecil (Sunny Pawar) pulang ke rumah bersama abangnya Guddu membawa dua bungkus susu, tapi saat Saroo dewasa (Dev Patel) pulang, ia hanya sebesar dapur rumahmu. Tapi dalam hati dan perbuatan Saroo, rumahnya yang kumuh itu besar bagai dunia ini. Maka saat ia kehilangan rumah, ia mati-matian ingin pulang.

Film ini diangkat dari kisah nyata yang kemudian dibukukan oleh Saroo sendiri dan ghostwriter-nya Larry Philip Buttrose. Ia bercerita tentang Saroo kecil yang tersesat ribuan kilometer dari rumahnya di India. Saroo kecil yang punya semangat kuat membantu ekonomi keluarganya ini memaksakan diri ikut abangnya bekerja di luar desa. Nahas ia terbawa kereta api dan terdampar di Kota Kalkuta, kota yang mayoritas berbahasa Bengali (dan Saroo kecil tak tahu apa-apa soal bahasa itu). Lost in translation.

Bertubuh mungil dan masih berusia lima tahun dengan segala pemikiran polosnya membuatnya makin jauh tersesat. Ia tidur di emperan stasiun, kolong jembatan, di mana saja yang punya atap dan makan apa yang ada. Kadang-kadang ada beberapa kesempatan yang hampir membuatnya celaka.

Penata gambar Greg Fraiser kemudian memanfaatkan kesempatan ini dengan mengambil shot dari jauh atau dari atas. Hal itu untuk menunjukkan bahwa Saroo yang tubuhnya kecil itu semakin kecil dan seperti tak berarti di tengah-tengah manusia Kota Kalkuta yang menyemut. Kadang-kadang gambar Saroo diambil dari tengah-tengah keramaian. Namun yang paling penting, Saroo kecil tak pernah digambarkan akan menyerah. Layaknya lagu Never Give Up oleh Sia yang jadi soundtrack film ini.

Setelah melalui beragam pengalaman pahit selama menggelandang di kota, Saroo kecil kemudian diadopsi oleh pasangan dari Australia, John (David Wenham) dan Sue (Nicole Kidman). Saroo kecil kemudian menjadi Saroo besar yang diperankan oleh Dev Patel (Slumdog Millionaire, 2008). Latar dan nada gambar kemudian berubah drastis seiring pindahnya Saroo dari Kalkuta ke Hobart, Tasmania. Di India, orang-orang tidur di stasiun sambil menyimpan ketakutan ditangkap Satpol PP, di Australia, tetangganya mencuci kapal laut di pekarangan rumah. Di India, Saroo dan abangnya mesti mencuri batu bara dari kereta api yang sedang melaju untuk dua mangkuk susu, di Australia, ia hanya perlu duduk di atas meja makan lengkap dengan garam dan juga merica.

Menurutku bagian terbaik film ini, selain premisnya yang mengundang simpati, adalah kemantapan akting aktor-aktornya. Penampilan Sunny Pawar, Nicole Kidman, dan Dev Patel adalah yang paling menonjol. Sementara Rooney Mara hanya seperti mendompleng saja, ya karena memang porsi yang diberikan padanya tak seberapa: menjadi Lucy, pacar Saroo. Jika tahun lalu ada nama Jacob Tremblay yang bersinar lewat drama-thriller Room (2016) sebagai aktor anak, kini Sunny Pawar-lah orangnya.

Aku melihat Sunny sebagai Saroo kecil sebagai anak hilang yang layak diberikan simpati. Namun di sisi lain, ia tak pernah mewek ketika harus dihadapkan pada kerasnya hidup perkotaan. Justru aku yang hampir mewek ketika ia berkali-kali memanggil nama abangnya dengan suaranya yang tipis itu. Kredit juga patut diberikan untuk sutradara Garth Davis dalam upayanya mengarahkan Sunny sesuai konteks film.  Oleh karena film ini adalah kesempatan pertama Sunny berhadapan dengan kamera, Davis dan krunya membikin buku bergambar yang menggambarkan cerita film agar Sunny bisa mengerti bagiannya. Menurutku, Sunny harusnya diberikan penghargaan untuk performanya itu.

Selain Sunny, juga ada Dev Patel yang kebagian peran di separuh akhir film. Pembagian ini membuatnya dikategorikan sebagai supportive actor, namun yang membuatnya luar biasa ialah dominasi dan kemampuannya mengalirkan emosi. Dibandingkan dengan Sunny yang kecil tak berdaya, Saroo dewasa kini tampak jauh berbeda hampir 180 derajat. Kini badannya tegap dengan pikiran yang matang. Ia juga punya pacar yang cantik dan pengertian. Namun dengan hidup yang selalu sentosa itu, ada kepingan di hatinya yang hilang: rumah.

Sayangnya, dengan segala kemewahan akting dan premis, Lion tetap saja punya cela. Yang menjadi perhatian adalah bagian tengah film yang terasa dipaksakan dan jelas membikin turned down. Konflik Saroo dewasa dengan Lucy terasa dangkal dan dibuat-buat. Padahal penonton sudah menyimpan ekspektasi bagaimana nasib Saroo dewasa dengan segala kerinduannya akan rumah, kini disibukkan dengan konflik yang terasa tidak penting. Beruntung cerita kemudian beralih ke penggalian lebih dalam tentang mengapa John dan Sue sampai repot-repot mengadopsi anak dari lingkungan kumuh di India menjadi bagian dari hidup mereka. Cerita menyentuh ini syukurnya disokong oleh kualitas akting Nicole Kidman dalam suatu adegan singkat nan berkesan.

Tapi segala kekurangan itu kemudian menjadi sirna ketika Saroo dewasa berhasil menemukan rumahnya dan kemudian pulang kampung. Melalui perjalanan yang telah ia lewati selama 25 tahun itu, kita diajak kembali pada kenangan-kenangan masa lalu Saroo, dan lewat kenangan itu, ia berhasil menelusuri dari mana ia berasal dari sekian banyak desa dan stasiun kereta di India. Momen mengharukan sekaligus membuat lega.

Di rumah-nya itu, ia ternyata menemukan kenyataan-kenyataan yang ternyata ia lewatkan selama ini. Salah satunya tentang mengapa film ini berjudul Lion dan ternyata punya korelasi kuat bila kita mengingat kembali perjalanan Saroo dari awal hingga akhir.

Related Post