Lawatan ke Tempat Lahir Sisingamangaraja, Penutup Agenda Batak Imagery 1900

Browse By

Sesi terakhir pemotretan dilakukan di Humbang Hasundutan (Humbahas), para Maestro of Photography Indonesia yang turut memeriahkan anniversary Kafe Potret Medan akhirnya sampai dipuncak acara,
Pemotretan dilakukan di tempat yang sakral bagi kepercayaan Parmalim. Ya, tempat itu adalah kelahiran Sisingamangaraja I, di Tombak Sulu-sulu, Desa Marbun Dolok. Karena venue ini dianggap suci, para maestro dan panitia harus mematuhi peraturan, seperti tak boleh makan babi saat hendak ke tempat ini, membuka alas kaki dan wajib memakai ulos.

Sesi kali ini mengisahkan bahwasanya ibunda Sisingamangaraja sedang menenun di gua yang luasnya sekitar 3 x 6 meter ini. “Karena tempat ini tak besar, jadi pihak panitia hanya membatasi satu persatu para maestro untuk masuk melakukan pemotretan,” terang Palty Siregar, Ketua Panitia Batak Imagery 1900.

Waktu yang dibuat panitia sekitar 10 menit setiap fotografer. Para maestro pun memotret dengan pencahayaan yang dibuat oleh panitia, karena di tempat tersebut cukup gelap. “Model penenun tersebut berasal dari sini (Humbahas), yang umurnya sekitar 20 tahun. Karena pihak panitia meyakini, bahwasanya orangtua Sisingamangaraja pasti tak tua saat melahirkan anak pertama,” ujarnya.

Setelah melakukan pemotretan di tempat lahir Sisingamaraja. Rombongan bertolak untuk mengunjungi Istana Sisingamangaraja . Kemudian dilanjutkan dengan pemotretan di Desa Simangulampe. Di tempat ini, beberapa orangtua diminta untuk melakukan penenunan tradisional. Dilanjutkan dengan memanen padi lalu foto sekeluarga berbusana era 1900-an.

“Sesi Pemotretan ini merupakan akhir dari acara ini. Setelah itu, hasil jepretan yang dilakukan oleh maestro akan dipamerkan di Kafe Potret dan juga ada tanda tangannya,” pungkas Palty.

Related Post