Komunitas Mural Medan : Beri Pesan Lewat Media Tembok

Browse By

Penulis & Fotografer  M. Sahbainy Nasution

Goresan-goresan tangan yang terampil melukis itu, tertuang melalui media tembok. Terciptalah,sebuah hasil karya yang cukup berharga, sebagai pesan sosial kepada para pembaca dan pemerintah. Seiring waktu, mural menjadi sumber profesi baru, yang cukup menjanjikan bagi para seniman.

Dari kejauhan, para pelukis mural sedang asyik menuangkan ekspresinya di media tembok. Goresan-goresan dari tangan terampil mereka, menghasilkan gambar yang luar biasa. Sebuah tokoh ternama semacam Tan Malaka, digambar dengan sempurna. Pemuda pergerakan aliran “kiri” ini dilukis mirip dengan yang aslinya.

Bukan tanpa sebab para anak muda ini menggambarnya, pahlawan nasional ini, digambar dengan berkat kegigihan melawan penjajah, dan juga sering menungkan ide-ide melalui buku. Wajar, pemuda jebolan dari dunia kampus di Indonesia, sering menyebutkan namanya, di diskusi antar mahasiswa atau orasi di tempat terbuka. Bukan itu saja, di sisi lain, juga ada tokoh seperti Bung Hatta yang tak kalah menariknya. Sebenarnya, mural sejak sejak lama sudah ada. Terlihat, dari dinding-dinding yang ada di perbukitan atau gua, telah ada gambarnya. Membuktikan, di zaman pra sejarah telah ada, karena sampai saat ini belum sirna. Gambar itu pun menjadi pesan yang cukup istimewa, bagi para orang yang menguak cerita sejarah. Kini, mural semakin berkembang seiring zaman yang ada. Lukisan-lukisan itu pun, semakin kaya atas karya yang indah.

Pimpinan Komunitas Mural Medan, Fedricho Purba menjelaskan, mural sudah sejak lama ada, dengan tujuan untuk memberikan pesan sosial kepada masyarakat terbuka atau pemerintah. Gambar yang digambar seperti, realita kehidupan masyarakat, keindahan alam, budaya dan lainnya. “Lukisan-lukisan itu dibuat untuk dilihat oleh masyarakat luas. Namun, gambar yang dihasilkan, tak serta merta asal – asalan, karena harus ada pola yang dibuat dengan sedemikian rupa,” ucapnya.

Kata Fedricho, perlu ada teknik khusus untuk menggambar, agar ide tersebut tertuang di media tembok dengan indah. Awalnya, gambar itu dibuat sketsa terlebih dahulu di atas kertas, setelah itu, dibuat pola- pola garis dengan memakai pensil atau sejenisnya di media tersebut.

“Lalu, menyiapkan alat mural seperti cat akrelit dan kuas sebagai pendukung utama. Agar hasilnya terlihat baik, ikuti saja pola yang telah dibuat,” ucapnya. Komunitas yang memiliki lebih dari 20anggota ini, sering mengadakan silaturahim sebatas berbagai,maupun menggambar bareng-bareng. Kata Fedricho, media yang sering dipakai mereka adalah jembatan, tembok rumah ataupun tembok-tembok jalanan.

“Pengalaman yang terlupakan kami, saat mural dipalak dengan pemuda setempat, disangka mereka ini pekerjaan menghasilkan uang, padahal tempat mereka kami buat bagus dan cantik,” kenang ketika bermural.

Menjadi Profesi
Dulunya mural hanya sebagai tempat pesan sosial di alam terbuka, kini gambar yang melekat di batu- batu itu, menjadi tempat penambah suasan ceria di kafe, restoran, mall, bandara, atau tempat umum lainnya.

“Kami sering dipanggil untuk menggambar di tempat umum, seperti bandara, kafe dan lainnya. Apalagi, saat ini sudah ada hal terbaru yakni mural 3D. Jadi, ada kombinasi gambar dan patung sebagai penambah. Dan cukup banyak yang memanggil kami untuk menggambar yang sesuai mereka inginkan,”ucapnya.

Waktu semakin bertambah, penikmat mural sudah pesat saja. Terbukti, banyaknya kafe-kafe maupun tempat bisnis lainnya, memanggil para-para anggota mural, untuk digambar sesuai keinginan. “Karena, kalau menggambar di media tembol tersebut, hasil yang dicapai akan lebih indah. Karena, menggambar mural tak sembarangan yang dirasa,” ucapnya.

Menunjukkan, mural semakin dicinta kepada masyarakat luas, terutama para pemilik modal usaha tersebut. Dianggap, gambar-gambar yang dihasilkan bisa menambah daya tarik para pengunjung, sebagai berselfie ria. Alhasil, para anggota Komunitas Mural mendapatkan uang saku untuk menambah pendapatan.

Sebenarnya, kata Fedricho perkembangan mural di Kota Medan sudah tertinggal dengan daerah Jawa. Apalagi, pemerintah setempat di sana, mendukung mural semakin berkembang saja. “Bahkan, di sama sering melakukan festival mural, baik itu media tembok jalan layang maupun tempat umum lainnya. Jadi, kota mereka penuh dengan warna dan karya seni yang nyata,” ucapnya.

Dia berharap, sebenarnya Medan memiliki warna berbeda dibandingkan dengan daerah Jawa. Apalagi, banyaknya adat istiadat, dan kaya atas budaya membuat Medan menjadi kaya. “Karena di sini banyak motif-motif corak warna yang berbeda-beda, jadi kalau dibuat mural, mungkin akan indah tempat umum tersebut,” katanya.

Fedricho menambahkan, untuk bergabung menjadi anggota Komunitas Mural Medan cukup mudah. Tinggal datang ke tempat tonggkrongan di Literacy Cofee, Jalan Jati 2. Siapa pun boleh bergabung di komunitas seni ini. “Asalkan dia memiliki minat untuk menggambar maupun melukis. Tentu, ini memudahkan untuk mural,” pungkasnya.