Kepedulian Pastor dan Sebuah Museum Pusaka

Browse By

Penulis & Foto: Aulia Adam

Sebelum akhirnya memutuskan ke Nias, saya bertemu dengan puluhan artikel yang menyebutkan namanya. Dalam artikel-artikel tersebut, ia hadir sebagai tokoh penting yang tampaknya paling tahu tentang sejarah budaya dan bahasa Nias. Banyak linguis menemuinya lebih dulu untuk menabung bahan penelitian, atau bahkan menjadikan ia sebagai sumber utama.

Penasaran sebabnya, saya memburu sosoknya hingga ke Gunungsitoli, Nias.

Tempat pertama yang saya tuju adalah Museum Pusaka Nias. Tempat ia berkantor sehari-harinya. Museum yang menyimpan benda-benda sejarah hingga pra-sejarah Nias: baju adat, bebatuan zaman megalitikum, beberapa model rumah adat, hingga pohon-pohon langka yang dulunya rimbun di Nias. Semuanya jeri payah Pastor Johannes dalam merekam jejak kebudayaan Nias.

Tak hanya peninggalan sejarah berwujud yang disimpan. Di sana, terdapat pula sebuah perpustakaan yang menyimpan banyak literatur tentang budaya dan bahasa Nias.

Melihat kerapian Museum itu diurus, penasaran saya sedikit terjawab. Tak heran jika para peneliti menyinggahi tempat ini demi berburu bahan penelitian.

Di tempat ini pula kami disambut sang Pastor. Ia pria baya, tinggi, putih. Menggunakan lensa persegi di atas hidung mancung. Matanya hijau hazel, khas mata orang Benua Eropa. Dengan aksen aneh—campuran dialek Nias dan Jerman—ia bercerita dalam bahasa Indonesia pada kami.

***

Ia tiba di Gunungsitoli 21 Juli 1971. Beberapa bulan sebelumnya tawaran datang dari Konsulat Jenderal Jerman di Medan untuk penempatan misionaris di Nias dan Tapanuli. Kebetulan Johannes dan temannya kala itu sedang di Medan. Ia pun mendaftar. Diterima untuk ditempatkan di Nias, menyebarkan agama Katolik di sana. Ini kali pertama ia menginjakkan kaki di sana.

Tiba di Nias, Johannes yang sudah lumayan bisa berbahasa Indonesia dikenalkan dengan Li Niha. Tugasnya berkeliling Nias membuat ia harus beradaptasi gunakan Li Niha. Tujuh tahun menetap di Gunungsitoli, ia kemudian bergerak dari satu kampung ke kampung yang lain. Kadang ia menetap di satu kampung selama empat bulan kadang dua bulan atau hanya tiga minggu saja. Total empat tahun keluar masuk kampung, ia akhirnya fasih ber-Li-Niha.

Dari pengalaman berkeliling Nias ini, ia jadi paham kalau Li Niha yang digunakan di Nias ternyata tak seratus persen seragam. Dialek dan tekanan nada pengucapan Li Niha antara masyarakat di Nias Utara dan Selatan berbeda. Johannes sendiri menganggap masyarakat di Nias Utara cenderung mengalami ketergerusan dengan banyaknya pengaruh bahasa Indonesia dalam penggunaan sehari-hari.

Bahkan, ada pemetaan penggunaan bahasa sendiri dari satu desa ke desa lainnya.Misalnya katacawat. Dalam Li Niha di Gunungsitoli, cawat disebut saombö. Di daerah Gömö, cawat disebutfambusa.

Hal ini tercantum pula di penelitian Lea Brown, linguis dari Max Planck Institute di Leipzig, Jerman. Judulnya A Grammar of Nias. Namun, lebih spesifik, Lea membaginya jadi tiga bagian. Selain utara dan selatan, ia juga membagi bagian tengah Nias. Lea, ialah salah satu linguis yang bertemu Pastor Johannes sebelum memulai penelitiannya.

Ia tak heran, mengapa para linguis berdatangan mencarinya ke Museum. Ia sadar kalau di Nias sendiri tak banyak catatan ataupun jurnal yang merekam perkembangan budaya dan bahasa asli Nias. Hal ini pula yang membulatkan niatnya membangun Museum.

Ia sebenarnya punya beberapa teman yang juga paham perkembangan budaya Nias dan Li Niha. Namun, mereka tak mau mencatatnya untuk diabadikan. “Untuk apa ditulis, saya ingat semuanya di sini, kok,” Pastor Johannes menirukan ucapan kawan-kawannya sambil menunjuk kepalanya.

Hal ini pula yang menurutnya menjadi salah satu sebab tergerusnya Li Niha asli. “Kebanyakan ono niha (orang Nias—red) mengetahui kebudayaan mereka sendiri dari catatan-catatan orang asing. Bukan dari leluhur mereka sendiri,” katanya.

Oleh hasil jeri payahnya menjadi penyambung lidah sejarah budaya dan bahasa Nias, harian The Jakarta Post pernah menyebut Pastor Johannes sebagai The Keeper of Nias Forgotten Culture,dalam sebuah artikel berjudul sama di 2004.

Empat Paviliun

Agar pengunjung dapat dengan mudah menelusuri kehidupan masa lampau, kebiasaan dan tujuan hidup masyarakat Nias Ono Niha, maka dihadirkan pameran dalam paviliun utama, didukung dengan sarana yang lain di luar gedung. Ada rumah adat dengan berbagai gaya sebagai bukti pengetahuan dan kearifan yang bernilai tinggi, berbagai flora untuk obat tradisional (herbal medicine), fauna (mini zoo), pantai yang bersih, hijau, dan tertata rapi. Ada juga perpustakaan dan audio visual. Semuanya bertujuan untuk memfasilitasi tumbuhnya kecintaan terhadap kebudayaan suku Nias, mendorong masyarakat untuk mengenal, menghayati, dan mengembangkan pengetahuan, kearifan, nilai-nilai budaya Nias yang masih ada, menjadikannya sebagai media pendidikan dan refleksi tentang manusia yang beradab, bijaksana, berjatidiri dan bermartabat.

PAVILIUN I
Menyajikan berbagai artefak sebagai bukti material yang menggambarkan keagungan seorang Ono Niha pada masa lalu mulai dari kehidupannya secara pribadi, dalam keluarga, dalam masyarakat hingga ke sisi religius yang berkaitan dengan dunia dan kepercayaannya. Artefak-artefak tersebut berkaitan juga dengan dimensi kehidupan yang agung (Molakhomi) dan terhomat (mosumange) dan tegas/keras (mosofu).

PAVILIUN II
Menghadirkan bukti-bukti material yang dipakai dalam pesta yang berkaitan dengan kejelasan dan peneguhan status. Mulai dari berbagai bentuk perhiasan dan barang-barang berharga lainnya, peralatan dapur, dan peralatan jamuan yang terbuat dari kayu, batu, dan keramik. Dilanjutkan dengan rumah adat dengan berbagai ukiran dan monumen di sekitarnya sebagai simbol tingginya status. Berbagai takaran, pakaian, dan tempat duduk yang sekaligus sebagai usungan pada saat prosesi pesta adat, hingga berbagai bentuk peti jenazah sebagai akhir dari kehidupan di dunia serta artefak yang digunakan pada perayaan dan ritus religi kuno.

PAVILIUN III
Hidup keseharian orang Nias tidak saja diisi dengan hal-hal yang istimewa. Layaknya masyarakat suku bangsa lain di berbagai belahan dunia, Ono Niha juga menjalani hidup sehari-hari dengan berbagai kegiatan rutin. Menelusuri hidup keseharian Ono Niha dapat dilihat dalam ruangan ini, mulai dari tempat hunian, peralatan, dan teknologi rumah tangga, kesenian, pertanian, pertukangan, perburuan kepala manusia, perburuan hewan untuk makanan dan sebagainya.

PAVILIUN IV
Peristiwa  penting dalam kehidupan orang Nias diabadikan dengan batu. Batu itu seolah hidup dan bertutur pada generasi sekarang tentang masa lalu leluhurnya. Mengapa batu?

Me kara lo tebulo-bulo (Karena batu tak pernah berubah)
Me kara lo maoso-maoso (Karena batu tak pernah bergerak)
Kara toroi ba nahia (Batu tetap tinggal pada tempatnya)
Kara sahono boto (Batu yang indah dan selamanya kekal)

PAVILIUN V
Kegiatan pameran temporer, ceramah, audio visual, diskusi untuk pendidikan pusaka bagi pengunjung, dll.

Rencana pendirian Museum Pusaka Nias telah banyak menemui banyak kendala karena prosedur dan persyaratan pendirian sebuah museum belum diketahui sebelumnya. Syukurlah, Yayasan Nusantara Jaya-Jakarta, memberi petunjuk dan informasi tentang pendirian sebuah museum dan menganjurkan untuk mendirikan yayasan yang bertanggungjawab atas kelangsungan hidup museum. Yayasan Nusantara Jaya menganjurkan juga untuk berhubungan dengan Direktorat Permuseuman sebagai instansi yang menangani dan membina museum-museum di seluruh Indonesia.

Berdasarkan petunjuk dari Yayasan Nusantara Jaya tersebut, pada tanggal 19 April 1991, Pastor Johannes bertindak atas nama Dewan Ordo Kapusin Provinsi Sibolga menghadap Notaris untuk mendirikan Yayasan Pusaka Nias sebagai Badan Hukum Museum Pusaka Nias dengan akta notaris nomor: 4 Tahun 1991.

Setelah Yayasan Pusaka Nias berdiri, kemudian yayasan melakukan hubungan dengan Direktorat Permuseuman. Melalui Direktur Permuseuman akhirnya Yayasan Pusaka Nias memperoleh petunjuk-petunjuk yang lengkap. Akhirnya melalui SK Bupati Nias KDH Tk. I Nias, keluarlah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Museum Pusaka Nias dengan nomor: 646.1/626/SK/1992 yang terdiri dari 4 (empat) paviliun dan 1 (satu) paviliun khusus tempat koleksi batu-batu megalit.