Kenang Perkebunan Zaman Kolonial Lewat Museum

Browse By

Sumatera Utara masa kolonial begitu terkenal di mancanegara karena hasil perkebunannya. Semuanya diabadikan dalam museum perkebunan yang pertama di Indonesia.

Teks dan foto: Lazuardi Pratama

Prabudi Gunawan agak tergesa-gesa ketika menemani Kover mengunjungi Museum Perkebunan Indonesia. Rupanya, pemandu museum yang akrab dipanggil Budi ini sedang sibuk menemani rombongan murid TK yang sedang tur. Maklum, sejak diresmikan 10 Desember tahun lalu oleh Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, museum ini ramai dikunjungi. Kata Budi, tercatat lebih dari 1500 orang telah datang hingga hari ini (terhitung sampai 16 Februari).

Museum ini termasuk mudah dijangkau oleh berbagai jenis alat transportasi. Posisinya di Jalan Brigjen Katamso No. 53, persis di depan Pusat Penelitian Kepala Sawit. Ia juga lebih mudah ditemukan karena adanya penanda bertuliskan “Museum Perkebunan Indonesia” berwarna hijau di depannya. Di halaman depan ini pula, terdapat sejumlah peninggalan alat transportasi hasil perkebunan zaman baheula yang dengan mudahnya menarik perhatian.

Ada pesawat terbang Piper Pawnee PA-25 keluaran 1958 yang digunakan untuk menabur garam yang bertujuan untuk menurunkan hujan di wilayah perkebunan. Pesawat itu resmi pensiun tahun 2007 lalu. Selain itu, ada pula dua lokomotif yang turut menghiasi halaman depan museum, mereka di antaranya lokomotif buatan Schoma, Jerman; pensiun 2015 lalu dan lokomotif merek Ducro & Brauns buatan Belanda yang telah lebih dulu pensiun, tepatnya tahun 1996. Ketiga prasasti ini sering dipakai untuk menemani pengunjung sebagai properti foto.

Arsitektur museum ini tampak sekali bergaya kolonial, sebab bangunannya memang sepaket dengan komplek penelitian kelapa sawit yang telah ada sejak lama. Pun juga interiornya yang khas dengan ruangan besar dan terlihat solid. Museum menetapkan tiket masuk seharga Rp8000 per orang, dan Rp5000 kalau datang dengan rombongan. Untuk warga negara asing, harga tiket masuk lebih mahal, yaitu Rp25.000.

Di lantai dasar, mayoritas ruangan dipenuhi oleh panel-panel berisi infografik tentang sejarah dan proses pengolahan hasil perkebunan di Sumut. Infografik tersebut juga dilengkapi dengan sejumlah foto-foto jadoel tentang aktivitas perkebunan tempo dulu dan ilustrasi-ilustrasi yang ditampilkan menonjol agar menarik dipandang. Di dalam ini pula, terdapat sejumlah sampel hasil perkebunan seperti sawit, minyak, kopi, dan tembakau.

Di ruangan inilah, Budi membawa murid-murid TK memperkenalkan seluk-beluk perkebunan secara sederhana, dibantu oleh layar LCD yang menampilkan berbagai video tentang kegiatan di kebun. Di ruangan lain, ada kafe minimalis yang menyajikan minuman dan makanan ringan untuk pengunjung.

Sementara itu, lantai dua lebih difungsikan untuk memamerkan alat-alat produksi hasil perkebunan zaman kolonial. Di antaranya ada alat mesin hitung perangko, berbagai jenis timbangan, barograf (pengukur tekanan udara), lincak atau beko yang panjangnya sekitar dua meter, kalkulator mekanik yang mirip mesin tik, dan lain sebagainya. Alat-alat ini merupakan sumbangan dari perusahaan-perusahaan perkebunan seantero Sumut.

Di ruangan yang lain, ada juga replika bangsal pelayuan yang digunakan untuk melayukan tembakau. Bangsal ini masih ada dan beroperasi di daerah Kelambir Lima. Alat-alat yang dipamerkan di lantai dua museum ini juga menyimpan dengan lengkap memori masa lampau tentang tembakau, komoditi unggulan Sumut, dari mulai proses tanap hingga barang jadi siap kirim.

Pengunjung dibolehkan berfoto di seluruh sudut ruangan, asal jangan menyentuh barang yang dipamerkan.

Rekaman Masa Silam

Sumut adalah satu dari sekian banyak daerah di Hindia Belanda yang memproduksi hasil perkebunan untuk kemudian diekspor ke Eropa. Daerah Sumut, atau dulunya Sumatera Timur ini adalah daerah yang sangat subur untuk ditanami tanaman kebun. Oleh Jacob Nienhuys, maka dirintislah perkebunan komersil pertama di Sumatera Timur pada tahun 1863.

Kebun tembakau rintisan Nienhuys inilah yang kemudian menarik banyak investor asing untuk masuk dan ikut membuka lahan dari Langkat hingga Labuhan Batu. Tak hanya tembakau, komoditi lain seperti karet pun ikut dibudidayakan. Saking berkembangnya industri perkebunan di sini, maka muncullah kongsi dagang bernama Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatra atau Asosiasi Pemilik Perkebunan Karet di Pantai Timur Sumatera alias AVROS.

AVROS ini kemudian membuka kantor administrasi, pusat penelitian, dan infrastruktur lainnya. Nah, komplek Pusat Penelitian Kepala Sawit di Jalan Brigjen Katamso ini adalah salah satunya.

Ide untuk membangun museum perkebunan ini datang dari Soedjai Kartasasmita, tokoh perkebunan Indonesia pada tahun 2010. Ternyata, pembangunan museum yang menjadi museum perkebunan pertama di Indonesia ini di Medan punya alasan khusus. Menurut Budi, Sumut punya banyak perusahaan perkebunan, baik yang masih berdiri atau yang sudah tamat. “Komunitas perkebunan di sini lebih dikenal di mancanegara ketimbang daerah lainnya di Indonesia,” ujarnya.

Perusahaan-perusahaan yang sudah ada sejak masa kolonial seperti London Sumatra dan Socfin Indonesia memiliki banyak alat-alat produksi bersejarah. Salah satunya lokomotif di halaman museum yang merupakan bekas milik Socfin Indonesia.

Museum ini didirikan untuk menyimpan memori-memori masa silam Sumut sebagai daerah penghasil komoditi perkebunan. Menurut Budi, perkebunan di Sumut adalah salah satu tonggak ekonomi Indonesia pada waktu itu. “Museum ini untuk mengingat kembali bahwa perkebunan itu telah membawa kemajuan bagi Indonesia,” kata Budi.

Di masa depan, Budi mengatakan pihak museum berencana untuk menambah artefak-artefak yang tersebar di seluruh Sumatera Utara dan Belanda. Contoh artefak tersebut adalah replika kapal yang mengangkut hasil perkebunan ke Eropa. Namun masih terkendala dana dan akan dilaksanakan bertahap.

Selain itu, mereka akan membikin museum-museum satelit di Gedung AVROS di daerah Kesawan dan di Bogor. Museum Perkebunan Indonesia ini juga akan menggelar berbagai program bermanfaat untuk masyarakat yang berkunjung, seperti menggelar lokakarya tentang sawit.

Budi berharap keberadaan museum ini dapat menyimpan warisan-warisan tentang perkebunan di Sumut yang selain pernah berdampak secara ekonomi, juga pernah berpengaruh pada setiap sendi-sendi sosial dan budaya masyarakat kita.