Kenali Penyakit Hernia

Browse By

Teks: Dana A. Anjani | Foto: Andru Kosti & Spesial

Hernia dikenal dengan beberapa macam nama, seperti turun beruk, turun perut, atau usus turun. Padahal, pengertiannya, tak demikian adanya.

Menurut dr. Adi Muradi, SpB-KBD, hernia merupakan penonjolan atau protruding, yang terjadi karena adanya tekanan dari dalam organ tubuh yang mencuat melalui otot atau jaringan di sekitarnya yang lemah. Melemahnya otot tersebut lah yang membuat organ yang ada di dekatnya tidak dapat ditahan lagi, sehingga terjadilah hernia.

“Hernia bisa terjadi akibat adanya tekanan yang muncul di bagian kepala, tulang belakang, dan dinding perut,” ucap dokter yang juga berpraktek di RS. Setiabudi Medan ini. Biasanya, tekanan yang tinggi dan berulang-ulang tersebut disebabkan karena obesitas, batuk kronis, sering mengedan, mengangkat beban terlalu berat, juga karena adanya prostat hipertropi.

Ada sejumlah faktor pemicu yang diduga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengalami hernia, dinataranya:

  • Konstipasi, sehingga pengidapnya harus mengedan.
  • Kehamilan yang akan meningkatkan tekanan dalam perut.
  • Kenaikan berat badan secara tiba-tiba.
  • Penumpukan cairan di dalam abdomen (rongga perut).
  • Mengangkat beban yang berat.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Batuk berkepanjangan.

Adi menuturkan, untuk mengobati hernia, operasi adalah cara yang paling dianjurkan. Hal ini untuk menghentikan rasa sakit yang diciptakan, dan mencegahnya untuk datang kembali. “Sejauh ini, hernia belum bisa dicegah, dan jalan satu-satunya untuk mengobatinya adalah dengan pisau bedah,” tegas dokter yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran USU ini.

Namun, untuk jenis hernia yang dibawa oleh bayi yang baru lahir, bila isi kantong berupa cairan (hydrocele), terkadang dapat terabsorbsi dengan sendirinya, sehingga tidak memerlukan proses operasi.

Sayangnya, penyakit melemahnya dinding perut ini sering dianggap sepele karena jarang memiliki gejala. Padahal, hernia juga dapat mengakibatkan gangguan usus atau terhambatnya aliran darah pada jaringan hernia yang terjepit yang cenderung berbahaya.

Meskipun terdapat beberapa penanganan untuk penyakit ini, Adi pun tak menampik adanya kemungkinan bahwa hernia tersebut akan kambuh. “Kemungkinan kambuh memang ada, namun diperkecil lewat upaya operasi yang dilakukan. Dengan teknologi canggih kini, prosedur operasi tepat, kemungkinan kambuh pun dapat dicegah,” tandasnya

Para penderita hernia tidak memiliki pantangan makanan, Hanya saja, menurut dokter lagi , “Hal yang paling penting adalah menjaga tingkat pekerjaan dan aktivitas fisik karena ini akan berpengaruh pada tekanan yang terjadi pada otot, tulang belakang, maupun otot perut.” Pengendalian kegiatan ini pun harus lebih ketat pasca operasi.