Juliet Setiawan, Dipukau Lekukan Belly Dance

Browse By

Penulis : Sepfiany Ginting : Fotografer : David Siahaan

Tubuhnya berlekuk indah. Rambutnya dibiarkan tergerai, menambah anggun parasnya. Juliet, begitu ayah dan ibunya menamainya.

IMG_0953

Sejak berumur lima tahun, Juliet Setiawan sudah diajak sang ibu untuk mengenal balet. Bakat menari Juliet pun amat kentara dari prestasi yang ia torehkan di sekolah baletnya. Namun, kegiatannya itu nyaris saja terhenti ketika ia duduk di bangku kelas 5 SD karena orang tuanya melihat prestasi Juliet dalam pelajaran di sekolah justru agak menurun. Orang tuanya pun berencana memutus sekolah baletnya, namun Juliet menentang rencana itu.

“Saya langsung ngamuk. Saya bilang, saya akan buktikan bisa dapat juara kelas dan saya minta supaya saya ikut balet lagi. Ternyata ranking saya bagus,” ceritanya. Meski begitu, kata Juliet, orang tuanya masih kukuh tidak mau mengembalikan Juliet ke sekolah balet, menyuruhnya menunggu dulu sampai selesai EBTANAS SD.

Tidak bisa membendung kecintaannya pada tari, Juliet pun terus mendesak orang tuanya biar diizinkan kembali mengikuti sekolah balet. “Saya ngotot, bahkan saya berencana menjual cincin yang saya pakai untuk uang sekolah balet saya kalau tidak disetujui. Padahal mau jual ke mana pun saya nggak tahu,” katanya dibarengi tawa mengingat kepolosannya ketika itu. “Akhirnya, saya dibolehkan bersekolah balet lagi dengan perjanjian nilai saya akan bagus terus,” tambahnya.

Lulus SMA, wanita yang juga lihai bermain piano ini lalu menempuh studi manajemen ke University of Bonn Jerman. Selain itu, Juliet pun tetap tekun menjajaki dunia tari di salah satu sekolah balet sana. Ia pun memelajari jenis tari lain, di antaranya jazz dan tango. Tahun 1998 barulah ia melirik pada belly dance dan benar-benar terpukau oleh setiap lekukannya.

“Awalnya saya melihat salah seorang teman pintar belly dance. Saya dulunya tidak tahu gerakan belly dance bisa secantik itu. Sangat banyak gerakan pinggulnya. Lalu saya langsung minta diajari sama professional teacher,” ujarnya semringah. Menampakkan betapa dalam ia telah jatuh hati pada tarian asal Mesir itu.

Pertama kali membelot dari balet ke belly dance, anak ketiga dari lima bersaudara ini mengakui bahwa dirinya benar-benar mengalami kesulitan, sebab kebiasaan balet sudah sangat pakem pada badannya. “Saat awal mulai, saya latihan sampai empat jam karena badan saya susah beradaptasi,” katanya.

Sepanjang di Jerman, Juliet terus gigih berlatih belly dance. Ia juga memotivasi diri sendiri biar tak putus asa. “Saya hampir menyerah waktu itu. Tapi melihat orang lain bisa, saya yakin, saya juga pasti bisa.”

Keuletannya jelas berbuah manis dan masih terus bisa ia cicipi hingga kini. Setelah dua tahun latihan, Juliet akhirnya mahir menarikan belly dance dan sudah siap menyuguhkan tariannya ke orang banyak. Tahun 2001, pertama kali Juliet tampil di hadapan ratusan orang di World Belly Dance yang digelar di Malaysia. Sampai sekarang pun ia masih terus aktif tampil di event tersebut dan beberapa event belly dance lainnya yang rutin digelar di Malaysia. Tak heran jika nama Juliet Setiawan sudah lebih dulu mencuat di Negeri Jiran sana daripada di Indonesia.

“Semakin banyak penonton, saya rasanya semakin senang. Semakin semangat. Apalagi kalau mereka teriakin Juliet.” Wajahnya berseri-seri ketika menuturkannya. ”Yang penting, kita harus merasa Indonesia the best saat bertemu belly dancer negara lain,” imbuhnya.

Selain terus aktif menari belly dance, Juliet juga mengajar di sekolah tari yang ia dirikan sejak enam bulan lalu di Jalan R.A. Kartini No.22. Juliet Academy, begitu ia menamainya. Belly dance dan balet ialah dua kelas tari yang ia buka. Juliet Academy memiliki dua studio, yakni untuk kelas balet dengan nuansa ungu meneduhkan dan studio belly dance bernuansa middle east. Silabus Royal Academy of Dance (RAD) ialah rencana pembelajaran yang diadopsi oleh Juliet. “Juliet Academy ini juga sudah teregistrasi di RAD London,” ujarnya.

Melalui Juliet Academy, ibu satu anak ini ingin lebih dalam lagi mengenalkan belly dance kepada masyarakat Indonesia, khususnya Medan. “Belly dance itu ada banyak tipenya, seperti baladi, oriental, fussion, dan drum solo. Saya mau belly dance itu dikenal, sama seperti di Malaysia, ada event-nya sendiri. Jadi, kalau mau tahu apa itu belly dance, orang bisa datang ke belly dance event. Ke depannya, saya punya impian mau buat begitu di Medan.”

Sebagian orang beranggapan bahwa belly dance hanya menonjolkan sensualitas saja, padahal sebenarnya tarian ini punya banyak kebaikan untuk tubuh. “Perempuan bisa dapat five packs tanpa harus sit up. Jadi, kalau mau kurus, belly dance bisa jadi alternatif. Selain untuk pembentukan otot, membakar lemak, belly dance juga bagus untuk wanita kalau lagi menstruasi. Akan melancarkan,” jelas perempuan penyuka warna ungu ini.

Bagi Juliet, menari ialah nyawa. “It’s my life. Menari membuat saya senang,” ujarnya. Ia lalu menceritakan, bahwa pernah suatu kali suasana hatinya sedang awut-awutan lantaran hubungannya dengan seseorang terdekatnya sedang tak enak, namun ia tetap harus menarikan belly dance pada satu event. “Saya sangat emosi, tapi ketika naik ke panggung, saya lepaskan semua emosi itu, dan jadi lebih semangat mau tampilkan yang terbaik,” ceritanya. Ia bilang, ia sangat menikmati penampilannya di atas panggung dan langsung amat lega tepat ketika ia menuruni panggung, apalagi ketika mendengar para penonton riuh meneriaki namanya.

Menjadi seorang belly dancer yang profesional ialah suatu kebanggaan bagi Juliet. Namanya kesohor, terutama di kalangan penikmat belly dance. Tubuhnya sehat, hatinya pun senang menjalaninya. Apalagi karena ia sering diundang ke berbagai acara belly dance di beberapa negara. “Sudah seperti holiday,” katanya seraya tertawa lepas.

Related Post