Jeffrey Polnaja : Keliling Dunia Menunggangi Angin

Browse By

Penulis: Lazuardi Pratama |Fotografer : Andru Kosti

Jeffrey Ronny Polnaja adalah orang Indonesia pertama yang mengelilingi dunia dengan menggunakan sepeda motor sendirian. Misinya: perdamaian dunia.

Gurun Atacama, Cile, tahun 2013.

Burung-burung pemakan bangkai terbang bergerombol di atasnya, ketika ia sudah ikhlas seandainya Tuhan mengambil nyawanya. Di gurun terkering di dunia ini, ia menggigil karena dehidrasi parah. Air minumnya tinggal sedikit dan ia tersesat, seorang diri. Hanya dia dan sepeda motornya.

Jalan raya terdekat sekitar 60 km lagi. Tak seperti gurun dan tempat kering lainnya yang pernah ia lewati, pasir di Gurun Atacama ini gembur. Ia tak bisa ngebut, tapi ia justru mendorong sepeda motornya agar bisa bergerak. Jarak 60 km yang bisa ditempuh sebentar dalam keadaan normal itu menjadi jauh lebih berat.

“Saya selalu teringat untuk jangan pernah menyerah, tetapi justru berserah diri kepada Tuhan,” ujar Kang JJ, panggilan akrabnya kepada KOVER, Akibat kelelahan bertarung dengan gurun, Kang JJ mendirikan tenda, istirahat agar bisa melanjutkan perjalanan ketika sudah lumayan bertenaga besoknya. Tetapi pasokan air minumnya seolah berkata tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk lainnya.

Jam 3 dinihari, ia terbangun karena sesak ingin buang air kecil. Kang JJ sempat curiga sebab dalam keadaan dehidrasi, bisa-bisanya ia ingin buang air kecil. Ia buka tenda. Tetapi, alangkah terkejutnya ia saat menemukan ternyata di luar sedang turun salju, di gurun terkering di dunia.

Kang JJ adalah orang dengan banyak kisah untuk diceritakan. Dalam buku berjudul Wind Rider – Menyerempet Bahaya Demi Perdamaian Dunia yang terbit 2011 lalu, ia menceritakan kisahnya ketika ia harus berhadapan satu lawan satu dengan beruang di Bhutan, dirampok di Afghanistan, dan ditembaki peluru saat hendak melintasi Pakistan.

Buku itu merangkum penjelajahan tahap pertamanya yang berlangsung dari tahun 2006 hingga 2008 dari Indonesia, Asia Tenggara, melintasi Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, hingga Eropa. Ia istirahat sejenak untuk menulis buku dan kemudian melanjutkan perjalanannya dari tahun 2012 hingga 2015. Kang JJ meneruskan penjelajahannya dimulai dari Eropa, menembus Siberia, menyeberang ke Alaska, menyusuri Amerika Utara dan Selatan, Australia, hingga pulang ke Indonesia. Dalam penjelajahan tahap kedua itulah kisah Gurun Atacama terjadi.

Perjalanan mengendarai angin melewati 97 negara sepanjang 420 ribu kilometer selama 2193 hari itu membuat Kang JJ lebih optimis, dan kalau bisa dibilang, filosofis dalam memaknai hidup. Ia mengaku punya lebih banyak waktu untuk memikirkan apapun, khususnya tentang hidup selama perjalanannya. Contohnya pada satu waktu dalam wawancara, Kang JJ mengemukakan “filosofi kaca spion”.

“Memaknai kehidupan ini contohnya seperti kaca spion. Kita harus selalu lihat ke depan saat berkendara, sambil sekali-kali lihat lewat kaca spion. Artinya dalam hidup ini kita jangan terlalu sering lihat ke belakang, sesekali saja kalau perlu,” ujarnya.

Pemilihan kata wind rider dalam judul bukunya pun bermakna filosofis. Kang JJ mengungkapkan, mengendarai sepeda motornya menjelajahi dunia itu seperti menunggangi angin. Bisa pergi ke manapun ia bisa, tak ada yang tak mungkin.

Kang JJ mengakui penjelajahan itu membuatnya secara sadar maupun tidak sadar dekat dengan Tuhan. Semacam perjalanan spiritual. Ia jadi jauh lebih optimis ketika dihadapkan pada kesulitan-kesulitan, yang bahkan mengancam nyawanya.

Menjawab Tantangan Anak

Penjelajahan Kang JJ mengelilingi dunia bisa terjadi karena tantangan dari anaknya. Pada waktu itu, sekitar awal 2000-an, Kang JJ bersama anaknya sedang menonton berita tentang Serangan 11 September 2001. Tiba-tiba anaknya nyeletuk:

“Tiap hari ayah ngingetin kami damai, damai, damai. Tapi lihat mereka itu, saling bunuh. Why don’t you ride for peace?” tanya anaknya. Kang JJ agak tersentak, tapi ia ingin sekali menjawab tantangan anaknya itu. Ia merasa terpanggil.

Kang JJ bercerita pada tahun 2000-an, negara Indonesia lazim dicap sebagai negara teroris karena sejumlah aksi teror yang terjadi. Jadi Kang JJ merencanakan misi dengan berkunjung langsung ke negara-negara lain untuk bercerita sekaligus menyadarkan bahwa Indonesia tidak semengerikan yang mereka bayangkan. Itualah mengapa Kang JJ membawa bendera “Ride for Peace” sebagai judul penjelajahannya.

Kang JJ yang sebelumnya bekerja sebagai pengusaha ini menjual usaha karetnya.  “Untuk melakukan sesuatu yang besar itu harus total,” katanya. Dari hasil menjual perusahaan dan sejumlah uang yang telah ia kumpulkan, Kang JJ membeli sepeda motor tangguh khusus jelajah, BMW R1150GS dengan nomor pelat B 5010 JP. Visualisasi angka 5010 mirip dengan kata “solo” yang berarti sendirian. Sementara JP adalah inisial dari Jeffrey Polnaja.

Uang yang ia bawa dari rumah itu pun sebenarnya tak cukup untuk membiayai perjalanannya. Namun ia tak banyak ambil pusing. Menurutnya uang bukan masalah yang sebenarnya, tetapi justru masalah yang kita buat-buat. Perjalanan ini selain membuatnya semakin bijak, juga menciptakan ide-ide kreatif. Sepanjang perjalanan, Kang JJ mengabadikan setiap momen-momen yang ia temui dalam foto. Foto-foto itu lalu ia jual ke sejumlah majalah.

“Awalnya foto saya jelek-jelek karena baru kali ini belajar fotografi. Tapi lama kelamaan kemampuan saya jadi terbentuk. Ya lumayan sekali menjual foto bisa dapat 200-300 dolar,” tandasnya. Dari pelajaran mencari makan lewat foto itulah yang membuatnya bisa tetap hidup sampai sekarang.

Tapi tak dinyana, segala kesulitan dalam mengelilingi dunia itu tak membuatnya jera untuk kembali ke jalanan. Di usianya yang sudah kepala lima ini, Kang JJ berencana untuk keliling lagi. Kali ini rencananya ia beri judul “Menjahit Dunia”. Judul itu dalam satu pengertian berarti mengelilingi Bumi mengikuti garis khatulistiwa, namun Kang JJ melakukannya mirip zig-zag dengan batas garis balik utara (tropic of cancer) dan garis balik selatan (tropic of capricorn). Kang JJ mengendarai motornya seperti alur benang saat dijahit.

“Ini juga berarti menyatukan dunia dengan segala perbedaannya agar tidak tercerai-berai,” tutup Kang JJ.