Ima Habib Nasution: Menari Adalah Passion dan Dedikasi

Browse By

Penulis: Dana A. Anjani | Fotografer: David Siahaan

Dunia tari sejatinya telah lama menjadi primadona bagi mereka yang menjadikannya sebagai hobi. Seiring jaman, bidang ini pun mulai bergeser, tak lagi sebagai hal yang ditekuni hanya beberap hari, melainkan telah layak menjadi sebuah profesi.

IMG_0793

Nama KM Studio barangkali telah lama terdengar kiprahnya dalam mengembangkan seni tari di Kota Medan. Tak sembarangan, telah genap 30 tahun Kharisma Muda Studio ini mencantumkan namanya sebagai salah satu studio tari yang dikenal di kota ini. Ialah Ima Habib Nasution, salah satu pendiri dari studio musik ini yang hingga kini masih tetap menjadi seorang pengajar.

Ima memulai karirnya dengan mempelajari ballet classic, jazz classic, jazz funk, character dance, Singapore culture, street funk, hip-hop, belly dance, tap dance, salsa, dan juga tarian tradisional seperti tari melayu dan tari Bali. Ia juga sempat bergabung dengan grup tari GSP, Jakarta pada 1992, dan juga menekuni koreografer di Jakarta dan Singapore pada 1992, dan ia juga sempat menempuh pendidikan di Nanyang Academy of Fine Art, Singapore pada 1993.

Bersama KM Studio, Ima dan timnya telah banyak dipercayakan dalam menangani hal-hal yang berkaitan dengan dunia seni tari ataupun hiburan. Ditemui KOVER di kantor KM Studio Jln. H. Misbah, Komplek Multatuli Blok G, Ima pun menuturkan banyak hal tentang kiprahnya sebagai seorang koreografer dan juga pengajar.

Ia menyukai seni tari sejak kecil. Saat itu, orang tuanyalah yang pertama kali memperkenalkannya pada tari balet. Sejak saat itu, Ima kecil mulai memiliki keinginan untuk lebih giat berlatih dan lamat laun ia pun menemukan passion-nya di bidang ini, dan keinginan besarnya untuk menjadi seorang ballerina yang handal. “Awalnya orang tua yang mengenalkan saya pada balet, pertama sih sekadarnya saja. Tapi lama-lama, saya justru suka dan menikmati tiap kali saya menari,” tuturnya.

Ia yang jatuh cinta pada dunia tari ini kemudian berusaha untuk menjawab rasa keingintahuannya tentang dunia tari dan genre selain balet yang ingin ia dalami. Ima kemudian belajar pada salah seorang guru tari berkebangsaan Belanda, yang darinyalah, Ima menemukan banyak saran untuk mengembangkan kemampuannya menari, tidak hanya dari satu genre, melainkan semua jenis tari yang ada. Agar kelak, ia mampu memberikan dan mengajarkan apa yang selama ini ia pelajari dan ketahui, kepada orang lain.

Ima yang terinspirasi oleh Martha Graham, penemu tarian balet kontemporer ini, pun mengakui bahwa jalan yang ia lalui sebagai seorang koreografer tidaklah selalu mulus. Rasa ingin tahu yang besar dan dukungan dari orang tua tak selalu membuatnya menemukan apa yang ia inginkan. Berbagai studio tari sempat ia sambangi untuk menjawab rasa penasarannya yang tinggi. “Saya selalu ingin tahu bagaimana tarian-tarian itu, jadi caranya dengan bergabung ke beberapa studio tari yang berbeda, walaupun genrenya sama,” ungkapnya.

“Saya bisa belajar tap dance dari tiga studio yang berbeda, dan begitu juga dengan tarian lainnya, pilihan saya itu pulalah yang kadang memberikan dampak tersendiri dalam hidup saya. Saya bisa saja merasa lelah, dan harus tau bagaimana mengolah keuangan untuk memenuhi semua yang saya inginkan,” tambahnya pula. Selama mendalami seni tari, Ima pun tak jarang harus mengencangkan ikat pinggang untuk dapat mengikuti kursus tari yang ia inginkan. Menurutnya, hal itu pantas dengan apa yang ia cita-citakan.

Untuk menjadi seorang penari dan hidup di industri ini, menurut Ima, ada beberapa hal yang perlu benar-benar dimiliki dan diasah selain ketekunan dan kedisplinan, yaitu mental dan attitude. Menurutnya, seorang penari akan menemukan banyak hal yang mewarnai karirnya kelak. Di saat itulah, mental seorang penari akan diuji dengan banyaknya hambatan yang datang. Lebih dari itu, sikap seorang penari atau koreografer juga bisa dinilai dari bagaimana ia memperlakukan orang lain.

“Attitude itu penting bagi seorang penari. Kita harus tahu bagaimana membawa diri, menghadapi orang lain, dan bersikap. Jika penari punya attitude yang buruk, maka karirnya mungkin tidak akan lama,” tegasnya. Itu pulalah yang menjadi sebuah tantangan tersendiri dalam mengajar. Menurut Ima, bertemu dengan orang-orang baru yang memiliki keinginan tinggi dan sikap yang berbeda-beda adalah salah satu tantangan untuk mengembangkan seni tari. Namun ia menganggap itu semua sebagai salah satu pembelajaran yang ia dapatkan ketika mengajar.

Masih minimnya mindset masyarakat Kota Medan tentang dunia tari juga merupakan salah satu hal yang ingin Ima benahi. Menurutnya, masih banyak orang yang menganggap bidang ini sebelah mata. Padahal, menurutnya, jika ditekuni, bidang seni tari justru bisa menjadi salah satu lahan bisnis yang menjanjikan. “Selama ini, orang menari hanya sebagai hobi di waktu luang, bukan menjadi bidang yang benar-benar ditekuni, padahal, bidang ini walaupun lambat, tapi menunjukkan peningkatan pada jumlah peminatnya,” terang ibu dari dua orang anak ini.

Ima pun kini mulai mendedikasikan dirinya untuk mengajar dan mengembangkan seni tari pada para generasi muda dan juga orang-orang yang dewasa untuk lebih mencintai seni tari. “Kalau dulu, menari adalah ambisi buat saya, tapi sekarang, menari sudah menjadi bagian dari diri saya, dan melalui KM Studio inilah saya ingin mengembangkannya,” ucapnya.

“Ketika para murid yang saya ajar sudah mulai mengerti dan memahami value yang ada di dalam dirinya, saat itulah saya merasa sudah mendapatkan tujuan saya,” jelasnya ketika ditanya tujuan terbesar yang ingin ia capai. “Bukan tentang nilai uang, melainkan nilai dari dalam dirinya lewat kemampuan yang mereka miliki, dan karya yang telah mereka ciptakan,” paparnya lagi.

Related Post