Ika Natassa : Berani Bermimpi Adalah Kunci

Browse By

Penulis : Imada Lubis | Foto : Potret Studio

Gone Girl karya Gillian Flynn menjadi salah satu buku yang paling disukai penulis novelnational best seller Critical Eleven, Ika Natassa. Buku setebal 475 halaman tersebut mampu dibaca habis oleh Ika dalam waktu sehari. Menurutnya Flynn begitu brilliant dalam menghadirkan tokoh yang kompleks seperti Amy dan Nick dalam point of view orang pertama. Keterpukauan Ika pada Flynn menjadi awal pembuka pembicaraan Kover dengannya sore itu di Bank Mandiri Region I Imam Bonjol Medan.

“Aku baca Gone Girl satu hari selesai, hanya break makan siang aja. Aku suka semua mulai dari pembedahan karakter dan pengaturan plotnya yang menurut aku sangat jenius,” katanya.

Meski mengagumi karya-karya Flynn, Ika mengaku bila ia termasuk pembaca segala jenis buku. Baginya membacamemungkinkan siapa saja mampuberpikirlebih terbuka melalui beragam sisi. “I am a reader first and writer second. Toko buku bisa dibilang seperti surga buatku, aku bisa menghabiskan waktu tak terhitung mengamati rak buku new release, membaca sinopsisnya satu per satu, pas cocok langsung beli siapapun penulisnya karena memang aku baca apapun,” akunya.

Mengawali menulis sebagai hobi sejak kecil, Ika sudah mencatatkan banyak prestasi gemilang di bidang kepenulisan.  Tak hanya diadaptasi ke layar lebar dibintangi oleh Reza Rahadian dan Adinia Wirasti serta menjadi salah satu dari 10 film terlaris di Indonesia tahun ini, Agustus 2017 novel Critical Eleven kembali dicetak untuk ke 23 kalinya sejak rilis 2015 lalu. Sebuah pencapaian yang cukup luar biasa, apalagi selama ini Ika lebih banyak menetap dan bekerja di Medan, dan proses komunikasi dengan penerbit maupun editornya hampir selalu dilakukan hanya lewat email ataupun telepon.

Ika Natassa

I guess I can say that Critical Eleven has a special place in my heart,” begitu Ika mengatakan. Bermula dari sebuah cerpen, Ika sukses mengembangkan sebuah ide di kepala menjadi buku laris yang ketika difilmkan berhasil memukau banyak orang dan juga berhasil menggaet 4 nominasi dalam Festival Film Bandung dan 4 nominasi di Festival Film Indonesia tahun ini.

“Evolusi Critical Eleven sebagai sebuah karya memang luar biasa bagiku sebagai penulis,” ungkap Ika yang juga alumni SMA 1 Medan ini. “Berawal dari gumpalan ide di kepalaku yang dituangkan menjadi cerpen dan masuk kumpulan cerpen, dan kemudian aku kembangkan lagi ceritanya menjadi novel.  Alhamdulillah novel tersebut sold out dalam 11 menit pada saat preorder dan kemudian menarik perhatian banyak produser film di Indonesia.  Aku juga bersyukur sekali ketika difilmkan pun semakin dicintai banyak orang,menghasilkan lebih dari 881.530 ribu penonton yang tidak sedikit di antaranya bahkan menonton film ini berkali-kali karena sangat tersentuh oleh ceritanya,” ungkap Ika.

Berani Bermimpi dan Berjuang Karena Tidak Ada Hal yang Instan

Tak ada trik khusus menurut Ika dalam menulis. Semua berjalan mengikuti alur karena ia juga tak mau memaksakan diri.

“Profesi utamaku tetap sebagai banker, ini sudah tahun ke 15 aku bekerja di Bank Mandiri.  Menulis sendiri hobiku sejak kecil yang ternyata sekarang bisa kutekuni juga sebagai profesi kedua.  Menjadi banker dan penulis buatku bukan pilihan, tapi kucintai dua-duanya dan menjadikan seorang Ika Natassa adalah Ika Natassa,” tutur Ika.

Ika Natassa

Selain tak ada trik khusus, Ika juga tak punya waktu khusus untuk menulis. “Aku tidak pernah menjadwalkan waktu menulis.  Kadang malam setelah pulang kantor, maghrib dan makan malam, itu juga kalau tidak sedang lelah atau banyak kerjaan. Jika tidak sempat saat weekdays, aku menyempatkan menulis saat weekend.  Karena itu bisa butuh 2-3 tahun untukku menghasilkan satu buku,” papar lulusan akuntansi USU tersebut.  “Yang perlu kutekankan satu hal: apapun hal yang kita pilih untuk kita lakukan dalam hidup, tidak ada yang instan.  Semuanya butuh perjuangan, kesabaran, dan keteguhan hati untuk mengejar impian.”

Meski tak ada trik atau waktu khusus untuk menulis, bukan berarti Ika tak menemukan kesulitan sama sekali.  “Seperti semua penulis, tentu aku pernah mengalami apa yang disebut writer’s block, kadang malah berlangsung berbulan-bulan.  Saat itu terjadi, yang aku lakukan adalah menganalisa sebabnya.  Jika sebabnya ternyata ide yang kurang matang, maka aku melakukan lebih banyak riset dan perenungan untuk mematangkan ide.  Jika sebabnya memang karena lelah, ya aku tidak memaksakan diri.  Aku memilih untuk meninggalkan dulu naskah itu dan melakukan hal-hal yang bisa menyegarkan kepala sekaligus memancing inspirasi, misalnya dengan nonton film, membaca, traveling, atau sekadar hang out dengan sahabat-sahabat.”

Sampai saat ini, sudah delapan buku yang ditulis oleh Ika sejak 2007 dan kesemuanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, selain novel Critical Eleven yang fenomenal dan saat ini juga akan terbit versi bahasa Melayunya di Malaysia, novel The Architecture Of Love pun tak kalah membanggakan.

Selain akan difilmkan dalam waktu dekat, berdasarkan polling yang dilakukan PollStory Project sejak 31 Desember 2015 hingga 14 Februari 2016 saja sudah lebih dari 22,5 juta kali dilakukan organic impression (red: dilihat) oleh para pengguna Twitter di seluruh dunia.Ika melalui The Architecture of Love menjadi penulis pertama di dunia yang menggunakan polling dalam proses penyelesaian novelnya.

Ia bekerja sama dengan Twitter mengajak pembaca dan followers-nya untuk ikut menentukan alur cerita, dari awal hingga akhir yang dilakukan secara rutin tiap minggunya. PollStory sendiri disajikan dalam bentuk Curated Timeline oleh Twitter Indonesia dan bisa diakses melalui tautan singkat.

Writing is an art form, and like any art form, it’s fluid.  Metode bercerita bagiku tidak harus terpaku lewat buku saja, namun juga bisa lewat media lain yang saat ini sangat banyak digunakan oleh berbagai kalangan, seperti social media.  Aku sudah menggunakan Twitter sebagai sarana penyampaian cerita sejak 2011, dan kemudian pada tahun 2015 Twitter Indonesia memilihku untuk bekerjasama menggunakan fitur polling yang saat itu baru diluncurkan Twitter untuk aku manfaatkan dalam menulis.

Jadi yang aku lakukan adalah menulis serial di Twitter selama 2 bulan, 2 kali seminggu, dan di setiap akhir episode yang kutwit, aku akan men-twit poll pilihan jalur cerita episode berikutnya.  Kemudian berdasarkan pilihan pembaca yang terbanyak, aku menulis lanjutan cerita tersebut.  Dengan cara ini, aku tidak hanya menjadikan pembaca sebagai pengikut cerita, namun sebagai kolaborator dalam penciptaan karya itu sendiri.  Banyak yang menyalahkan social media sebagai alasan kenapa tingkat literasi rendah, dan aku memilih untuk tidak play the blame game.  Aku justru memilih memanfaatkan social media sebagai medium bercerita.”

Ika Natassa

Penulis kelahiran Medan berdarah Melayu campur Batak ini begitu bersemangat dan senang bila semakin banyak penulis-penulis baru terutama dari daerah giat menghasilkan karya. “Aku ingin menunjukkan bahwa untuk menjadi orang kreatif, untuk berkarya kita tidak harus hidup di kota besar,Jakarta itu bukan segalanya. Aku ingin menginspirasi dengan karyaku dan menjadi contoh nyata bahwa tak ada alasan untuk malas menulis dan mencintai dunia literasi. Aku anak daerah, dari Medan dan pekerja kantoran tapi masih bisa menulis.  Intinya adalah niat dan usaha,” tuturnya.

Ika menghimbau siapapun agar menghilangkan rasa “Inferiority Complex” dalam dirinya. “Harus berani bermimpi dulu untuk menjadi seseorang, terserah mau jadi apa yang penting berani bermimpi setinggi mungkin sebagai diri sendiri,” himbaunya.  “The limit between what you can and you cannot do only exists in your mind.  Jika kau percaya kau bisa, maka kau akan selalu menemukan jalan untuk menggapai mimpimu.”

Era keterbukaan informasi harus dimanfaatkan secara maksimal untuk mengembangkan potensi diri terutama mewujudkan mimpi. Satu-satunya hal yang menjadi penghalang sebuah mimpi terwujud adalah ketakutan dan ketidakpercayaan diri. Yakin saja, dengan keberanian dan effort maksimal yangdiiringi doa maka siapapun bisa jadi apapun yang dia inginkan.

“Batas sebenarnya hanya restu Allah dan Dia juga nggak akan merubah nasib seseorang sebelumorang bersangkutan merubah nasibnya. Percaya bahwa kita bisa melakukan apapun karena masalahnya adalah urusan mau melakukan atau tidak. Usaha tanpa doa itu sombong, doa tanpa usaha itu sama juga bohong,” tegasnya.