Hardoni Sitohang: Bawa Tulila Makin Dikenal Dunia

Browse By

Tulila barang kali hanya sekadar sebatang bambu bagi orang awam yang melihatnya. Namun di tangan Hardoni Sitohang, alat musik tradisional mampu menciptakan suara yang tak hanya harmonis, namun juga indah.

Penulis: Dana A. Anjani Fotografer: Andru Kosti

Ia memiliki perawakan sederhana, selayaknya seorang laki-laki Batak, riak wajahnya tegas, lengkap dengan dialek kental nan tegap. Tapi lain jika ia sudah memainkan tulila, alat musik tiup tradisional Batak. Tulila merupakan alat musik tiup yang bentuknya menyerupai seruling, namun dengan ukuran yang lebih pendek. Musik yang tenang dengan alunan yang damai, rasanya pas jika menyebut alat musik ini mampu menciptkan sebuah pengalaman spiritual yang khusuk. Alat musik ini pulalah yang kini dikenalkan Hardoni kepada khalayak.

Hardoni Sitohang mulai mengenal alat musik tradisional sejak kecil. Ia lahir dari sebuah keluarga pemusik tradisional Batak Toba, Guntur Sitohang dan Tiamsa Habeahan. Ayah dan ibunya kerap membawanya ke gelaran-gelaran seni mulai tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Sebut saja acara kesenian seperti Pesta Horas, Pesta Danau Toba, Pekan Raya Sumatera Utara, maupun festival musik dan tari mulai dari tingkat daerah hingga nasional.

Menurut Hardoni, tulila awalnya dikenal sebagai alat musik mistis yang hanya dimainkan pada saat-saat tertentu, lengkap dengan ritual tersendiri. “Dulu, suara yang dikeluarkan tulila ini dianggap sebagai kekuatan spritual, sebuah suara dari atas gunung,” kisahnya. Suaranya yang menyerupai suara burung elang membuat alat musik makin dikenal sebagai alat musik yang bersuara sakral, dan tidak semua orang mampu memainkannya. Namun, meskipun tulila dianggap sebagai alat musik yang memiliki suara indah, nyatanya, tak banyak orang yang tahu perihal tulila. Itu pulalah yang membuat Hardoni makin ingin mengembangkan alat musik tulila ini.

“Saya ingin merevitalisasi alat musik ini, sembari memasarkannya,” ungkap pria kelahiran 23 April 1978 di desa Harian Boho, sebuah desa tepat di tepi Danau Toba ini. Modal, waktu, dan promosi menjadi beberapa hal yang harus dihadapi Hardoni untuk makin mengenalkan tulila. Menurutnya, packaging yang bagus mampu meningkatkan rasa keingintahuan seseorang akan alat musik ini. Itu juga yang tengah digodok Hardoni hingga saat ini. Salah satunya adalah dengan menelurkan album dari alat musik ini, yang akan rilis pada Oktober tahun ini.

“Tulila ini adalah alat musik dari Batak, dan saya ingin mengembalikannya kepada masyarakat Batak pula, bahwa kita memiliki budaya yang perlu dilestarikan,” ujar ayah dua anak ini. Ia pun mulai sering membawakan lagu rohani yang diiringi dengan tulila. “Tulila hanya bisa membawakan nada satu oktaf, jadi saya memulainya dengan lagu rohani yang juga satu oktaf,” jelas musisi yang kini menjadi bagian dalam perjalanan tur musik Viky Sianipar ini. Ia bahkan memainkan tulila ini saat menjadi salah satu pengisi tur Viky Sianipar di Austria. Ia pun kini sedang memproduksi sendiri tulila dalam jumlah yang lebih banyak.

Sembari memproduksi tulila dan membuat album, Hardoni pun membuat tutorial untuk memainkan alat musik ini. Ia memandang, dengan membuat tutorial, maka orang lain dapat belajar sendiri untuk memainkan tulila. “Jadi saya produksi, saya buat packaging yang baik, dan saya buatkan tutorialnya, jadi semua orang bisa memainkan tulila,” ungkap lelaki lulusan Seni Musik Universitas Negeri Medan ini.

Pada 2006, Hardoni meraih piala Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk peringkat 1 umum sebagai pelatih musik dalam rangka Festival Musik Tradisional Anak-anak tingkat Nasional untuk kelompok umur 7-12 tahun di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana negara pada tanggal 17 Agustus 2006.

Hardoni juga pernah mendapat penghargaan dari Gubernur Sumatera Utara, Tengku Rizal Nurdin sebagai pemain seruling terbaik se-Sumatera Utara di Parapat pada tahun 2006. Selain itu ia juga mendapat piagam penghargaan dari Bupati Samosir sebagai salah satu pengembang musik taradisional asal Samosir dan masih banyak penghargaan lainnya atas kepiawaiannya dalam memainkan musik tradisional Batak.