Gita Cinta Galih dan Ratna

Browse By

Reviewer: Lazuardi Pratama Foto: filmgalihdanratna.com

Galih dan Ratna adalah perayaan masa-masa SMA yang penuh kesan. Manis sekali. Tersipu aku dibuatnya.

Mengenang masa SMA memang tak jauh dari gagasan-gagasan tentang kenangan indah (atau muram?) masa remaja. Masa-masa SMA menjadi masa yang biasa untuk berbicara soal cinta dan mimpi. Tema mimpi di masa remaja inilah yang terlihat membedakan Galih dan Ratna (kita singkat saja dengan GnR) ini dengan Gita Cinta dari SMA (1979), film legendaris yang dijadikan objek kreasi ulangnya (remake).

Dibandingkan Gita Cinta dari SMA yang lebih banyak bercerita tentang konflik cinta dua insan yang dibenturkan pada keinginan keluarga, GnR menonjolkan tema tentang mimpi anak muda. Walaupun berbeda begitu, GnR masih tetap punya konflik anak muda dengan orang tua yang disajikan dengan drama yang lebih masuk akal untuk anak sekarang. Bayangkan saja, sosok ayah Ratna dalam film yang dibintangi Rano Karno dan Yessy Gusman tahun 1979 itu dulu menolak kisah cinta Galih dengan Ratna karena perkara orang Jawa tak boleh bersama dengan orang Sunda. Sangat udik sekali kalau dibandingkan dengan GnR yang dramanya berkelindan di antara pilihan belajar, cinta, keinginan orang tua, mimpi, dan idealisme. Tema yang tak asing dengan kosakata milenial.

Sutradara Lucky beberapa kali dikatakan memang menginginkan kreasi ulang ini bercitarasa milenial. Sejumlah detail juga di-upgrade” zamannya. Misalnya, Erlin (yang diperankan dengan baik oleh Stella Lee), salah satu teman sekolah yang merupakan beauty blogger plus segala obsesinya akan follower Instagram, minus percakapan tentang zodiak. Sekarang anak milenial sepertinya lebih suka pakai golongan darah dan tes MBTI ketimbang zodiak.

Selain itu, konsep cerita Gita Cinta dari SMA memang sederhana sekali pada awalnya: dua sejoli yang menikmati masa SMA mereka dengan berkasih-kasih, namun terhalang keinginan orang tua. Hal itu membuat eksistensi GnR bila dibandingkan dengan Gita Cinta dari SMA menjadi observasi yang menarik tentang masa SMA remaja Indonesia dari masa ke masa.

Galih (Refal Hady) lahir dari keluarga miskin di daerah suburban Bogor. Usaha katering ibunya barangkali cukup untuk biayai makan sehari-hari, tetapi Galih harus dibantu oleh beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya. Sementara itu, Ratna (Sheryl Sheinafia) adalah anak pebisnis, broken home, dan terpaksa pindah dari Jakarta ke Bogor karena pekerjaan ayahnya. Yang satu miskin, yang satu kaya. Klise memang. Ratna yang ogah-ogahan sekolah akhirnya menemukan Galih, sosok siswa misterius, pintar, dan suka menyendiri mendengarkan lagu dari tape kesayangannya. Ratna terkesima karena Galih orangnya anti-mainstream dan teguh soal prinsip. Galih juga ikut kesengsem karena selain manis, Ratna tahu lagu Sakura oleh Fariz RM. Senada cinta bersemi di antara kita. Uhuy!

Namun seperti yang aku bilang sebelumnya, GnR ini dibangun dari sebuah cerita klise yang barangkali kalau bukan karena faktor Gita Cinta dari SMA yang legendaris atau dipegang oleh sembarang orang, ia akan berakhir jadi FTV. Namun GnR adalah hasil karya dari upaya yang luar biasa oleh Lucky Kuswandi (Selamat Pagi, Malam, 2014) dan krunya untuk menerjemahkan Gita Cinta dari SMA yang digemari oleh anak muda zaman dulu menjadi konsumsi menarik milenial sekarang.

GnR manis sekali. Terutama kemistri yang terbangun di antara tokoh Galih dan Ratna. Adegan Galih ketika malu-malu menghadiahkan mixtape pada Ratna (yang kepergok tidur sambil ngiler) menjadi manis sekali ketimbang canggung. Interaksi antara Galih yang perhatian namun prinsipil dan Ratna yang “manis-manis jambu” plus so millenial sukses buat aku tersipu-sipu malu, senyum-senyum sendiri seperti sedang sinting.

Performa Refal dan Sheryl patut diapresiasi. Keduanya adalah aktor muda yang belum punya banyak portofolio akting (Sheryl sebelumnya sudah main di Koala Kumal Raditya Dika), tapi cukup berhasil membawakan tokoh Galih dan juga Ratna. Meskipun, yah, tidak terlalu spesial-spesial amat. Tetapi melihat pengalaman mereka sekaligus keberanian produser GnR melibatkan aktor-aktor tidak berpengalaman membuatnya luar biasa.

Penampilan gemilang, sekali lagi, ditunjukkan oleh Marisa Annita. Mantan presenter TV yang sebelumnya bermain apik dalam Istirahatlah Kata-Kata (2017), kini berhasil dalam perannya menjadi bibi Sheryl. Karakternya yang lebay dan heboh sendiri terbukti berhasil bahkan beberapa kali jadi scene-stealer. Bahkan ada pula Joko Anwar yang berperan menjadi guru yang seharusnya gahar, tapi lucu betul. Joko menawarkan lebih banyak dimensi seorang guru daripada stereotip guru gahar dalam film Indonesia selama yang flat dan cenderung tak kaya akan karakter.

Yang paling aku kagumi adalah keberhasilan film ini menerjemahkan musik ke dalam narasi film. Musik-musik tersebut bukan hanya sekadar tempelan belaka, namun ikut menggerakkan plot cerita. Selain itu, Lucky juga tak lupa menyampaikan kritik sosialnya, seperti memasukkan karakter gay dan lesbian implisit. Secara keseluruhan, GnR ini bukan hanya sebagai tribute untuk Gita Cinta dari SMA, tapi juga layaknya sebuah tribut dari dan untuk para milenial Indonesia. Dan sangat berkesan sekali.

Related Post