Gerakan Sosial Dukung Pendidikan Desa Sikara-Kara, Mandailing Natal

Browse By

Teks: Resta M.Napitupulu I Foto: Dok.Pribadi

Keceriaan dan senyuman terpancar dari siswa Sekolah Dasar (SD) Desa Sikara-kara, yang terletak 100 kilometer dari Kota Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal ketika menerima bantuan berupa tas dan perlengkapan sekolah dari Tim The School Project bekerja sama dengan Cerdas Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen mendukung pendidikan khususnya anak-anak yang kurang mampu.

Founder The School Projects, Jaya Setiawan Gulo mengatakan, dipilihnya Desa Sikara-kara, karena letak desa yang sangat jauh dari pusat kota dan memakan waktu 7 jam dari Kota Panyabungan. “Kita juga melihat masih ada anak bangsa ini yang bersekolah dengan membawa buku pelajaran dengan dibungkus plastik kresek sebagai tas. Ada juga siswa yang membawa tas sekolah yang tidak ada isinya. Kondisi inilah yang mendasari kita untuk memberikan bantuan perlengkapan sekolah dengan harapan agar mereka bisa belajar dengan baik,” ungkapnya.

Mengusung motto “Education Cannot Wait”, katanya, bantuan tersebut dikumpulkan dari dana sukarela yang dikumpulkan selama satu tahun dengan dukungan masyarakat serta organisasi guna menyukseskan proyek sosial pertama mereka ini. “Kegiatan sosial ini dilaksanakan selama 4 hari dengan rincian bantuan sebanyak 1.100 tas sekolah, 11 ribu buku tulis, 4.400 pena, 4.400 pensil, 2.200 penghapus, 1.100 rautan dan 1.100 penggaris. Untuk pendistribusian diserahkan ke 10 SD yang ada di Kecamatan Natal, tepatnya di Desa Sikara-kara dan Desa Muara Batang Gadis pada Senin (21/8/2017), lalu,” terangnya.

Adapun sekolah yang mendapat bantuan diantaranya SDN Filial 378 Simpang Bambu, SDN Filial 378 Simpang Sauh, SDN 390 Salebaru Dusun Salebaru, SDN 390 Salebaru Dusun Bronjong I, SDN 390 Salebaru di Dusun Bulung Gadung, SD Swasta Bina Artha Mahkota, SDN 374 Sikara-Kara 3, SDN 379 Sikara-Kara, SDN 379, dan SD Negeri 380 Kun Kun.

Dikatakan banyak sekolah yang tidak layak huni karena atapnya berlubang, lantai dengan tanah sebagai pijakan, rawan banjir, jumlah kelas yang terbatas, dan banyak masalah lainnya. Jaya mengharapkan, kedepannya penyaluran bantuan untuk pendidikan bagi sekolah di pelosok yang tidak pernah diperhatikan oleh Pemerintah Pusat, Provinsi maupun kabupaten, tetap dilaksanakan.