Gal Gadot Adalah Kunci

Browse By

Reviewer: Lazuardi Pratama Foto: Spesial

Dibangun oleh cerita yang generik tentang kemanusiaan dan penceritaan yang kacau, Gal Gadot mencuri setiap kesan di setiap adegannya.

Wonder Woman sepanjang sejarahnya selalu erat dikaitkan dengan usaha perempuan mencapai kesetaraan dengan kaum laki-laki. Selama lebih dari setengah abad, pahlawan super dengan nama karakter Diana ini menjadi ikon feminisme dan perjuangan hak perempuan di seluruh dunia.

Wonder Woman diciptakan pertama kali pada tahun 1941 oleh penulis yang merangkap psikolog, William Moulton Marston. Dari riset dan keilmuannya, ia meyakini bahwa perempuan tidak inferior dibandingkan laki-laki. Menurutnya, perempuan juga dapat bekerja lebih cepat dan giat, serta mengandalkan nilai-nilai cinta alih-alih konflik dalam memecahkan masalah.

Maka lewat film Wonder Woman ini, gerakan feminisme dalam konteks pahlawan super kembali digaungkan. Wajar memang, mengingat kebanyakan pahlawan super populer yang difilmkan, baik itu dari universe DC atau Marvel, berjenis kelamin laki-laki.

Dalam film ini pula, terdapat sejumlah momen tersebut, seperti saat Diana (Gal Gadot) memasuki ruangan pertemuan yang penuh perwira laki-laki. Orang-orang menatapnya heran sebelum seorang jenderal menghardiknya karena konsep pengambilan keputusan yang dicerminkan oleh para perwira tersebut bukanlah bagian perempuan. Secara tidak mengejutkan, Diana memang tidak peduli dengan konsep patriarki seperti itu sebab di tempatnya berasal, perempuan mampu berperang dan dapat menang tanpa laki-laki.

Film dibuka dengan kisah Diana kecil yang dibesarkan di pulau fiktif bernama Themyscira. Pulau yang semua penduduknya adalah perempuan ini ditutupi kabut dan menjadi rahasia dari peradaban manusia. Themyscira dipimpin oleh Ratu Hippolyta (Connie Nielsen) dan punya pasukan perempuan yang ganas dan terlatih, termasuk Diana.

Penduduk Themyscira yang dipanggil kaum Amazon ini adalah umat khusus yang diciptakan untuk membawa perdamaian dunia dan mengalahkan Ares, si Dewa Perang yang tentunya gemar berperang. Lewat seorang mata-mata Inggris bernama Steve Trevor (Chris Pine) yang terdampar di Themyscira karena dikejar pasukan Jerman, kaum Amazon menyadari ada perang besar di luar sana. Diana yakin sekali itu ulah Ares dan ia berambisi mengikuti takdirnya: mengalahkan Ares. Cerita yang sangat generik, namun begitulah Wonder Woman.

Menilai film Wonder Woman banyak “tapi”-nya. Penonton disuguhi oleh bagian-bagian menarik di separuh awal film dengan separuh akhir yang berantakan. Film ini diisi oleh humor lucu yang menyinggung seksualitas, adegan tempur yang menarik di awal, dan pesona Gal Gadot sebagai wonder woman yang berhasil mencuri perhatian, tapi menjadi membosankan di tengah film dan sejumlah kecacatan yang dibiarkan di babak terakhir film.

Menonton film pahlawan super tentunya wajar mengharapkan adegan pertempuran atau perkelahian dengan bumbu-bumbu fantasi. Pertempuran antara kaum Amazon dengan angkatan laut Jerman di pantai Themyscira cukup epik. Setelah beberapa menit penonton disuguhkan latihan fisik para perempuan tangguh, sungguh memuaskan melihat sejumlah adegan akrobatik dengan slow-motion antara senjata tempur a la abad pertengahan melawan senapan Perang Dunia I.

Bagian film saat Diana meninggalkan Themyscira menuju London bersama Trevor juga menarik. Lewat humor a la a la orang kampung ke kota, film ini menggali polosnya Diana memandang dunia dan dihadapkan pada Trevor yang cukup tabah melihat kelakuannya. Pada adegan di kapal saat mereka meninggalkan pulau, Diana membahas hal-hal seksual secara terang-terangan dengan Trevor yang pada akhirnya gelagapan tak mampu menjawab. Keduanya sungguh menggemaskan.

Polosnya—murni barangkali istilah yang lebih tepat—Diana itu kemudian mengubah banyak cerita. Salah satunya saat ia masuk ruang perwira di atas. Atau sekonyong-konyong menembus pertahanan Jerman yang dipertahankan oleh senapan mesin dan pelontar mortar. Padahal pasukan Inggris perlu setahun untuk maju sejauh satu inci.

Menurut Diana, semua hal di dunia itu hitam dan putih; yang baik ya pasti baik dan patut dibela dan yang jahat adalah kubu seberang yang patut ditumpas. Diana tidak tahu jika ada kubu abu-abu atau mereka yang putih menyaru hitam atau juga sebaliknya. Diana adalah pahlawan super yang jujur, tidak sinis, dan optimis dalam menjalankan aksi kepahlawanannya. Sifat-sifat inilah yang sangat kuat tergambarkan dalam diri Diana dan kemudian menjadi emosional saat belakangan ia mengetahui ternyata semuanya tak sesederhana yang ia bayangkan selama ini.

Sayangnya, babak terakhir film ini terkesan berantakan. Hal ini dimulai dari turunnya tempo di tengah film yang celakanya berkepanjangan dan membuat bosan. Selain itu, banyak sekali cacat berupa adegan-adegan tidak masuk akal yang dibiarkan seakan-akan itu masuk akal. Misalnya saat Diana mengkonfrontasi Jenderal Ludendorff (Danny Huston) di sebuah komplek militer dan tidak ada satu pun orang yang menyadari ada keributan dan sadar jenderal mereka sudah dibabat habis. Atau saat Chief, salah satu kompatriot Diana dan Trevor memberikan kode lewat asap a la a la suku Indian tepat di sebelah perayaan di mana pejabat tinggi Jerman datang. Ajaibnya, tidak ada pasukan Jerman yang menyadari. Hal-hal sepele ini, jika dibiarkan bertumpuk-tumpuk akan menjadi kekacauan besar dan itu terjadi.

Terlepas dari hal itu dan kontroversi aneh serta tidak penting yang menghantui film ini sebelum rilis, seperti berita ketiak tak berbulu dan payudara yang kurang besar, Gal Gadot adalah primadona. Kemampuannya sebagai aktris harus dinilai lebih dari itu. Gadot mencerminkan citra Wonder Woman yang cantik dan tegas, apalagi aksennya yang menggemaskan itu, namun punya aura pemberani dan bisa diandalkan. Gadot memang menjadi pemeran utama dan ia berhasil menjaga serta mencuri perhatian penonton dari hal-hal lainnya. Secara serius, Gal Gadot memang benar-benar kunci.