Endra, Bawa Singkong Hingga Mendunia

Browse By

Penulis: Tania Meliala | Fotografer: Dana Anjani

Selain dijadikan sebagai bahan pangan, singkong ternyata bisa disulap menjadi sebuah karya seni rupa yang bernilai tinggi dan precious. Di tangan seorang Endra Kong, singkong bahkan dibawa hingga mendunia.

IMG_0621

Tidak sedikit seniman asal Medan memiliki karya seni yang patut diacungi jempol, salah satunya Endra Kong. Bakat seni pria kelahiran Kisaran tahun 1980 ini sudah mulai terlihat sejak usianya 3 tahun. “Melukis itu sudah seperti bakat lahir yang menempel apda saya. Saya dipilih Tuhan untuk menjadi pelukis, makanya saya mengasah kemampuan saya di bidang seni rupa. Tak hanya melukis namun di bidang lainnya” ujar Endra.

Semula keinginannya untuk fokus pada bidang seni sempat mendapat hambatan dari pihak keluarga, namun Endra menemukan jalan keluarnya dengan cara mengajak kedua orangtuanya berdialog dan mengenalkan kepada mereka arti seni rupa yang sebenarnya. “Profesi seniman masih sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Saya banyak bertemu dengan anak muda yang dilarang orangtuanya untuk menekuni bidang seni, karena dianggap seni tidak bisa menghasilkan. Saya selalu menyarankan agar mereka mengajak orangtuanya untuk berdialog,” ujar  lulusan terbaik Seni Rupa Universitas Negeri Medan ini.

Sejak duduk di bangku SMP, Endra sudah mulai menghasilkan karya dan menerima pesanan kerajinan tangan. Saat itu hasil kerajinan tangannya dijual Rp 75 ribu. Baginya karya seni tidak hanya diukur dengan harga namun rasa kepuasan terhadap hasil karya itu jauh lebih mahal.”Kalau ada orang yang bilang seni itu tidak menghasilkan, itu salah. Justru benda yang paling mahal di dunia itu adalah seni rupa. Lukisan S.Soedjojono laku dijual seharga Rp 85 Milyar,” jelas pengagum Vincent van Gogh ini.

Seni sudah menjadi darah baginya. Dimana pun ia bisa melukis. “Saya ingin membuktikan kalau seniman Medan juga bisa menghasilkan lukisan mahal. Saya terbukti pernah beberapa kali menjual karya saya dengan harga mahal, namun sebenarnya harga mahal itu bukan suatu ukuran dalam karya seni,” ungkap pendiri Indonesia’s Sketcher Medan ini.

Ketertarikannya pada singkong bermula ketika ia berkunjung dan menetap beebrapa waktu di Yogyakarta. “Saat itu saya mulai tertarik dengan singkong.  Saya menjadikan singkong sebagai subjek hasil karya saya. Singkong itu luar biasa, ia memiliki kegunaan, tidak hanya buahnya, batang dan daunnya bisa dimanfaatkan..” ujar Endra. Karena hasil karyawanya banyak terisnpirasi dari singkong, tak jarang orang mengenalnya dengan sebutan Endra Kong. Baginya melukis itu tidak bisa dipengaruhi apapun, jika lukisan itu mahal. Itu adalah bonus.

“Buat saya singkong itu buat saya jadikan lukisan, akarnya, batangnya bahkan daunnya bisa saya jadikan karya seperti Wayang Singkong, tangkainya bisa jadi patung buat saya. Singkong bisa jadi sumber karya seni. Cerita-cerita lukisan saya juga inspirasinya dari singkong. Singkong menjadi peran utama dalam karya saya,” jelas pria yang juga merupakan Artist dan Kurator Independen Medan.

Beberapa karya Endra diantaranya Telo Budur, Haji Ubi, Ascending Casava yang meneyrupai menara Eifel namun terbuat dari singkong. Ia juga tengah merampungkan karyanya yakni Taj Mahal yang terbuat dari singkong.

Saat ini, bersama seorang arsitek dan owner, Endra sedang membangun sebuah Kampung Seni di kitaran Tanjung Morawa Medan. “Saya ingin Medan punya tempat berbudaya, yah salah satunya lewat Kampung Seni ini. Semoga bisa diselesaikan secepatnya,” ungkapnya. Ke depannya Endra menyimpan keinginan untuk dapat menyumbang karyanya ke -27 propinsi di Indonesia yang belum memiliki museum seni. Museum seni sangat dibutuhkan untuk menampung kreativitas dan karya seni para maestro sehingga dapat menjadi warisan masa depan anak cucu bangsa Indonesia.

Related Post