Dr. Restuti Hidayani Saragih, SpPD,FINASIM: Menjadi Dokter, Bukan Hanya Tentang Mengabdi

Browse By

Teks: Dana A. Anjani | Foto: David Siahaan

“The best way to find your self is to lose your self in the service of others,” – Mahatma Gandhi

Menjadi seorang dokter artinya merelakan dan menyiapkan diri untuk nantinya, menjadi seorang pelayan masyarakat. Tak hanya dokter, daftar profesi lainnya pun pada sejatinya juga dituntut untuk menjadi abdi masyarakat, memberikan pelayanan, informasi, bahkan memastikan hajat hidup orang banyak. Menempuh masa pendidikan yang relatif lama dan biaya yang cenderung tak sedikit, membuat profesi dokter menjadi salah satu profesi yang gampang-gampang susah. Orang yang benar-benar menyukai dunia medis, pastilah begitu menikmati tiap proses yang ada. Merekalah orang-orang yang memang sudah sadar dengan jalan yang ditempuh, yang telah paham betul akan kemana ilmu mereka dibawa nantinya.

KOVER berbincang dengan Dr. Restuti Hidayani Saragih, SpPD, FINASIM. Ia adalah seorang dokter spesialis penyakit dalam yang juga bekerja sebagai staf pengajar di Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, dan juga merupakan dokter spesialis di RSUP H. Adam Malik Medan. Bukan sembarang dokter, sosok Inspiratif ini juga ternyata cukup vokal dalam menyuarakan hak-hak bagi para dokter di Indonesia. Segudang cerita dan ragam prestasi dan keluh kesah dikisahkan oleh sosok yang menjadi Inspirational Person kali ini.

Lahir dari orang tua yang berkecimpung dalam dunia medis, membuat Restuti pun turut memiliki ketertarikan pada bidang ini. “Ayah saya adalah seorang perawat, ibu saya bekerja sebagai asisten apoteker, dan abang saya adalah seorang dokter, mungkin ini jugalah yang bikin saya tertarik untuk menjadi dokter,” kisahnya. Ia yang juga menyukai bidang sosial pun dulu sempat mencantumkan Hubungan Internasional sebagai bidang yang ia minati saat duduk di bangku SMA. Menurutnya, kedua bidang ini, sosial dan medis, adalah dua hal yang begitu menarik. Hingga akhirnya, pada tahun 1999 ia berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Keterkaitan emosional. Itulah yang menjadi sebab utama ibu satu anak ini memilih untuk mendalami dan mengambil spesialis penyakit dalam, dibandingkan dengan bidang lainnya. Ibunya yang didiagnosa Sirosis Hati saat ia berada di tahun pertama kuliah membuatnya mengikuti seluk beluk dan penanganan penyakit ini. “Waktu itu, ibu saya sering mual dan muntah, awalnya, beliau mengira itu hanya maag biasa, namun ketika dicek ke dokter, ibu didiagnosa Sirosis Hati. Saya yang waktu itu masih di tahun pertama pun langsung mencari tahu tentang penyakit ini,” ungkapnya.

“Saya mempelajari bagaimana seluk beluk penyakit ini, dan menemukan bahwa Sirosis Hati termasuk dalam kategori penyakit dalam. Itulah yang membuat saya kemudian memilih untuk mengambil spesialis ini,” pungkasnya. Penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis C ini pun bekerja secara diam dan menggerogoti kesehatan ibunda Restuti. Hingga di tahun 2004, ibunya meninggal dunia. “Saat ibu saya meninggal, saya bertekad untuk nantinya bisa menjadi seorang internis, paling nggak saya bisa bantu orang-orang yang seperti ibu saya, karena secara pribadi, saat itu, belum banyak yang bisa saya lakukan untuk beliau,” tutur Restuti.

Selain aktif menjadi dokter dan pengajar, sosok inspiratif ini juga menjadi aktivis yang menyuarakan hak-hak dokter melalui Gerakan Moral Dokter Indonesia Bersatu (DIB). Gerakan ini diikuti oleh dokter-dokter dari berbagai bidang, seperti dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, mahasiswa kedokteran, dan kedokteran gigi. Kegiatan ini juga ditujukan bukan hanya terhadap profesi dokter semata, melainkan juga kepada masyarakat yang mendapat pelayanan kesehatan.

“Reformasi sistem kesehatan yang berkeadilan, adil dari segi masyarakat, dan juga dokter,” tegasnya saat ditanya tujuan dari gerakan ini. Restuti yang merupakan humas Gerakan Moral DIB Sumut menuturkan komunitas ini juga melakukan ragam kegiatan advokasi, dan turun ke masyarakat untuk memberikan pelayanan melalui berbagai kegiatan seperti bakti sosial yang bekerjasama dengan beberapa komunitas, instansi, dan lembaga yang ada di Kota Medan.

Mereka berusaha memberikan penegasan bahwa dokter adalah bagian dari rakyat, tidak seperti yang sering diduga oleh masyarakat selama ini yang tak jarang berpikir bahwa dokter adalah profesi yang eksklusif. Tak jarang pula, bidang kesehatan, selain pendidikan adalah lahan subur untuk dipolitisasi. Melalui gerakan ini pula tiap kegiatan dilakukan untuk memupuk kesejawatan antar anggota, menyeimbangkan antara hak dan kewajiban sebagai dokter, dan menegakkan kembali idealisme antar dokter Indonesia.

“Selama ini, dokter selalu dicekoki untuk mengabdi dan mengabdi, namun sayangnya, masih minim sekali perhatian dan penghargaan yang diberikan pada dokter. Pemerintah dan masyarakat menuntut dokter untuk bekerja secara profesional namun ketika dokter menuntut penghargaan yang layak atas profesionalismenya maka dianggap mata duitan,” tandasnya. “Tak jarang pula, pasien menyalahkan dokter atas pelayanan yang diterima, tanpa mereka menyadari bahwa dokter hanya mengikuti aturan yang ada, dan terikat olehnya,” tambahnya lagi.

Restuti menyampaikan bahwa masih banyaknya masyarakat Indonesia, dan Medan khususnya, yang lebih memilih berobat keluar negeri dibandingkan ke rumah sakit di Indonesia. Menurutnya, anggapan bahwa kualitas pelayanan kesehatan di luar negeri bisa jadi karena peralatan dan tenaga medis yang didapat, dirasa jauh lebih baik. “Banyaknya masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri, misalnya warga Medan yang berobat ke Penang itu karena adanya pandangan bahwa segala sesuatu yang berasal dari luar negeri memiliki kualitas lebih baik, padahal hal ini belum tentu benar. Masyarakat juga harus tau bahwa banyak dokter Indonesia yang memiliki kemampuan setara bahkan lebih dibandingkan dokter di luar negeri, namun minimnya fasilitas dan dukungan Pemerintah membuat kemampuan mereka menjadi sia-sia,” ujarnya.

Tak sekadar mengajar dan menjadi tenaga medis, Restuti pun ternyata adalah sosok dokter yang memiliki segudang prestasi. Ia menjadi dokter Teladan di lingkungan RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 2015, dan juga merupakan instruktur di Pusat Ultrasonografi Kedokteran Indonesia (PUSKI) sejak tahun 2013. Restuti juga menjadi narasumber untuk talkshow kesehatan di salah satu stasiun TV swasta di Kota Medan, dan di RRI PRO1 FM Medan. Tak berhenti disitu, baru-baru ini ia juga diundang sebagai pembicara di World Congress of Digestive Diseases di Nanjing, Cina, setelah penelitian yang ia buat dipublikasikan di Indonesian Journal of Gastroenterology Hepatology and Digestive Endoscopy yang terakreditasi internasional.

Saat ini ia pun sedang menempuh pendidikan untuk menjadi Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi di FK USU. Restuti pun mengakui bahwa belajar tak akan pernah berhenti. Itulah sebabnya ia terus menempuh pendidikan untuk lebih memantapkan ilmu yang ia miliki. “Kedokteran adalah pembelajaran seumur hidup,” pungkasnya.