Diabetes Bisa Sebabkan Kebutaan

Browse By

Physical fitness is not only one of the most important keys to a healthy body, it is the basis of dynamic and creative intellectual activity. – John F. Kennedy

Penulis : Mutia Aisa Rahmi | Fotografer : Parada Mutaqdir Siregar

Diabetes merupakan sebuah kondisi kadar gula di dalam darah, di mana jika kadarnya telah melebihi batas normal, akan menyebabkan berbagai macam penyakit yang merupakan komplikasi dari penyakit diabetes itu sendiri.

Saat ini, penderita diabetes di Indonesia semakin meningkat. Pada tahun 2016 lalu, World Healt Organization (WHO) mengeluarkan data mengenai jumlah penderita diabetes di Indonesia, angkanya mencapai 10juta orang, dengan angka ini Indonesia menduduki peringkat ketujuh di dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak. Tak hanya itu, diperkirakan pada 2040 mendatang, penderita diabetes di Indonesia akan mencapai angka 642juta orang.

Penderita diabetes biasanya mengalami beberapa gejala umum seperti kuantitas urin yang meningkat, lemas, berat badan yang turun secara tiba-tiba dan infeksi pada luka yang tak kunjung sembuh.

Dr. M Bastanta Tarigan, SpPD-KEMD, seorang dokter spesialis penyakit dalam yang juga merupakan seorang konsultan diabetes mengatakan, pada seorang yang menderita diabetes, kondisi yang mengkhawatirkan tidak hanya soal dampak dari diabetes itu saja, misalnya infeksi luka dan kencing manis, tetapi juga komplikasi yang disebabkan olehnya. “Ada banyak komplikasi nantinya, seperti penyakit jantung, stroke, infeksi ginjal hingga kebutaan,” jelasnya. Lebih lanjut ia menyatakan tak sedikit kasus diabetes yang mengakibatkan kebutaan terjadi di Indonesia.

Kasus diabetes yang menyebabkan kebutaan tersebut disebut dengan Diabetic Retinopathy, di mana terjadi pembengkakan hingga menyebabkan kebocoran pada pembuluh darah di retina. Namun, dalam beberapa kasus juga ada yang disebabkan oleh petumbuhan pembuluh darah yang abnormal pada permukaan retina. “Kadang penderitanya tiba-tiba mengalami penglihatan kabur dan beberapa juga ada mengalami kondisi seperti mata katarak,” ujarnya.

Penderita diabetes dengan kodisi Diabetic Retinopathy biasanya tidak mengetahui bahwa penyebab dari kerusakan retinanya adalah diabetes, karena tak ada gejala yang menandakan serangannya, sebelum penderita mengalami gangguan pada penglihatannya. Umumnya mereka mengalami komplikasi terlebih dahulu, baru kemudian mengetahui bahwa diabetes adalah penyebabnya.

Kondisi tersebut terjadi karena memang pola komplikasi diabetes yang terjadi dalam jangka waktu yang lama namun tak menunjukkan gejala yang kentara selama perkembangannya.”Biasanya penderita lebih dahulu mengetahui komplikasinya dari pada diabetesnya, karena ketika masa perkembangannya yang bisa mencapai lima tahun tidak menampakkan gejala apa-apa” tambahnya.

Penanganan

Pada penderita Diabetic Retinopathy penanganan yang dijalani ada dua macam, yakni ditangani oleh dokter mata yang menangani bagian mata yang terkena komplikasi, serta diiringi dengan perawatan diabetes yang bertujuan untuk menstabilkan kadar gula darah penderitanya, agar penyembuhan mata dapat berjalan dengan baik dan masa recovery berjalan cepat.

Bagi penderita yang diabetes yang telah mengalami komplikasi, ia harus menjalani treatment berkelanjutan mulai dari  injeksi insulin hingga konsumsi obat seumur hidup.

Hal ini diakibatkan karena tingkat diabetes yang diderita sudah berkombinasi dengan kerusakan sel penghasil insulin dalam tubuh, “sehingga yang bisa dilakukan hanya penanggulangan efek atau dampaknya saja,” jelas Dr. Bastanta.

Pencegahan

Sebelum memasuki fase di mana sesorang mengalami penyakit diabetes, mereka akan melewati masa yang disebut dengan Prediabetes. Fase ini adalah kondisi di mana kadar gula darah berada pada angka 100-125 mg/dl pada saat puasa dan kecil dari 140 mg/dl pada dua jam setelah makan.

Ketika seseorang mulai memasuki fase ini, kondisi mereka masih bisa ditangani sehingga tidak mencapai kondisi dengan penyakit diabetes yang disertai dengan berbagai macam komplikasi.

Penanganan yang diberikan adalah berupa konsultasi kesehatan dan perubahan pola hidup, “biasanya nggak sampai perlu mengkonsumsi obat-obatan, cukup olahraga dan pola makan saja yang diatur,” ujarnya.

Sedangkan seseorang yang sudah menderita penyakit diabetes, akan menjalankan perawatan tak hanya perbaikan pola hidup dan makan, tetapi juga konsumsi obat seumur hidup, “Apalagai jika sudah disertai komplikasi, perawatannya akan semakin panjang,” ujarnya dengan tegas.

Oleh karena itu, penyakit diabetes bisa dicegah dengan deteksi dini melalui screening rutin setiap enam bulan sekali. Dengan deteksi dini ini, perkembangan tingkat gula darah dapat dipantau dan ditangani lebih cepat. “bisa dibilang tugas kita saat ini adalah, jangan sampai prediabetes meningkat menjadi diabetes,” ujarnya.

Dan jika seseorang telah mencapai fase diabetes, penanganan yang bertujuan penstabilan kadar gula darah dapat dilakukan sebelum terjadinya komplikasi.

Namun meskipun demikian, Dr. Bastanta menyatakan, akan lebih baik jika penanganan yang dilakukan tidak bergantung pada obat, hanya dengan perubahan pola hidup yang disertai dengan olahraga minimal 30 menit setiap hari dan perbaikan pola makan.

Penanganan diabetes tanpa bergantung pada obat dapat menurunkan resiko efek samping. Untuk mewujudkan hal itu, ia menghibau masyarakat untuk lebih memperhatikan dirinya dengan menjalani screening kesehatan rutin, “Ibarat kendaraan bermotor, ada baiknya jika rutin mengecek isi dalam tubuh kita,” tutup dokter spesialis dalam lulusan Universitas Indonesia itu.

Related Post