Desa Pegajahan, Kampung Bali di Tanah Deli

Browse By

Penulis & Foto: Aulia Adam

Mereka adalah sisa dari minoritas orang Hindu yang bertransmigrasi dari Bali ke Tanah Deli. Bukti sejarah, bahwa keberagaman memanglah ciri sejati tanah ini. Meski jumlahnya kian menipis, tapi melestarikan tradisi tetap mereka lakoni setiap hari.

Saya diberitahu seorang teman kalau akan ada ibadah Tilem hari Minggu. Tilem adalah ibadah yang dilakukan umat Hindu Bali untuk bersyukur terhadap rejeki yang diberikan Dewa. Seperti namanya tilem yang berarti tidur, upacara doa ini dilakukan pada saat purnama mati menurut kalender orang Bali. Seumur hidup, saya memang tak pernah ikut upacara Tilem, bahkan dulu saat saya plesir ke Bali. Tapi, mengetahui upacara itu akan diadakan di sini, di Tanah Deli, sungguh rasa penasaran saya terpantik.

“Upacaranya dimulai malam hari,” kata teman saya.

Maka kami tak terburu-buru menuju ‘Kampung Bali’, sebutan lain untuk Desa Pegajahan, Perbaungan, Sumatera Utara. Dari Medan, kami berangkat pukul setengah enam sore. Jalanan cukup aman dan lancar sore itu. Tak ada macet di jalan lintas provinsi yang kami lewati. Tapi, karena berangkat terlalu sore, kami harus berhadapan dengan penerangan yang sama sekali tak ada ketika memasuki gang-gang kecil menuju Desa Pegajahan. Tentu saja selain jalanan yang sempit dan berlubang.

Sebelumnya, teman saya sudah menghubungi Mangku I Wayan Giyo, Pemangku Adat umat Hindu di desa itu. Teman saya ini, sudah pernah ke sana sekali. Dan berjanji akan kembali ke desa itu untuk melihat bagaimana upacara Tilem dilakukan.

Sesampainya di sana, kira-kira pukul setengah delapan malam, kami terlebih dulu menyambangi rumah Pak Giyo, yang sehari-harinya bekerja sebagai petani. Tapi, kami tak bertemu dengannya. Ada Nyoman Dharmanitia yang menyambut kami di sana, putra bungsu Pak Giyo.

Dandanan Nyoman persis pegawai bandara di Ngurah Rai Airport. Udeng terikat rapi di kepala, dan sekuntum bunga kamboja putih tersampir di telinga kanannya. Di pinggulnya juga terikat rapi kain Bali.

“Pak Giyo-nya ada, Mas?” kata kawan saya.

“Oh, beliau sudah di Pura,” sahut Nyoman, meski secara samar, dengan logat Bali.

“Loh, upacaranya sudah dimulai ya?” tanya saya.

“Belum, Mas.”

Benar juga. Pasti upacaranya belum dimulai, karena Nyoman yang berpakaian rapi saja masih di rumahnya. “Mas-nya mau ke sana juga ya?”

Setelah pamit pada Nyoman, kami langsung singgah di Pura Panataran Dharmaraksaka, tempat upacara Tilem akan segera dimulai. Pura itu gelap dari luar. Tapi ketika masuk, kami langsung bisa melihat Mangku I Wayan Giyo tengah duduk di depan lima orang lainnya sambil komat-kamit membaca mantra. Menangkap kehadiran kami, ia tersenyum memanggil kami, mempersilakan masuk. Sambutan hangat itu membuat saya pribadi langsung nyaman berada di tempat yang baru kali itu saya sambangi.

Pura ini tak terlalu besar, ketimbang pura yang pernah saya singgahi di Bali. Ukiran-ukirannya juga tak seribet ukiran pura yang pernah saya lihat. Malah, ada ukiran sulur khas melayu di depan gerbangnya. Namun, suasana religius langsung kental terasa. Persis perasaan yang sama saat kita menapakan kaki pertama kali ke Tanah Dewata. Padahal mereka hanya berenam di dalam sana. Dua orang pria, termasuk Pak Giyo. Dan empat orang wanita baya yang berpakaian cantik dengan kebaya.

Pak Giyo yang berpakaian serba putih baru memulai upacara Tilem setelah Nyoman datang. Malam itu, upacara Tilem di Desa Pegajahan hanya diikuti oleh tujuh orang jemaah. Hal ini bagi saya cukup menggambarkan betapa minoritasnya kelompok ini di desa mereka.

Sebelum memulai upacara, Pak Giyo yang merupakan Pemangku Adat berkeliling ke setiap sudut pura untuk menghidupkan lentera kecil, lalu memercikan air suci yang ada di sebuah patung kecil di tiap sudut. Sementara keenam orang lainnya, duduk di tengah pura, menghadap ke sebuah patung paling besar di pura itu, bernama Padmasana.

Setelah selesai melakukan ritual kecil itu, Pak Giyo duduk di depan jemaah lain. Istrinya, yang juga hadir malam itu, mengambil tempat di sampingnya. Kemudian, mereka semua berdoa. Mengucapkan puji-pujian dalam bahasa Bali.

Suasana hening. Hanya ada komat-kamit doa mereka yang membentuk ritme sendiri karena diucapkan dengan begitu cepat. Ketenangan membungkus atmosfer yang ada di pura itu. Meski tak banyak, mereka tetap khusyuk dalam beribadah. Benar-benar sebuah pemandangan yang mendamaikan hati.

Meski Migrasi, Tapi Tak Lupa Tradisi

Setelah melakukan upacara Tilem, Pak Giyo memanggil kami untuk bergabung ke tengah pura, tempat mereka duduk menghadap Padmasana. Kami berdua diundangnya untuk makan bersama. Makanan yang ada adalah makanan yang dibawa oleh para jemaah, sebagai hadiah atau persembahan kepada Dewa atas rejeki yang telah diberikan. Ada nasi gurih yang dibungkus daun pisang, roti, jeruk, pisang, dan kue-kue.

Di malam itu, kami beruntung karena bertemu Nengah Sumadi dan istrinya. Di antara tujuh jemaah yang hadir, Nengah, istrinya dan seorang Nenek yang lebih banyak tersenyum dan berdiam diri adalah orang asli Bali gelombang pertama yang migrasi ke desa itu.

Dari cerita Nengah, kami tahu bahwa ada sekitar 53 keluarga yang dikirim dari Bali ke Desa Pegajahan pada tahun 1962. Mereka adalah buruh kontrak yang dipekerjakan di PTPN II. Namun, pada tahun 1972, sebagian besar pendatang itu kembali ke Bali. Hingga tak banyak lagi yang menetap di Desa Pegajahan.

Bagi Nengah yang yatim-piatu sejak kecil, pilihan melanjutkan hidup di Desa Pegajahan adalah hal yang tepat. Ia bukannya tak keluarga lagi di Bali sana, apalagi keluarga dari istrinya masih lengkap. Tapi, pilihannya untuk bekerja di sini karena keinginginannya untuk hidup merantau.

Sementara I Wayan Giyo, yang merupakan generasi kedua, menganggap Desa Pegajahan adalah rumahnya kini. Adiknya ada yang tinggal di Bali. Tapi baginya, punya keluarga di sini berarti harus menjalaninya di sini. Pergi ke Bali, baginya, biarlah dihitung sebagai liburan saja.

Kini, di Desa Pegajahan sendiri hanya tersisa 11 keluarga yang beragama Hindu. Itulah sebab upacara Tilem malam itu hanya dihadiri oleh 7 jemaah. Pak Giyo bilang, biasanya bisa sampai 15 orang tapi memang ada yang sakit dan mungkin ada urusan lain.

Perkara sedikitnya kelompok ini, Pak Giyo berkata tak perlu ada yang ditakutkan. Ia bilang, kalau sampai nanti tidak ada lagi orang Hindu yang tinggal di sini, perawatan pura akan diserahkan kepada pemerintah agar dijadikan cagar budaya.

Baginya yang terpenting adalah menjalankan hidupnya dengan agama sebaik-baiknya. “Dan yang terpenting adalah menjaga tradisi,” pungkas Pak Giyo.