Chris Angkasa, Awakening Startup for the City

Browse By

Penulis & Fotografer Parada Muqtadir Siregar

Mungkin sebagian dari kita masih tak begitu bersahabat bila mendengar kata startup, belakangan istilah ini pun mulai marak berbarengan dengan riuhnya layanan jasa berbasis aplikasi. Namun  Chris Angkasa sudah bergelut dengan dunia startup sejak 2010 silam, Angel Investor adalah yang pertama ia kerjakan.

Kini usai mensubsidi 8 perusahaan yang semuanya berada di Pulau Jawa, lulusan Imperial College London ini mencoba peruntungan lewat bisnis co-working, “Awalnya di tahun 2013 pertama kali saya ditawari untuk membuat co-working ini, namun saya mundur karena merasa Medan belum siap untuk ini,”ucapnya memulai percakapan siang itu (6/2)

Untuk diketahui co-working space merupakan konsep bisnis yang baru, yang menyediakan sebuah tempat atau ruang untuk bekerja (kantor) yang digunakan secara bersama-sama dengan berbagai  akomodasi yang ada untuk memenuhi kebutuhan para penggunanya. Berbeda dengan virtual office yang lebih bersifat individu, co-working  ini lebih bersifat terbuka.

Ia pun berbagi cerita, bahwa menjalani bisnis co-working bukan perihal ramah-temeh, “Tidak seperti bisnis restauran, dimana bulan ketiga sudah cash flow, sedangkan co-working harus menunggu hingga bulan ke-11,” cerita dia dengan begitu antusias. Tercatat kini sudah ada 79 co-working di seluruh Indonesia.

Akhirnya diawal tahun 2016, Investor Brodo ini memberanikan diri untuk membuka Clapham Collective. “Tugas pengusaha co-working ditahun pertama harus mengindentifikasi siapa komunitas mereka dan sounding keberadaan,” ungkapnya.

Seiring berjalan waktu, kini Clapham berhasil menciptakan sebuah lingkungan berbasis komunitas, serta menjadi tempat berkumpulnya para startup lokal. “Co-working itu bukan sekedar tempat, intinya yang membuat kita hidup adalah komunitas, untuk itu kita harus fokus dan habis-habisan,”pungkasnya.

“Saat ini banyak anak muda yang belum tahu apa itu startup, padahal ini dunia mereka, jadi saya merasa banyak tugas untuk mengedukasinya,” tambahnya.

Boleh dibilang ia sukses menyuntik hasrat anak muda di Medan, untuk terjun ke dunia yang sarat akan tantangan ini, namun ada kebiasaan yang dikhawatirkan. “Victim mentality itu yang bahaya, orang berpikir tidak bisa membangun start-up karena di Medan, karena internet lambatlah, itu pula yang membuat kita tidak mau berusaha,” ucapnya.

Medan punya beberapa konsep startup, riuh diawal namun berakhir teragis, macam Becak Online, ia pun punya penilaian tersendiri “Saya merasa konsep ini bisa menjadi sesuatu, minimal diakuisisi Go-Jek, masalahnya dibudaya startup harus terus belajar, mengulang-ngulang untuk beradaptasi sehingga menemukan solusi terbaik,”tuturnya.

“Dalam dunia startup kegagalan bukan hal asing, contohnya saja Natali Ardianto, dia yang sudah beberapa kali membangun bisnis, akhirnya meraih sukses di  Tiket.com,”tambahnya.

Sebelum menyudahi percakapan, ia sempat menyertakan petuah bagi yang hendak menekuni dunia startup, “Menjadi startup itu harus sedini mungkin, karena kalau gagal diusia muda yang menderita hanya diri sendiri, tapi kalau sudah punya istri dan anak kebayangkan? Jadi pembelajaranya itu semakin tua akan semakin mahal,” tutupnya.

Related Post