Cerita Salah Kaprah Bubur Pedas di Masjid Raya

Browse By

Penulis & Foto: Aulia Adam

Sebenarnya ia hanya bubur sup biasa; nasi yang dimasak dengan air berlebih dicampur kentang, wortel, daging dan sedikit garam. Tapi orang-orang menyebutnya Bubur Pedas, padahal Bubur Pedas tak sesederhana bubur sup. Jadilah ia bubur ‘salah kaprah’.

“Pak, sudah boleh diambil?” tanya Yuliana, seorang Ibu Rumah Tangga berumur 52, pada seorang pria yang sedang mengisi puluhan piring dengan penganan semacam bubur.

“Nanti ya,” jawab si Bapak.

Lantas, Yuli kembali ke tempat keluarganya duduk menunggu waktu berbuka di halaman Mesjid Raya Medan. Ia datang bersama suami dan cucunya. Mereka jauh-jauh datang dari Pasaman Barat, Padang, Sumatera Barat ke masjid tersebut untuk menyicipi Bubur Pedas yang namanya sudah tersohor.

Bubur Pedas merupakan penganan khas Melayu yang umumnya hanya ditemukan saat Ramadan di penjuru Sumatera Utara. Warnanya kuning. Dibuat dari pelbagai umbi-umbian dan bumbu rempah khusus yang pembuatannya memakan waktu lama.

Pertama kali Yuli mencobanya sekitar 4-5 tahun lalu. Saat itu tetangganya, orang Melayu yang berasal dari Tanjung Pura, Sumatera Utara membawakannya oleh-oleh Bubur Pedas. “Awalnya saya tidak suka melihat tampilannya yang aneh. Tapi pas sudah dicoba, ternyata rasanya enak. Tidak pedas seperti namanya sih,” katanya.

Untuk itu, pada Ramadan kali ini Yuli dan suaminya menyempatkan waktu untuk singgah di Masjid Raya Medan khusus ingin berbuka dengan Bubur Pedas yang menjadi ciri khas masjid tersebut.

Masjid Raya Medan dikenal sebagai salah satu Masjid di kota Medan yang menyediakan Bubur Pedas gratis sebagai makanan berbukanya tiap kali Ramadan. Tradisi tersebut sudah ada sejak zaman Kesultanan Deli masih berjaya.

Bubur Pedas memang kini susah dijumpai, menurut Yuli. Di Padang bahkan tak ada yang menjual. Ia bilang, pernah lihat di televisi, kalau Masjid Raya Medan menyediakan Bubur Pedas untuk menu berbuka puasa. Namun, saat bubur waktu berbuka hampir tiba, dan seluruh pengunjung selesai berebut Bubur Pedas yang disediakan panitia di sebuah meja khusus , Yuli menelan kecewa. “Bubur pedas yang saya pernah makan tidak begini warnanya. Beda sekali,” tambahnya.

Bubur yang diterima Yuli dibuat dari beras dan dicampur dengan kentang, wortel, daging, kurma dan anyang, semacam salad yang menggunakan tauge dan bunga buah pepaya.

Haji Zulkifli, pria yang tadi ditanyai Yuli mengaku kalau yang sekarang dibagikan Masjid Raya Medan sebagai penganan berbuka tiap kali Ramadan memang bukanlah Bubur Pedas. Pria berusia 61 tahun ini menjelaskan, tradisi berbuka dengan Bubur Pedas yang asli memang sempat dilakukan beberapa tahun di awal berdirinya Masjid. Namun karena peminatnya yang kian banyak dan proses pembuatan Bubur Pedas yang asli jauh lebih sulit, tradisi tersebut berganti. “Bubur yang dibagikan di sini itu sebenarnya bubur sup biasa,” tambah Zulkifli.

Tak jauh dari Masjid tersebut, masih di kawasan sekitar depan Istana Maimun, Tengku Khaira seorang ibu rumah tangga berusia 54 tahun menjual Bubur Pedas yang asli. Ia merupakan adik Ipar dari Tuanku Sultan Muda, keturunan langsung Kesultanan Deli.

Khaira mengaku, penjual Bubur Pedas yang asli memang agak sulit ditemui di Medan, walaupun Medan dikenal sebagai pusat tempat penganan khas Ramadan ini beredar. Cara membuatnya susah dan lama. Tak banyak orang zaman sekarang yang sabar meraciknya.

Ada sekitar 44 macam bahan baku isi Bubur Pedas. Umbi-umbian seperti kentang, wortel, ubi jalar. Ada pula pisang mentah, tauge, jagung muda dan beberapa jenis lainnya. Semuanya terlebih dahulu dipotong dadu dengan ukuran sama, kira-kira 1×1 sentimeter untuk kemudian direbus.

Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk membuat bumbu khusus sebagai perencah bubur. Bumbu ini yang nantinya akan dicampurkan dengan bahan-bahan yang telah direbus tadi. Konon ia terbuat dari 99 macam jenis rerempahan yang dijemur lalu dihaluskan. Lebih susah lagi membuat bumbunya. Bahan-bahannya sangat banyak.

Sampai ada istilah ‘terbuat dari 99 macam rerempahan’ saking banyaknya. Di antaranya, ketumbar, merica, cengkih, kayu manis, lengkuas, serai, jintan putih, daun jeruk, kapulaga, daun pegagah, temu mangga, temulawak, daun mangkok, kunyit, kincung, daun sikentut dan lainnya. Untuk bumbunya sendiri, Khaira membutuhkan waktu seminggu untuk meraciknya. Menurut Khaira, mencari bahan-bahannya yang susah, dan tak semua orang zaman sekarang mau serepot itu.

Karena hal itu pula, Khaira hanya mampu membuat 3 dandang besar Bubur Pedas untuk dijual setiap harinya. Namun Khaira tak pernah kecewa karena dagangannya selalu terjual habis. Menurutnya, memang banyak orang yang mencari Bubur Pedas. Apalagi Bulan Ramadan begini.

Salah satunya Siti Bainun, 43 tahun. Ia sudah bertahun-tahun menjadi penggemar Bubur Pedas. “Setiap Ramadan saya memang khusus mencari Bubur Pedas untuk makanan berbuka keluarga saya,” katanya. Ia sepakat dengan Khaira tentang pembuat Bubur Pedas yang sudah jarang ditemui di Medan sendiri.

Menurut Bainun, yang merupakan orang Melayu asli, pembuatan bumbu yang rumit memang menjadi kendala tersendiri bagi ketenaran bubur ini. Meski jarang ditemui, Bainun mengaku punya banyak kenalan yang bisa membuat Bubur Pedas. Tapi, para penjual baru akan membuatnya kalau ada pemesan saja. Sehingga memang susah jika ingin mencicipi masakan khas Melayu ini di hari-hari biasa.

Namun Bainun kecewa pada masyarakat Medan yang masih menyebut bubur sup di Majid Raya Medan sebagai Bubur Pedas. “Sudah jelas beda begitu, masih saja dibilang Bubur Pedas,” katanya kecewa. Menurutnya, hal tersebut bisa mengancam eksistensi Bubur Pedas yang asli.

Related Post