Beribu Kisah Di Museum Perjuangan TNI

Browse By

Penulis : Tika Anggreni | Foto : Aidil Syahputra

Kisah-kisah pilu bahkan haru semasa perjuangan tidak akan pernah hilang selama segala peninggalan sejarah tersebut baik benda maupun kenangan masih terjaga dengan baik. Kehadiran museum layaklah untuk disyukuri. Sebagai generasi masa kini, walau sudah 69 tahun merasakan hasil perjuangan itu, tak pantas rasanya membendung semua kisah dan sejarah perjuangan yang mengantarkan rakyat Indonesia menghirup udara kebebasan.

Kisah-kisah itu masih diceritakan oleh Museum Perjuangan TNI Medan. Museum ini menyimpan catatan, benda, gambar, bahkan debu-debu masa perjuangan kemerdekaan. Setiap benda yang dilestarikan dalam museum ini, memiliki kisah dan cerita. Benda-benda ini bercerita, bahwa tak mudah untuk bebas dan merdeka, para pejuang hanya memiliki pilihan, merdeka atau mati!

Museum Perjuangan TNI atau sering disebut dengan Museum Bukit Barisan menyimpan berbagai benda bersejarah peninggalan ABRI dan rakyat Sumatera Utara. Walau didominasi dengan senjata-senjata yang digunakan untuk berperang, museum ini juga menyimpan benda-benda lainnya seperti alat-alat kesehatan, obat-obatan dan pakaian para pejuang.

Sebelum menjadi museum, gedung ini pernah digunakan oleh pemerintahan Belanda sebagai kantor asuransi NV Levensverzekering Mattschappij “Arhnehen”. Gedung yang terletak di jalan Zainul Arifin No 8 Medan ini juga pernah digunakan oleh pemerintahan Jepang sebagai Markas Kementai Jepang ada tahun 1942. Selanjutnya, setelah proklamasi kemerdekaan gedung ini difungsikan menjadi Markas Komando Teritorium I. Pernah pula, sejak tahun 1959-1971 bangunan dialihfungsikan sebagai kantor Kodam I/BB.

Setelah itu, bangunan ini diresmikan sebagai museum Bukit Barisan oleh Pangdam II/BB Brigdjen TNI Leo Lopulisa. Dalam perkembangannya museum ini dipugar dan diresmikan kembali pada tahun 1996 oleh Mayor Jenderal TNI Sedaryanto sebagai Pangdam I/ Bukit Barisan.

Tampak dari depan, museum yang berwarna hijau ini dikelilingi dengan dua buah meriam di depan gedung dan sebuah tugu api berlatar bambu runcing di sebelah kiri. Meriam tersebut adalah Meriam Orlikon Kaliber 20 MM asal Swiss dan sebuah meriam buatan Belanda tahun 1851. Tugu api, melambangkan keberanian dan latar bambu runcing yang menyatu melambangkan kesatuan.

Memasuki Museum dari depan, ada relief yang menceritakan tentang perjuangan masyarakat Sumatera Utara dalam melawan Belanda. Salah satunya adalah Perang Medan Area. Koleksi museum lantai satu, berisikan senjata, proyektor, kamera, lukisan-lukisan sejarah serta alat-alat kesehatan hingga pakaian perang para pejuang.

Banyak benda yang tampak menyiratkan kisah. Salah satunya, Bendera Merah Putih yang dikibarkan pertama kali pada tanggal 4 Oktober 1945 di lapangan Fukuraido atau sekarang disebut Lapangan Merdeka. Ada pula baju seragam lengkap dengan topinya yang digunakan oleh A. Manaf Lubis dan Djamin Ginting untuk berperang. Pakaian yang menjadi koleksi museum ini tampak sudah lusuh lengkap dengan bercak-bercak getah yang sengaja ditempelkan untuk mengelabui musuh.

Untuk jenis senapan, ada senapan Locok atau sering disebut senapan Tunggu Dulu, senapan ini adalah senapan sederhana yang digunakan untuk menghadapi Agresi Militer Belanda I-II, Perang Gerilya dan Front Medan Area. Ada pula Meriam Tomong, senjata yang digunakan untuk mempertahankan kemerdekaan RI. Meriam ini berasal dari tiang listrik yang dikerjakan di bengkel berat Pulau Brayan Medan pada tahun 1946. Suara meriam ini sangat keras walau memiliki daya luncur yang kurang. Meriam Tomong menjadi senjata di areal pertempuran Medan Area.

Selain itu, kita dapat menemukan foto-foto hitam putih yang menggambarkan kisah perjuangan masa lampau. Kita akan tertegun melihat bambu runcing, sejenak kita akan berpikir, bambu runcing adalah senjata sederhana yang turut memberi kemenangan masa itu.

Terdapat pula alat-alat kesehatan tradisional yang digunakan tim kesehatan di masa peperangan. Alat sederhana dengan obat-obatan tradisional pula. Perban yang terbuat dari pelepah pisang, hingga rempah obat-obatan yang telah dikeringkan dan dihaluskan. Obat-obatan tersebut adalah kulit Kina untuk mengobati malaria, kulit batang Langsat, kulit batang Manggis, Arang Kayu untuk obat diare, kayu manis untuk mengobati batuk. Daun sirih digunakan untuk mengobati luka di rongga mulut.Belerang biasanya digunakan untuk penyakit kulit, sedangkan sarang Lawa-Lawa digunakan untuk menghentikan pendarahan.

Teknologi zaman dulu juga dapat ditemukan, walau memang tak dapat lagi digunakan. Terdapat proyektor film Leitz Hektor, yang biasanya digunakan oleh TNI semasa Agresi Militer Belanda I-II untuk menampilkan video-video yang berhasil diliput oleh seksi penerangan untuk mengobarkan semangat juang patriot-patriot bangsa.

Ada pula Mesin Ketik Royal yang digunakan untuk mengetik opini massa dan berita perkembangan sistuasi terbaru sehingga pasukan garis depan dapat mengetahui perintah dan situasi. Mesin ketik Royal inilah yang pernah digunakan dalam perjuangan menghancurkan pemberontakan PRRI di Tapanuli. Dengan Mesin Ketik Daito digunakan pula untuk menulis berita tertulis yang disebarkan diseluruh penjuru Sumatera Utara. Mesin Ketik Daito ini adalah rampasan Laskar Rakyat saat merebut tangsi militer Jepang di Marindal, Medan.

Berbagai jenis munisi dan granat juga disimpan dalam museum ini, lengkap dengan penjelasan untuk pemakaiannya. Koleksi uang kertas rupiah juga dipamerkan dalam ruangan yang berukuran tak terlalu besar itu. Selain itu, kita dapat pula melihat bentuk dari tanda pangkat TNI AD dari tahun ke tahun.

Lantai dua lebih banyak berisikan senjata, mulai dari senjata ringan hingga senjata berat. Semua senjata tersebut digunakan selama masa perjuangan. Benda-benda dalam museum ini kebanyakan memang dikumpulkan dari masa perjuangan dulu, selain itu keluarga para pejuang dengan rela hati pula memberikan peninggalan keluarganya untuk dijaga dalam museum ini.

Museum perjuangan TNI juga menyimpan bendera masing-masing kesatuan TNI dari berbagai daerah yang dikumpulkan serta dikibarkan di salah satu ruangan museum.Ada bendera Prajurit Setia dari daerah Namo Sira-Sira, ada pula Tri Daya Cakti (Asam Kumbang), Kilap Sumagan, Dhira Dharma, Wira Bhuana Yudha (Binjai), Lila Wangsa (Aceh), Dharma Jaya (Aceh), Pantai Timur (Pematang Siantar), Rajawali, Simbisa, Kawan Samudra (Sibolga) dan Macan Kumbang(Galang) , Kala Cakti (Kisaran), Wira Braja (Padang).

Tak dipungut biaya untuk mengunjungi museum ini, namun diperkenankan jika pengunjung ingin memberikan donasi rela hati. Demikianlah museum ini menceritakan kisah patriotisme. Seperti kata pepatah, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Bangsa Indonesia, bangsa yang berani! begitulah kiranya jiwa kebangsaan bergelora setelah mengunjungi museum perjuangan ini.