Ahmat Faury: Menerabas Keterbatasan

Browse By

Teks: Elsa Toruan I Foto: Parada Al Mutaqdir

Menjadi seorang difabel bukan berarti harus menyerah pada nasib dan hidup dalam belas kasihan orang selamanya. Ahmat Faury, S.HI,L.L.M mengajarkan kepada kita bahwa kerja keras dan tekad yang kuat tidak akan pernah mengalahkan keterbatasan yang ada.

Laki-laki kelahiran Dusun I Desa Pematang Guntung, Teluk Mengkudu, Serdang Bedagai, Sumatera Utara ini merupakan dosen Ilmu Hukum dan Pidana di Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU). Kecintaannya terhadap dunia pendidikan, mampu mengalahkan keterbatasan yang dialami oleh bungsu dari 7 bersaudara ini.

Kisah perjuangannya telah berawal sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Ahmat Faury kecil dilahirkan dengan kondisi fisik yang jauh dari sempurna. Tidak memiliki tangan dan juga kaki yang bunting sebatas betis. Namun, kondisi tersebut justru membuatnya menyadari bahwa keterbatasan hidup tidak akan pernah mampu menghalangi mimpi-mimpinya untuk merajut dunia pendidikan setinggi mungkin.

“Hambatan dan kendala itu pasti ada. Namun,bukan berarti harus memaksa kita untuk menjadi putus asa lalu menyerah. Justru itu yang menjadi semangat saya untuk bangkit lagi dan berjuang untuk hidup.” Tuturnya saat bercerita.

Bukan hanya menghadapi keterbatasan fisik, Ahmat Faury pun harus menerima kenyataan bahwa keenam saudaranya tersebut meninggal dunia saat ia masih kecil. Namun hal ini tidak juga membuat hatinya tawar. Ia justru semakin getol untuk membahagiakan kedua orang tuanya yang ia anggap sangat berjasa dalam kehidupan dan pendidikannya.

Bagaimana tidak, sang ibu tetap gigih mencari sekolah dasar umum bagi anaknya setelah mendapat tiga kali penolakan, tidak akan pernah dilupakan oleh laki-laki kelahiran 11 Oktober 1983 ini. Baginya, hidup adalah perjungan untuk meniti pendidikan setinggi-tingginya dan melawan stigma negative atas kondisinya yang difabel, karena terpuruk dan menyerah pada keadaan justru hanya memperburuk keadaan dan tidak mengubah appun.

Ia dididik dan dibesarkan di lingkungan umum, yang sedikit banyak, membentuk karakter dan ketabahan hatinya. Pilihannya hanya satu, yakni menabahkan diri dan menunjukkan eksistensinya melalui karya.

MINIM FASILITAS RAMAH DIFABEL

Sebagai seorang difabel, Ahmat Faury sangat fokus pada fasilitas publik yang ramah akan difabel. Sayang, kenyataannya saat ini, sangat minim fasilitas di Kota Medan bagi penyandang difabel. Saat ini, Ahmat Faury juga sedang giat menggalakkan implementasi UU No. 8 Tahun 2016 sebagai langkah awal menuju dunia kerja Sumatera Utara yang ramah akan disabilitas.

“Kami, kaum difabel, itu sangat membutuhkan fasilitas-fasilitas itu. Saat ini saja saya masih kuat untuk naik turun tangga menggunakan lutut. Tapi, nanti, saat saya sudah tua dan sudah memiliki kondisi fisik yang lemah, berdiri saja sudah tidak sanggup, apalagi berjalan dan sampai harus naik turun tangga. Karena itu sangat dibutuhkan fasilitas-fasilitas di lingkungan umum yang ramah akan kaum disabilitas.” paparnya.

SEMPAT TERPURUK SAAT KEPERGIAN ORANG TUA

Orang tua menjadi sosok paling berpengaruh bagi Ahmat Faury. Sekalipun dibesarkan di lingkungan sederhana, karena sang ayah yang berprofesi sebagai nelayan dan sang ibu berjualan sarapan pagi, tetapi kerja keras dan usaha kedua orang tua baginya tidak akan mampu dilupakannya.

Saat mengambil pendidikan S2 di UGM, tepatnya tahun 2008, Faury harus menerima pahitnya ditinggal pergi oleh Sang Ibu selamanya. Sebelumnya, pada tahun 2006, sang ayah telah terlebih dahulu pergi meninggalkan ia dan Ibu. Karenanya, kesedihan Ahmat Faury semakin mendalam saat ia mengetahui bahwa kini ia hidup sebatang kara. Beruntung, dukungan dari teman-temannya berhasil mengembalikan semangat Ahmat Faury lagi. Faury pun berhasil menamatkan pendidikan S2 dan kembali ke Kota Medan untuk mengabdi menjadi dosen di UINSU.

Bagi Faury, tidak ada hal yang lebih membahagiakannya selain mengajar dan membagikan ilmu juga motivasi kepada seluruh mahasiswanya. Untuk saat ini hingga beberapa tahun kedepan, Faury mengungkap bahwa ia tetap akan menjalani profesi ini.