56 Tahun Bank Sumut Peduli UMKM, Dedikasi untuk Negeri

Browse By

Penulis & Fotografer Parada Al Muqtadir

Melalui jalan yang panjang, ragam kisah tentang bagaimana kesuksesan itu dibeli dengan kerja keras, Tugiman dan Edy Saputra adalah saksi peran Bank Sumut dalam pemberdayaan sektor UMKM. Di tengah melimpah ruahnya pengangguran bertitle sarjana, saat dimana ekonomi kian lesu, hingga tak terhitung berapa banyak perusahaan yang telah gulung tikar. Tapi entah mengapa bisnis yang berlandaskan Usaha Mikro Kecil dan Menengah seakan tak terpengaruh.

Lihat saja bisnis budidaya ikan hias milik Tugiman, banyak orang yang remeh temeh akan usaha ini, beranggapan bisnis yang tak menjanjikan. Siapa sangka bisnis yang dimulai sejak tahun 1989 ini telah beromset puluhan juta. “Awalnya saya hanya membudidayakan ikan mas bersamaan dengan menanam padi (red:mina padi), tak lama berselang mantan bos saya menawari untuk coba budidaya ikan hias, saya beranikan untuk ambil kesempatan, dan alhamdulilah bisa sampai seperti saat ini,” cerita Tugiman siang itu (3/11).

Rantau Prapat, Pekanbaru hingga Batam adalah wilayah yang sudah disesaki ikan hias miliknya. Mulai dari ikan kumpai, ikan comet, ikan mas koki sampai yang paling laris ikan koi. Untuk harga pun bervariasi, semua tergantung jenis ikan dan ukurannya “Saat ini untuk bibit pun sudah kami jual, hingga ikan yang berusia 90 hari, semakin lama usianya harganya pun semakin tinggi, apalagi ikan indukan,” tambahnya.

Pertumbuhan usaha dagangnya cukup signifikan, walau tertatih kini ia telah memiliki luas area mencapai 1 Ha lebih di tiga lokasi berbeda, padahal diawal merintis hanya mampu menyewa. Itu lah takdir menuntun pria yang hanya merasakan pendidikan sampai kelas 3 bangku Sekolah Dasar menuju gerbang kesuksesan, sungguh usaha tak pernah mengkhianati hasil.

“Andai saya tidak dibantu dalam modal untuk mengembangkan usaha oleh Bank Sumut, mungkin saya tak menjadi apa-apa saat ini,” sahutnya saat ditanya apa peranan bank daerah kebanggaan Sumatera Utara itu.

Usaha ini pun coba ia tularkan pada anak-anaknya, walau tak mudah untuk mengikuti jejak sang ayah, tapi kini tiga orang anaknya telah sukses membuka usaha budidaya sendiri-sendiri “Sutinah, anak saya perempuan saya kini sudah punya area kolam sendiri untuk budidaya, begitu pun anak saya yang sedang melakukan dinas di daerah Tebing, lebih serius menekuni usaha ini,” terangnya.

Ia pernah diutus ke Jakarta mewakili Deli Serdang, pemerintah melalui Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) menetapkan usahanya sudah dalam kategori mampu, lalu diajak kerja sama oleh negara untuk melatih anak bangsa.

Saban hari, usaha ini mampu mendistribusikan 10 dus, setiap dus-nya berisi 400-500 ekor ikan, tergantung besar kecilnya ukuran ikan. Agen yang tersebar disetiap daerah adalah roda dalam bisnisnya ini, “Saya jual harga grosir, tidak boleh mahal biar saja agen menjual harga lebih mahal dari kita, yang penting permintaan tetap stabil,” akunya.

Bisnis Tiga Generasi

Usai melewati hamparan hijau padi, dan menerabas jalanan tanah tak beralaskan aspal, sampailah di sebuah rumah dengan bentangan Alen-alen. Desa Pasar V Kebun Kelapa Kecamatan Beringin memang jauh dari keriuhan kota.

Tak hanya Tugiman yang boleh berjaya, Edy Saputra juga punya cerita prestisius akan perjalanan usahanya. Memasuki generasi ketiga setelah sang kakek dan ayah-nya, apalagi usaha ini sudah ada sejak tahun 1987, beban itu pun kini tertumpu dipundaknya.

Satu demi satu tampak para pekerja tekun mengupas ubi kayu sebagai bahan dasar, sedikit mengalihkan pandangan tampak telaten orang yang membolak-balik Alen-alen sedang dijemur.

“Hampir semua ibu-ibu yang ada dilingkungan sekitar, ikut membantu produksi sebagai pekerja harian, tak dipungkiri usaha ini membantu meningkatkan pendapatan mereka, dari pada dirumah tidak melakukan apa-apa,” ucap Edy sembari asyik menjemur.

Dalam sehari mampu memproduksi hingga 800 Kg jika musim panas, hanya 500 Kg bila musim hujan seperti saat ini, cuaca adalah faktor penentu. Untuk harga dibanderol Rp 18.000/Kg untuk Alen-alen siap makan, dan Rp 14.000 yang masih mentah.

“Pinjaman kredit usaha yang diberikan Bank Sumut kami pergunakan untuk membeli alat-alat produksi, yang dahulu melakukan produksi secara tradisional kita mulai modern dengan packaging yang menarik, tinggal terkendala saat prosesi penjemuran saja,” tambahnya.

Untuk diketahui, Bank Sumut yang baru saja memasuki usia 56 tahun semakin bersahabat dengan pengusaha kecil menengah yang hendak melebarkan sayap, lewat Kredit Mikro Sumut Sejahtera II.

Bank Sumut Peduli UMKM

“Bila ingin menambah modal usaha guna mengembangkan usaha atau investasi, produk KMSS II adalah solusi tepat dengan proses cepat, bunga ringan dan agunan flexible, atau boleh juga menjajali Kredit Permaisuri, kredit yang diberikan melalui kelompok keuangan yang dibentuk oleh Account Officer (AO) Bank Sumut dalam suatu kelompok Keuangan Mikro (KKM) yang beranggota 20-30 orang,” terang Fadli Fanani Siregar selaku Pimpinan KCP Beringin Bank Sumut.

Meski Bank Sumut tengah serius membiayai proyek infrastruktur berskala besar atau nasional, macam proyek Tol Kualanamu – Tebingtinggi, Bank Sumut membiayai sekitar Rp 300 miliar. Bank Sumut juga tetap perhatian pada usaha kecil dan menengah (UMKM) karena jayanya UMKM bukti nyata Sumut juara.