Nafas Segar dari Selat Malaka

Browse By

Penulis : Aulia Adam | Fotografer : Andru Kosti

“Music doesn’t lie. If there is something to be changed in this world, then it can only happen through music.” – Jimi Hendrix

P4210303eFINAL

Berawal dari pertemuan Albert dan Leo di November 2013 silam, cikal bakal  band ini mulai dibentuk. Waktu itu, Leo mendatangi Albert untuk memperdengarkan lagu baru yang diciptakannya. Albert sendiri adalah anggota band Candles and The Moonlight yang namanya sudah terkenal di Medan. Sehingga Leo percaya kalau materi lagu yang dibawanya bisa jadi sesuatu yang lebih di tangan mereka berdua.

Setelah mendengar lagu berjudul Tentang yang Selalu Ada tersebut, dugaan Leo ternyata jitu. Albert menyukai materi yang ditawarkan Leo. Menurutnya lirik dan musiknya sangat segar. Terutama untuk kalangan band-band yang ada di Medan. “Lagumu bagus, sayang kalau enggak di-record,” kata Albert pada Leo.

Setelah jatuh cinta dengan materi lagu tersebut, Albert ternyata tak main-main dengan kata-katanya. Mereka mulai serius mencari personel untuk membentuk sebuah band baru. Jalan nasib memepertemukan mereka berdua dengan Jose dan Ari. Jose adalah teman lama Albert yang juga senang bermusik dan mahir memainkan drum. Sementara Ari, sang basis menjadi personel terakhir yang direkrut pada 22 Maret 2014. Mereka namai band itu, Selat Malaka.

Proses menggodok nama juga tak sembarang. Albert dan Leo sebagai former yang memang lebih senang dengan genre Jazz dan Blues ingin menamai grup musik mereka sesuai dengan genre. “Biasanya sih, band Jazz memang identik dengan nama-nama tempat atau nama orang,” ungkap Albert.

Sebelum bulat bernama Selat Malaka, band ini awalnya bertajuk Albert and Friends. Sebab ingin memaknai band mereka sesuai dengan genre musik yang ingin mereka tekuni. Namun, mereka ingin nama grup ini tak usah memakai frasa asing. Maka digantilah menjadi Tan Malaka.

Pemilihan ini tak sembarang. Leo, sang gitaris sekaligus vokal sangat senang dengan salah satu tokoh founding father negeri ini, Tan Malaka. Ia gemar dengan pemikiran-pemikiran serta karya-karya tokoh ini. Tapi, saking besarnya nama Tan Malaka, mereka akhirnya kembali mengganti nama band ini menjadi Selat Malaka. Alasannya? Sebab nama Tan Malaka sungguhlah besar, dan tak ingin jadi beban bagi band mereka. “Takutnya, apa yang kita (Selat Malaka –red) mainkan, malah tidak mencerminkan kehebatan nama itu,” kata Albert.

“Akhirnya, aku yang ganti lagi namanya. Jadi Selat Malaka,” celetuk Leo. “Awalnya sih menuai kecaman,” tambah Leo sambil tertawa. Tapi akhirnya semua personel setuju. Sebab nama Selat Malaka mencerminkan nama Indonesia yang kental. “Nama band-band jazz Indonesia di zaman dulu juga kebanyakan pakai nama-nama daerah di Indonesia, misalnya Krakatau, bandnya Indra Lesmana,” tambah Albert. Akhirnya, nama inilah yang mereka anggap sebagai nama yang paling pas menginterpretasikan visi dan misi band mereka. Nama Selat Malaka juga dianggap dengan identik dengan Sumatera, pulau asal para personel dilahirkan.

Start From Various Genres, Now Preparing For A Mini Album

Band dengan empat orang personel ini nyatanya dibentuk dari berbagai genre. Sebagai former, Albert dan Leo memang sama-sama menyukai Jazz. Namun, Leo lebih terbuka terhadap genre lainnya. Berbeda dengan Jose dan Ari yang lebih menyenangi genre Grunge dan Punk.

P4210314FINALGenre-genre ini yang kemudian akan mereka ejawantahkan ke dalam mini album pertama mereka yang tengah digarap pengerjaannya. Namun, ketika ditanya genre apa sebenarnya yang Selat Malaka usung, mereka lebih senang disebut sebagai band bergenre Indie Jazz.

Tapi Albert bilang, Selat Malaka tak menutup kemungkinan bila genre ini akan berkembang nantinya sepanjang perjalanan karier mereka. Mereka secara keseluruhan sangat ter-influence dengan band SORE yang namanya tengah naik daun di blantika musik Indonesia.

 

Sejak resmi terbentuk dari tahun 2014, Selat Malaka sudah menelurkan sebuah single berjudul Tanpa Ruang. Debut single ini awalnya mereka tetaskan lewat media SoundCloud. Namun, antusias dari para pendengar belum begitu terasa di awal-awal lagu ini dikeluarkan. Sampai akhirnya, mereka memutuskan untuk merilis Tanpa Ruang ke radio-radio.

Keputusan ini berbuah manis. Kini Tanpa Ruang termasuk lagu favorit untuk di-request di sejumlah radio. Tak hanya berjaya di radio lokal, Medan, tapi juga sejumlah radio di Bandung. Antusias ini dirasakan luar biasa oleh para personel. Sehingga memacu semangat mereka untuk merampungkan single kedua yang katanya akan segera dirilis.

Selat Malaka kini juga tengah sibuk menggarap mini album perdana mereka yang akan dirilis akhir tahun ini. “Di dalamnya nanti ada lima lagu yang tengah kita siapkan,” kata Albert. Dalam album ini, yang bisa mereka janjikan adalah nafas segar yang akan dihembuskan band baru bernama Selat Malaka.

Related Post